IBU DAN SEGENAP DOA TERBAIK

Aku ingin menikahi gadis di pulau ini Bu..!! kalimat yang singkat melunjur dengan tegas meski pelan saat malam itu aku bercakap dengan Ibu lewat hp.
Sejenak setelah kuutarakan niatku, suara dari seberang sana tak terdengar meski samar-samar ada semacam suara parau dari sambungan teleponku. Aku gamang, Ibu tidak mematikan sambungan telepon namun tidak melanjutkan percakapan setelah Aku mengungkapkan niatku.
Ah, mungkin belum waktunya. Bagaimana bisa Aku melupakan sebuah janji yang yang terucap dengan lirih saat pertama kali kutinggalkan tanah kelahiranku

“Nak, berjanjilah bahwa Engkau tidak akan menikah dengan Gadis di Pulau sana.” Kata-kata Ibu terdengar pelan dan parau ketika mobil yang akan kutumpangi ke Pelabuhan sudah sampai di depan rumahku.
“Aku berjanji Bu. Aku merantau semata-mata hanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik,”jawabku pelan sambil kukecup pipinya yang masih basah sisa air matanya.
Kata-kataku seakan kumpulan pasir yang dengan mudahnya diterbangkan oleh angin senja. menguap lalu hilang tanpa bekas.
Tiga tahun di pulau ini benar-benar merubah semua apa yang ada di kepalaku bahkan sampai pada hal yang prinsipil. Tidak ada lagi janjiku kepada Ibu untuk fokus pada pekerjaan. Hatiku tertambat pada seorang gadis mungil di kota Pahlawan. Entah berawal dari mana namun semua sudah berjalan terlalu jauh, meninggalkannya adalah keputusan mustahil namun dilain sisi, mengikat tali cinta pernikahan berarti melukai hati Ibu yang amat kusayang.
Ah, Tuhan. Hidup memang Paradoks. Hidup selalu menghadirkan pertentangan-pertentangan terhadap dua hal yang amat sulit untuk dipilih. Aku ingin memilih dua opsi yang hadir dalam hidupku tetapi mustahil, amat sangat tidak mungkin malah. Ibu berkeras untuk tidak mengijinkanku menikah dengan Gadis di Pulau ini yang menurut pikirannya tidak bisa diajak menikmati susah. Ibu hanya berharap Aku menikah dengan Gadis dari kampungku. Hatiku pun berkeras untuk tetap menikah dengan Gadis pilihanku. Dia menemani langkahku dalam setiap perjuanganku meraih mimpi di Pulau ini, Aku sungguh tidak tega untuk mencampakkannya begitu saja setelah selangkah demi selangkah, mimpiku telah kurengkuh.
Tidak ada yang bisa menjernihkan pikiranku saat ini. Bayang-bayang Ibu tidak ingin beranjak dari memoriku. Tentang pengorbanannya kepada kami berenam, tentang kerja kerasnya memikirkan masa depan anak-anaknya, tentang bagaimana Beliau disetiap subuhnya harus bangun lebih awal menyiapkan aneka jajanan kue yang akan dijual di Pasar.
Aku seringkali mengamati wajah nanar Ibu saat senja ketika Beliau dari Pasar. Aku suka menebak suasana hatinya dari pancaran wajahnya. Ketika ada butiran-butiran air di sudut matanya sesaat pulang dari Pasar maka itu pertanda jualan Ibu tidak laku namun ketika ada senyuman tipis di wajahnya ketika pulang pasar, maka bisa dipastikan dagangan Ibu laku terjual.
Ada banyak kenangan tentang Ibu yang membuatku tidak tega untuk menentang keinginannya. Amat lekat dalam pikiranku saat Ibu berjuang melahirkan adikku yang bungsu. Saat itu subuh dini hari, ketika mengetahui tanda-tanda akan melahirkan, Bapak memanggil Tanteku yang sering membantu orang melahirkan. Ibu bersandar di dinding rumah sedangkan Tanteku mengolesi perut Ibu dengan minyak. Ibu disuruh meniup botol kosong supaya bayinya keluar. Aku ingat dengan jelas wajah Ibu saat itu, bercucuran keringat dan Air mata dengan nafas yang tak beraturan. Umurku saat itu baru menginjak usia 6 tahun. Yang terjadi kemudian adalah Ibu melahirkan adikku di rumah kemudian dibawah ke rumah sakit di kota karena pada saat Itu, Ibu mengandung anak kembar dan yang lahir di rumah hanya satu. Ibu kemudian menjalani operasi cesar untuk mengeluarkan bayi yang satu dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Ah, entahlah apa perasaan Ibu saat mengetahui bayi kembarnya hanya selamat satu. Beliau tidak pernah cerita kepadaku sampai sekarang.
