Posted in Uncategorized

TANGISI KHILAFMU

Le/Nduk, tahu kan kenapa aku menulis judul seperti diatas?

nantinya setelah kau lahir dan bergaul dengan banyak orang, kau akan temui orang yang berbuat sesuatu yang menurut agama kita menyalahi aturan namun mereka membanggakan perilaku tersebut. secara gamblang misalnya seorang pemabuk yang suka menceritakan kebiasaannya mabuk-mabukan. ada orang seperti itu Le/Nduk, mereka tahu bahwa mereka berbuat kekeliruan dan mereka bangga.

janganlah aku dan kita semua termasuk kedalam golongan orang seperti itu Le/Nduk. setiap pagi saat berjejal dengan deretan kendaraan yang berlomba mengejar waktu, seringkali membuat pikiran untuk cepat sampai di tempat kerja. ada pilihan pintas sebenarnya yaitu menerobos jalur busway. Le/Nduk, ada rasa lega memang ketika menerobos jalur busway dan tidak harus berdesak-desakan di tengah kemacetan namun tahukah Le/Nduk bahwa disamping itu, ada pula rasa kalah. kita gagal dalam menyelami kesabaran di jalan yang seharusnya. kita mendzalimi para penumpang busway karena itu hak mereka.

aku selalu berusaha untuk tidak melewati jalur itu Le/Nduk, meski sesekali melewatinya, itupun saat Aku benar-benar sudah penat atau saat aku membonceng Ibumu sepulang dari kantor. Aku tidak tega melihat Ibumu yang harus duduk lama diatas motor dalam keadaan hamil. sekali lagi ingat Le/nduk bahwa itu sebenarnya bukan legitimasi untuk melanggar aturan. Aku salah Le/Nduk tetapi biarlah kesalahan kutanggung asalkan Ibumu cepat sampai di rumah.

Le/Nduk, untuk melegitimasi pendapatku diatas, ini ada hadits yang mudah-mudahan shahih

Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulallah Shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua umatku di ampuni kecuali orang-orang yang bangga atas dosanya, dan diantara bentuk membanggakan dosa adalah; seseorang yang melakukan perbuatan dosa diwaktu malam lalu di pagi harinya, dan Allah telah menutupinya, dia berkata: ‘Ya fulan, saya semalam melakukan ini dan itu. Malam harinya dalam keadaan Allah ditutupi dosanya namun pada pagi harinya dia sendiri yang membuka aibnya”. HR Bukhari dan Muslim.

itulah Nak, kita memang manusia tempatnya salah namun bukan pula justifikasi untuk selalu berbuat salah yang sama apatahlagi berbangga hati dengan kesalahan yang diperbuat.

Nak, suatu saaat kita akan belajar bersama. belajar memaknai hidup, Aku belajar menjadi Bapak sedangkan engkau belajar menjadi seorang Anak meski pada hakekatnya, kita semua belajar menjadi Manusia yang mengenal diri dan Tuhannya.

Rawamangun, 27 Nov 2015

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s