Posted in Uncategorized

MENJELANG TIDUR

Nak, tiba-tiba saja Saya memikirkanmu malam ini saat insomnia menyerangku, entah karena efek kopi Aceh hadiah teman Ibumu yang baru tiba dari aceh atau mungkin pikiranku yang terlalu penat. Ibumu sudah larut dengan mimpinya disampingku dan sesekali kuusap rambutnya.

Nak, sejatinya pikiranku tetiba melesat jauh ke negara-negara di Timur Tengah yang sedang dilanda konflik. Betapa kita seharusnya berkali lipat mengucap syukur karena pada malam yang menua, kita di negeri ini masih bisa terlelap dal mimpi sedangkan mereka yang ditakdirkan menjadi penduduk di negeri nun jauh di daerah konflik pasti tidak menikmati malamnya. Mereka dibayangi oleh maut yang setiap detik bisa saja datang tiba-tiba melalui rudal, bom atau apa saja yang berupa malaikat kematian ciptaan manusia.

Mungkin juga terlalu lama membaca facebook seseorang yang menamakan dirinya belalang tempur. Dia nampaknya dari jawa Nak yang memutuskan untuk ‘Jihad’ ke Suriah. Aku tercengang dari beberapa update an statusnya yang mengatakan bahwa dia seperti berada dalam film-film laga yang dulunya sering dia tonton bahkan terkesan dia menikmati perang di sana sambil mengharapkan syahid. Hu.hu entahlah Nak apakah memang mereka sedang jihad atau apalah namanya. Nak, dipostingan terakhir fesbuknya pada april 2015 dan salah satu komen temannya bahwa dia sudah tewas dalam perang. Mungkin dia sudah menjemput impiannya Nak.

Aku memikirkan para bocah Nak. Mereka tidak tahu apa-apa namun jiwa mereka dirampas oleh perang yang sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa kecuali kehancuran disemua lini. Kehancuran psikis dan fisik.

Nak, semoga saja Negeri kita ini tetap damai. Tidak ada yang lebih indah daripada kedamaian Nak. kelak kau akan belajar banyak tentang motif apa saja yang melatari suatu kelompok saat bertikai dan kau harus tahu satu hal Nak, jangan sesekali percaya terhadap orang yang melakukan penghancuran atas nama agama, jangan percaya mereka yang seperti itu Nak. Agama itu tidak menghancurkan meski dalam keadaan perang.

Nak, maafkanlah Ayahmu ini kalau salah tafsir. Saya sejujur-jujurnya tidak sepakat dengan kelompok yang berperang dan menghancurkan apa saja dengan mengatasnamakan agama.

menurut agama yang Saya yakini sampai sekarang, setidaknya ada banyak syarat dalam berperang Nak, tidak sekedar membabi buta dengan nafsu untuk menang, bukan itu intinya Nak.

Syarat Perang dari berbagai Sumber :

  1. Dilarang melakukan pengkhianatan jika sudah terjadi kesepakatan damai
  2. Dilarang membunuh wanita dan anak-anak, kecuali mereka ikut berperang maka boleh diperangi
  3. Dilarang membunuh orang tua dan orang sakit
  4. Dilarang membunuh pekerja (orang upahan)
  5. Dilarang mengganggu para biarawan dan tidak membunuh umat yang tengah beribadah.
  6. Dilarang memutilasi mayat musuh
  7. Dilarang membakar pepohonan, merusak ladang atau kebun
  8. Dilarang membunuh ternak kecuali untuk dimakan
  9. Dilarang menghancurkan desa atau kota

Nak, nantilah jika kau cari tahu dan perbanyak refensi tentang syarat berperang dalam keyakinan kita. sampai sekarang Saya percaya bahwa tidak gampang untuk memenuhi syarat berperang Nak. perang itu bukan karena nafsu apatahlagi iming-iming mati syahid, bukan itu intinya Nak. tidak sesederhana itu masalahnya dalam berperang dan mengikrarkan perang sebagai jihad.

Alkisah, Dalam sebuah pertempuran, Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan seorang kafir. Kala itu, Ali menjatuhkan musuhnya setelah terjadi duel.

Ali kemudian menempelkan ujung pedangnya di leher orang kafir itu, dan hampir saja melukainya karena marah. Dalam kondisi terdesak, si kafir kemudian meludahi wajah Ali bin Abi Thalib dan membuatnya tercengang.

