MASAKU DAN MASAMU KELAK

Nak, kali ini aku ingin berbagi cerita tentang masa kecilku terutama tentang permainan yang ada di kala itu. Nak, mungkin saja banyak nama permainan yang sudah kulupa namun setidaknya aku masih bisa menceritakanmu bagaimana permainan itu dimainkan.

Nak, ceritaku ini mungkin hanya modus untuk merawat kenangan masa kecilku karena kalau mau jujur Nak, aku orang yang amat sangat susah beranjak dari masa lalu nah dengan menceritakanmu kenangan masa kecilku, aku punya alasan ber romantisme ria dengan masaku.

Nak, kampung Bapakmu itu di pelosok. Berada di sebelah utara kota Makassar. Kalau nanti kau dengan ada nama Gunung Latimojong, nah kampungku itu bisa dilalui oleh jalur pendaki ke Latimojong meski masih jauh. Tapi kapan-kapan jika kau sudah lahir dan sudah bisa jalan, aku janji mengajakmu kesana Nak. Kita menyusuri waktu kecilku di kampung ‘Buntu Lamba.’

Nak, masa kita beda namun aku tidak ingin menggiringmu kembaki seperti yang kulalui. Dulu tidak ada gadget Nak bahkan tv hitam putih pun tidak sampai 10 orang yang punya di kampung kita dulu Nak. Sekarang, semua tersedia dengan lengkap.

Maaf Nak, Aku malah mengigau. Oh iya Nak. Mulai saja kuceritakan padamu tentang permainan masa kecilku dan ini acak yah Nak.

Ada permainan namanya senjata dari bambu Nak. Bahannya dari bambu yang masih kecil seukuran gagang sapu. Bambu paling bagus untuk bahan senjata yaitu bambu yang sudah kering dan berwarna kekuningan meski bambu yang masih berwarna hijau bisa juga digunakan. Cara membuatnya, bambu tersebut sipotong seukuran tangan sampe siku tanpa menyisakan ruas didalamnya. Bagian yang lain potong bambu dijadikan gagang ditancapkan bambu yang sudah dihaluskan sebagai penyodoknya. Pelurunya terbuat dari kertas yang dibasahi kemudian dibulatkan dan dimasukkan kedalam lubang bambu. Gagangnya berfungsi sebagai penyodok. Peluru lainnya kadang dari merica.

Nak, kami sering memainkan permainan itu berkelompok dan perang-perangan. Lumayan perih Nak ketika kena tembakan apalagi jika pelurunya dari buah merica yang masih muda.

Permain lainnya ada balapan memakai ban motor yang digelindingkan dengan cara dipukul potongan kayu. Permainan ini namanya ‘Dalapang.’ Kami sering berlomba Nak dengan permainan itu dan yang sering jadi juaranya adalah anak kuat lari sambil terus mengejar Dalapangnya. Sekarang sudah berganti dengan balapan sebenarnya Nak. Di kampungku, anak kelas 6 SD sudah bisa naik motor dan parahnya orangtuanya mendukung dengan membelikan motor. Ah boro-boro kami mikir motor dulu Nak, untuk mikir besok makan apa sudah mumet.

Permainan lainnya ada ‘Gatta.’ Sebenarnya permainan itu dari karet gelang Nak, di kampung Bapakmu, nama bahasa daerahnya Gatta. Permainan itu mungkin seperti taruhan Nak jadi tiap anak menaruh beberapa Gatta di lingkaran Nak kemudian dipertaruhkan sesuai aturan yang disepakati, ketika kita menang maka kita berhak mengambil gatta orang lain. Aku lumayan ahli dipermainan ini Nak karena koleksi karet gelangku saat itu lumayan banyak cuman Nenekmu seringkali memarahi jika memainkan permainan ini karena menurutnya cikal bakal judi.

Permainan wayang juga salah permainan yang dilarang nenekmu. Alasannya sama dengan permainan Gatta. Cara memainkannya hampir sama, kita menaruh beberapa lembar wayang ditanah kemudian ditutup oleh tempurung kelapa atau mangkok bekas sabun colek (bede sembilan bahasa kampungku) kemudian dari jarak yang sudab ditentukan, silempar memakai batu pipih. Siapapun anak yang berhasil mengenai tempurung kelapa dan wayangnya sudah tidak tertutup lagi maka dia berhak mengambilnya. Cara lain bertaruh wayang yaitu masing-masing menggulung selembar wayangnya berbentuk U kemudian dilemparkan ke udara. Ketika mendarat dengan posisi terbalik maka kita dianggap kalah dan menyerahkan beberapa lembar wayang sesuai kesepakatan. Kalau cara yang terakhir mungkin sebuah hoki Nak tapi cara pertama benar-benar membutuhkan konsentrasi dan keahlian melempar.

permainnya lainnya yaitu kelereng Nak. Dimainkan dengan cara membuat lingkaran di tanah dan memasukkan beberapa butir kelereng. Jika kita bisa mengeluarkan kelereng dengan cara dibidik dengan kelereng lain maka kita menang.

permainan berikutnya adalah layangan. Aku paling amatir di permainan ini Nak. Seingatku, baru sekalipun aku berhasil membuat layangan yang bisa terbaik itupun dengan ekor yang panjang. Nak, ukuran layangan yang baik di kampungku dulu yaitu layangan yang tidak mempunyai ekor. Ekor layangan itu bukan accesories karena dia berfungsi sebagai penyeimbang layangan supaya tidak berputar-putar di udara. Taktikku saat bermain layangan yaitu mengejar layangan teman-temanku yang putus. Aturan tidak tertulisnya di permainan ini adalah layangan yang putus menjadi milik umum. Oh iya Nak, dulu permainan layangan sering kami mainkan saat bulan Ramadhan, itu seperti aturan tak tertulis.

Ada sebuah memori yang sampai sekarang tetap melekat di rongga otakku tentang mengejar layangan. Entah film atau cerita Nak tentang seorang anak yang mengejar layangan putus kemudian tertabrak mobil dan kakinya harus diamputasi.

permainan lainnya adalah mengadu jangkrik. Tepatnya bukan permainan tapi kebiasaan masa kecil dan menurutku sangat tidak berperkebinatangan. Ini tidak usah ditiru Nak. Bagaimana bisa dulu kita tertawa merayakan kemenangan saat jangkrik kita berhasil menggigit jangkrik teman bahkan ada yang sampai mati. Aku menyesali kebiasaan itu Nak.

 Mampang Prapatan, 09122015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s