Posted in Uncategorized

SEJENAK MELUNAKKAN PIKIRAN

Nak, hidup ini menurut Saya tidak harus dijalani dengan serius dan bekerja terus menerus. sesekali butuh bernyanyi ria atau plesiran ke ruang terbuka sekedar untuk menghela nafas dari sesaknya kehidupan.

Nak, kemarin Aku mengajak Ibumu karaoke. semoga itu tidak termasuk perbuatan yang sia-sia. Nak Aku khawatir dengan kondisi Ibumu yang sedang mengandungmu, Aku malah mengajaknya ke tempat yang tidak bermanfaat. ah, Aku ini memang tidak pernah belajar tentang segala hal. tentang hal yang lebih esensi.

tetapi sedikit pembenaranku Nak karena Ibumu yang pengen jadi kukabulkan karena Dia sedang mengandungmu. Aku sudah berjanji Nak untuk memenuhi apa saja permintaan Ibumu namun tetap ada batasan untuk hal-hal yang membawa dampak buruk meski kuyakin juga Ibumu tidak akan meminta hal yang menurutnya tidak baik. Ibumu adalah perempuan yang tidak neko-neko.

Aku masih sedikit fleksibel jika berkenan dengan karaoke Nak karena menurutku masih bisa ditolerir meski manfaatnya pun tidak ada. Aku lebih suka mengajak Ibumu ke taman-taman di kota ini Nak.

Oh iya Nak. ruang publik seperti taman di kota ini benar-benar hal yang mahal harganya. Aku khawatir saat engkau nantinya tiba di dunia ini, semua ruang publik telah menjadi belantara gedung yang mengepung kita, mengeringkan bahkan mematikan jiwa kita.

Nak, taman bagi kami adalah oase untuk kembali menyengarkan pikiran yang suntuk dengan hiruk pikuk kota ini, taman menjadi semacam pelampiasan atas semua kuasa kota yang mengancurkan ketenangan hidup. taman yang sering kali kunjungi adalah Taman Menteng. sedikit mengikis noda yang menempel di jiwa-jiwa yang layu.

Nak, ketika kau lahir nantinya. inginku mengajakmu setiap sore duduk di taman, menceritakanmu dogeng tentang desa-desa yang asri. semoga saja beberapa taman di kota ini masih tetap bertahan dalam kelemahan mereka dari incaran para pengusaha tengik.

Nak, semoga saja tidak banyak hal yang hilang dari dunia ini saat engkau tiba. ada populasi makhluk di Bumi ini yang tidak mampu survive sampai sekarang karena rakusnya makhluk yang bernama Manusia dalam mengerus alam. Nak, spesies kita memang seringkali merusak alam ini seolah-olah semua yang ada di Bumi adalah milik mereka. kerusakan sudah terjadi dimana-mana Nak. hampir-hampir saja Bumi sudah tidak layak lagi untuk dihuni.

Nak, nanti kalau sudah bisa membaca, ada buku karya Jostein Gaarder “Dunia Anna” yang menggambarkan betapa tangan-tangan manusia bertanggung jawab terhadap kerusakan alam. Aku punya buku itu Nak dan masih tersimpan diatas lemari baju.

Mampang Prapatan, 29 11 2015

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s