Ali kemudian menarik pedangnya menjauhi leher si kafir. Niat untuk membunuh si kafir urung dijalankan oleh Ali.

Ali lantas berkata, “Membunuhmu adalah perbuatan kurang bijaksana bagiku. Pergilah, aku tidak akan membunuhmu.”

Si kafir kemudian bertanya, “Kenapa engkau tidak membunuhku? Bukankah aku ini musuhmu?”

Ali menjawab dengan mengatakan, “Ketika pedangku berada di lehermu, saya sangat berniat membunuhmu. Tetapi ketika engkau ludahi saya, saya tersadar, jika saya membunuhmu, itu bukan karena Allah, melainkan karena saya dalam keadaan marah.”

Mendengar perkataan Ali, si kafir kemudian tertunduk dan menyungkur seraya memegang kaki Ali bin Abi Thalib. “Ajarkan aku syahadat,” kata si kafir itu sambil menangis.

Ali pun menuntun si kafir untuk mengucapkan kalimat syahadat. “Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Muhammad adalah utusan Allah,” kata Ali, yang diikuti si kafir. sumber

Di kisah lain, dikatakan bahwa kisah tersebut terjadi di perang Khandaq dan lawan dari Ali As adalah Amr bin Abd Wad al-Amiri yang pada kisah tersebut dikatakan bahwa Ali As akhirnya membunuh Amr bin Abd Wad al-Amiri setelah menunggu amarahnya reda karena diludahi. Ali As pada akhirnya membunuh lawannya karena Allah SWT.

tidak terlalu penting untuk memperdebatkan akhir kisah sejarah yang benar Nak karena inti dari kisah tersebut ketika Ali As tidak jadi membunuh lawannya karena dipenuhi amarah. Aku rasa kisah itu cukup memberikan kita pelajaran bagaimana sebuah perang yang dikatakan jihad memang berat.

ada banyak kisah tentang perang di buku sejarah Islam Nak. Aku juga pernah membaca sebuah kisah tentang seorang Sahabat Nabi yang mati di medan perang namun tidak dianggap Syahid bahkan malah dijerumuskan ke Neraka karena niatnya berperang bukan karena Allah SWT.

Nak, perang terlalu rumit. Saya yakin Islam bukanlah agama penganjur perang meski di beberapa periode perjalanannya, terjadi beberapa peperangan. Saya suka pertanyaan analogi dari kak Hamzah. Beliau senior Saya Nak di Makes dan sering menjadi referensi Saya dalam beberapa hal. semoga Saya bisa memperkenalkanmu suatu saat dengan Beliau.

Mampang Prapatan, 30 11 2015, 23:51

Posted in Uncategorized

SEJENAK MELUNAKKAN PIKIRAN

Nak, hidup ini menurut Saya tidak harus dijalani dengan serius dan bekerja terus menerus. sesekali butuh bernyanyi ria atau plesiran ke ruang terbuka sekedar untuk menghela nafas dari sesaknya kehidupan.

Nak, kemarin Aku mengajak Ibumu karaoke. semoga itu tidak termasuk perbuatan yang sia-sia. Nak Aku khawatir dengan kondisi Ibumu yang sedang mengandungmu, Aku malah mengajaknya ke tempat yang tidak bermanfaat. ah, Aku ini memang tidak pernah belajar tentang segala hal. tentang hal yang lebih esensi.

tetapi sedikit pembenaranku Nak karena Ibumu yang pengen jadi kukabulkan karena Dia sedang mengandungmu. Aku sudah berjanji Nak untuk memenuhi apa saja permintaan Ibumu namun tetap ada batasan untuk hal-hal yang membawa dampak buruk meski kuyakin juga Ibumu tidak akan meminta hal yang menurutnya tidak baik. Ibumu adalah perempuan yang tidak neko-neko.

Aku masih sedikit fleksibel jika berkenan dengan karaoke Nak karena menurutku masih bisa ditolerir meski manfaatnya pun tidak ada. Aku lebih suka mengajak Ibumu ke taman-taman di kota ini Nak.

Oh iya Nak. ruang publik seperti taman di kota ini benar-benar hal yang mahal harganya. Aku khawatir saat engkau nantinya tiba di dunia ini, semua ruang publik telah menjadi belantara gedung yang mengepung kita, mengeringkan bahkan mematikan jiwa kita.