namun lebih dari itu semua, Aku orang yang percaya bahwa semua keputusan Ibu terhadap Anak-anaknya adalah yang terbaik. Seorang Ibu menggunakan hati tidak dengan Nalar kepada setiap keputusan yang ditujukan kepada Anak-anaknya dan selalu tepat. Itulah kenapa Aku menganggap Ibu adalah “Peramal” paling tepat untuk semua keputusan dalam hidupku. Ketika Beliau mengiyakan maka akan menjadi baik. saat Beliau mengijinkan, jangan sekali-kali menentangnya dan ketika Beliau diam saat diminta keputusan, itu artinya keputusan mutlak ditanganku.
Begitulah kenanganku tentang Ibu dan kerja kerasnya. Tak pernah sekalipun Beliau memikirkan dirinya sebelum memastikan anak-anaknya bisa makan hari ini.
Cinta memadamkan dendam dan melunakkan hati. Berbulan-bulan Aku berusaha meyakinkanIbu bahwa Aku punya banyak pertimbangan untuk memilih gadis pendamping hidupku. Kukatakan kepada Ibu bahwa Aku sebelumnya sudah melihat relasi Gadis tersebut dengan Ibunya dan menurutku Dia memperlakukan Ibunya dengan sangat baik.
****
Aku tak pernah menyangka semua telah berlalu. Saat Aku menghujat hidup yang menghadirkan pilihan-pilihan dilema dalam hidupku, saat Aku berandai-andai untuk merengkuh semua pilihan itu, menikahi Gadis di Pulau ini dan berharap Ibu merestui keputusanku. Itu setahun yang lalu namun sekarang, benar-benar hidup berpihak kepadaku. Aku telah menikah dengan Gadis pilihanku dari Pulau ini yang sedari awal menemaniku berjuang dan yang terpenting, semesta mengamini doa-doaku sehingga Ibu merestui dengan ikhlas. Aku masih saja tidak percaya atas semua kenyataan hidupku. Bagaimana tidak, begitu kerasnya Ibu menentang keputusanku menikah di Kota ini namun ternyata pilihanku tepat dengan Gadis yang setia ikut meyakinkan Ibu bahwa Dia bisa menjadi Isteri yang baik bagiku.
Hidup bagaikan proses berkepanjangan yang tak tertebak cerita akhirnya. Semua berjalanseperti apa adanya sampai pada titik ketika Ibu menyadari bahwa posisinya hanya sekedar member saran yang selanjutnya, Aku yang memutuskan perihal yang terbaik dalam hidupku.
Aku mengerti perasaan Ibu sebelum sampai pada keputusan mengiyakan pilihanku. Perbedaan budaya antara Aku dan si gadis adalah salah satu alasan kuat bagi Ibu untuk tetap tidak merestui di beberapa bulan pertama. Namun Ibu pun harus menyadari bahwa memilih Gadis di pulau ini berarti meringankan biaya pernikahan. Suku Bugis Makassar memang terkenal dengan budaya pernikahan yang memberatkan pihak pria sedangkan di Pulau ini, kita tidak perlu berpeluh darah untuk mengumpulkan biaya pernikahan.
Minggu depan saat bertepatan dengan libur Natal. Aku berencana membawa Isteriku ke Kampung bertemu Ibu untuk yang pertama kalinya. Memang saat Aku menikah di ujung timur pulau Jawa, Ibu tidak bisa hadir karena Beliau tidak sanggup naik kendaraan. Kendaraan benar-benar menjadi momok bagi Ibu karena senantiasa Beliau akan pusing berhari-hari setelah menempuh perjalanan dengan mobil.
Ibu, Sembah sujudku atas semua pengorbanan yang Engkau berikan kepadaku dan kepada semua Anak-anakmu. Tiada yang lebih berharga saat ini bagiku selain melihatmu berbahagia dimasa tua. Untuk beberapa ikrar kepada diriku tentangmu yang belum tercapai, Aku masih berusaha dan berdoa semua suatu waktu yang tidak terlalu lama, Aku menjadi jembatan bagimu untuk berangkat ke tanah suci entah berhaji atau umrah.
Kebahagiaan terbesarku saat suatu waktu dengan rejeki yang halal mewujudkan dirimu berziarah ke Ka’bah. Semoga senantiasa dirimu berbahagia Bu dan tetap dalam keridhaan Allah SWT. Aku memimpikan banyak hal tentang Ibu, tentang kebaikan-kebaikan untuk dirinya. Doaku disetiap akhir shalat semoga hati Ibu selalu dalam keadaan tenang dan dilunakkan.
Ibu layaknya butiran doa-doa terbaik untuk setiap anaknya, Beliau bagaikan malaikat bersayap yang dikirim semesta untuk melindungi Anak-anaknya.

Mampang,14 Desember 2015

Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti writing project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan storia.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s