Nak, taman bagi kami adalah oase untuk kembali menyengarkan pikiran yang suntuk dengan hiruk pikuk kota ini, taman menjadi semacam pelampiasan atas semua kuasa kota yang mengancurkan ketenangan hidup. taman yang sering kali kunjungi adalah Taman Menteng. sedikit mengikis noda yang menempel di jiwa-jiwa yang layu.

Nak, ketika kau lahir nantinya. inginku mengajakmu setiap sore duduk di taman, menceritakanmu dogeng tentang desa-desa yang asri. semoga saja beberapa taman di kota ini masih tetap bertahan dalam kelemahan mereka dari incaran para pengusaha tengik.

Nak, semoga saja tidak banyak hal yang hilang dari dunia ini saat engkau tiba. ada populasi makhluk di Bumi ini yang tidak mampu survive sampai sekarang karena rakusnya makhluk yang bernama Manusia dalam mengerus alam. Nak, spesies kita memang seringkali merusak alam ini seolah-olah semua yang ada di Bumi adalah milik mereka. kerusakan sudah terjadi dimana-mana Nak. hampir-hampir saja Bumi sudah tidak layak lagi untuk dihuni.

Nak, nanti kalau sudah bisa membaca, ada buku karya Jostein Gaarder “Dunia Anna” yang menggambarkan betapa tangan-tangan manusia bertanggung jawab terhadap kerusakan alam. Aku punya buku itu Nak dan masih tersimpan diatas lemari baju.

Mampang Prapatan, 29 11 2015

Posted in Uncategorized

TENTANG IBUMU

Anakku, akhir-akhir ini, Ibumu selalu merasa lemas. kata orang medis, syndrom itu berlaku untuk semua perempuan yang sedang hamil di semester I. Ibumu adalah wanita tangguh Le/Nduk. dia selalu bangun pagi bersiap untuk ke kantor dan pulang saat matahari sudah tenggelam. seringkali pula Dia ke luar kota untuk urusan dinas kantor. kau tahu betapa tangguhnya Ibumu Nak.

Ibumu adalah totalitas paripurna. sebagai seorang Isteri yang sedang mengandung, dia tidak pernah lalai dengan tugas kantornya. terkadang pula Aku yang “cuma” buruh di kantor finance sedih melihat Ibumu harus ikut berkeringat mencari nafkah. ah, serasa malu Anakku namun apalah dayaku ini, Ibumu mencintai pekerjaannya namun sama sekali tidak mengurangi cintanya kepada keluarganya.
Aku menjatuhkan pilihan hidupku kepada Ibumu karena melihat sikapnya terhadap Ibunya. begitu cintainya dia kepada mbah ti Eny yang membuatku percaya bahwa Ibumu adalah orang yang tepat untuk mendampingi diriku yang memiliki segudang kekurangan.

Anakku, susah untuk mendeskripsikan semua dengan kata-kata tentang kepribadian Ibumu. banyak yang tertinggal.

Rawamangun, 24 November 2015

Posted in Uncategorized

TANGISI KHILAFMU

Le/Nduk, tahu kan kenapa aku menulis judul seperti diatas?

nantinya setelah kau lahir dan bergaul dengan banyak orang, kau akan temui orang yang berbuat sesuatu yang menurut agama kita menyalahi aturan namun mereka membanggakan perilaku tersebut. secara gamblang misalnya seorang pemabuk yang suka menceritakan kebiasaannya mabuk-mabukan. ada orang seperti itu Le/Nduk, mereka tahu bahwa mereka berbuat kekeliruan dan mereka bangga.

janganlah aku dan kita semua termasuk kedalam golongan orang seperti itu Le/Nduk. setiap pagi saat berjejal dengan deretan kendaraan yang berlomba mengejar waktu, seringkali membuat pikiran untuk cepat sampai di tempat kerja. ada pilihan pintas sebenarnya yaitu menerobos jalur busway. Le/Nduk, ada rasa lega memang ketika menerobos jalur busway dan tidak harus berdesak-desakan di tengah kemacetan namun tahukah Le/Nduk bahwa disamping itu, ada pula rasa kalah. kita gagal dalam menyelami kesabaran di jalan yang seharusnya. kita mendzalimi para penumpang busway karena itu hak mereka.

aku selalu berusaha untuk tidak melewati jalur itu Le/Nduk, meski sesekali melewatinya, itupun saat Aku benar-benar sudah penat atau saat aku membonceng Ibumu sepulang dari kantor. Aku tidak tega melihat Ibumu yang harus duduk lama diatas motor dalam keadaan hamil. sekali lagi ingat Le/nduk bahwa itu sebenarnya bukan legitimasi untuk melanggar aturan. Aku salah Le/Nduk tetapi biarlah kesalahan kutanggung asalkan Ibumu cepat sampai di rumah.

Le/Nduk, untuk melegitimasi pendapatku diatas, ini ada hadits yang mudah-mudahan shahih

Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua umatku di ampuni kecuali orang-orang yang bangga atas dosanya, dan diantara bentuk membanggakan dosa adalah; seseorang yang melakukan perbuatan dosa diwaktu malam lalu di pagi harinya, dan Allah telah menutupinya, dia berkata: ‘Ya fulan, saya semalam melakukan ini dan itu. Malam harinya dalam keadaan Allah ditutupi dosanya namun pada pagi harinya dia sendiri yang membuka aibnya”. HR Bukhari dan Muslim.

itulah Nak, kita memang manusia tempatnya salah namun bukan pula justifikasi untuk selalu berbuat salah yang sama apatahlagi berbangga hati dengan kesalahan yang diperbuat.

Nak, suatu saaat kita akan belajar bersama. belajar memaknai hidup, Aku belajar menjadi Bapak sedangkan engkau belajar menjadi seorang Anak meski pada hakekatnya, kita semua belajar menjadi Manusia yang mengenal diri dan Tuhannya.

Rawamangun, 27 Nov 2015

Posted in Uncategorized

SENJA MERAYAP

Le/Nduk, aku telah berjanji untuk berbagi semua cerita di ruang ini, cerita apa saja yang bisa menjadi bahan tertawaan kita saat engkau sudah bisa membaca dan bercerita. Meski janji sudah kuikrarkan, namun apalah Bapakmu ini yang terlalu sibuk dengan hal-hal yang absurd, memelototi sosmed dan semua hal yang tidak penting.

Le/Nduk, ini cerita tertinggal kemarin sore saat aku dan Ibumu pulang kerja. Kadang-kadang aku menjemput Ibumu di tempat kerjanya ketika dia pulang malam. Seperti biasa, selepas gedung kantor Ibumu, kami melewati lampu merah perbatasan Rasuna Said dan Mampang Prapatan. Kau harus tahu kondisi jalanan disana Le/Nduk, kendaraan seperti saja mainanan yang disusun rapi. Selalu saat kami melewati jalanan itu, butuh waktu sekitar setengah jam untuk keluar dari jebakan macet yang tidak berperi kemanusiaan.

cerita itu bermula saat kami menunggu lampu hijau. seorang pemuda disamping kami mengambil bungkus rokok yang diletakkan di motornya kemudian dikeluarkan  sebatang. bukan masalah merokoknya yang ingin kuceritakan kepadamu Le/Nduk, bukan sama sekali. kau harus tahu sikapku terhadap merokok yang tidak menganggap hal tersebut dilarang meski banyak orang yang kuat ilmu agamanya mengharamkan rokok. hal yang tidak kusepakati dari anak muda diatas karena ketika menyadari rokoknya sudah habis, dengan entengnya membuang bungkus rokok ditengah jalan.

IMG_20151125_180539
Bungkus Rokok itu

Le/Nduk, maafkan aku yang sok bijak karena jika engkau mau tahu aibku, dari dulu pun aku tidak menganggap membuang sampah sembarang tempat adalah masalah besar, Ibumu pula yang berjasa mengingatkanku tentang hal yang sering manusia remehkan yaitu membuang sampah di tempatnya.

Le/Nduk, Aku mulai menyadari membuang sampah disembarang tempat adalah hal keliru ketika melihat kenyataan begitu mengerikannnya sampah yang bertebaran di kota ini. Coba bayangkan Le/Nduk jika setiap orang dengan entengnya membuang sampah seenaknya, mungkin kita sudah tenggelam dalam lautan sampah.

dulu Aku pernah berlaku seperti itu Le/Nduk tetapi Aku sekarang belajar untuk memperbaiki khilaf yang sering kuperbuat.

Mampang Prapatan, 26-11-2015

Posted in Uncategorized

TERBURU-BURU

Sikap terburu-buru itu tidak baik Le/Nduk. Bapakmu ini hampir saja celaka semalam karena terburu-buru saat pulang dari kantor. tidak ada pembenaran sama sekali dariku meski semalam Aku sudah ditunggu Ibumu dengan pesanan makanannya. namun sekali lagi Le/Nduk, itu bukan alasan bagiku untuk terburu-buru apatahlagi sedang mengendarai motor.
dua kali Aku hampir celaka Le/Nduk. pertama ketika hendak mendahului mobil, motorku terpeleset namun tidak sampai jatuh bahkan ketika di Lampu merah dekat kontrakan, motorku terseret mobil taxi yang tiba-tiba belok kiri.

Le/Nduk, terburu-buru itu hanya diperlukan oleh Para Pemburu yang sedang berada di tengah hutan mengejar buruannya. bagi kita yang sedang menjalani hidup, hanya perlu ketenangan dalam situasi apapun. Le/Nduk, percayalah bahwa jika hati kita tenang makan hidup akan berjalan sesuai jalurnya.
begitulah Le/Nduk sikap terburu-buru. Aku curiga Le/Nduk, semalam Aku tidak sampai celaka karena doa Ibumu yang mendoakan keselamatanku. itulah keajaiban sebuah doa Le/Nduk. bekerja dengan halus tanpa dirasa namun kita manusia selalu meremehkannya bahkan ada beberapa orang yang kutemui di dunia ini tidak percaya sama sekali yang namanya doa, tapi tidak apa-apa Le/Nduk. kita jangan ikut dengan mereka yang menafikan Doa. Aku dan Ibumu selalu percaya dengan doa.

Nantilah ketika kau lahir dan sudah beranjak dewasa, kita belajar banyak dari hidup. ketika menjadi pejalan hidup ke setiap sisi bumi ini. sesekali kita bersepi ria di hutan ataupun di puncak gunung kemudian membandingkan dengan kehidupan tengik yang ada di kota. banyak yang bisa kita tertawakan di dunia ini Le/Nduk. Aku pastikan kepadamu bahwa hidup di dunia ini seru Nduk. namun untuk sementara, bersabarlah dan nikmati alam rahim di dalam tubuh Ibumu, jaga selalu dirimu dan juga Ibumu.

Pulogadung, 25 Nov 2015

Posted in Uncategorized

RS EVASARI

Le/Nduk, Sabtu lalu Aku dan Ibumu memutuskan untuk konsultasi ke Dokter kandungan di RS Evasari. keputusan ini kami ambil setelah Ibumu melakukan tespack dan hasilnya positif hamil. Kami senang tentunya Le/Nduk namun kami berusaha tidak berlebihan.

Di Rumah Sakit yang terletak di jalan Rawamangun no. 47, Ibumu diperiksa oleh seorang Dokter laki-laki. kalau tidak salah ingat Le/Nduk namanya Dr. Beryl. Dokternya baik dan ramah membuat suasana hati Ibumu tenang. kamu harus tahu Le/Nduk bahwa memang mood Ibumu seringkali menjadi lebih buruk ketika bertemu dengan orang yang judes.

Le/Nduk, ketika masuk ruangan dokter, perut Ibumu di USG dan nampak jelas dirimu yang masih seperti bulatan kecil, kata Dokter engkau sehat-sehat aja kok jangan jangan khawatir Le/Nduk, semua akan berjalan normal.

itu pertama kali aku dan Ibumu melihat dirimu yang masih seperti kerikil kecil di perut Ibumu. sampai bersama dengan waktu, engkau akan tumbuh sehat Le/Nduk di dalam rahim Ibumu.

Aku beritahu satu rahasia Le/Nduk, jika alam rahim yang sedang kau tempati sekarang adalah sebaik-baik alam yang ada, jauh lebih baik dibandingkan dengan dunia yang sedang kudiami bersama Ibumu dan milyaran orang namun jangan khawatir Le/Nduk, jangan khawatir untuk hadir di alam kami ketika waktunya tiba, karena alam ini pula menghadirkan berbagai sensasi yang menyenangkan Le/Nduk.

oke Le/Nduk, kau baik-baik saja dulu di dalam perut Ibumu yah, salam sayang dariku dan Ibumu

 15 Nov 2015