Posted in Uncategorized

MENYUSURI KENANGAN

Nak, banyak cerita terlewati untukmu di 2 minggu terakhir. entah kenapa Aku begitu malas bercerita kepadamu. sudah kuniatkan untuk selalu menata setiap langkah yang Aku dan Ibumu jalani selama Kau dalam rahim Ibumu namun ternyata kemalasanku lebih besar dari niatan itu Nak, alhasil cerita yang seharusnya Kau ketahui nantinya tercecer begitu saja.

Sebelum rasa malas kembali bersarang di kepalaku, ada baiknya Aku menceritakan kisah pulang kampung kemarin bersama Ibumu dan Mbah ti.

Tepat seminggu yang lalu kami pulang kampung bertiga, eh berempat ding sama dirimu yang sedang bersemayam di dalam perut Ibumu. sebenarnya khawatir juga dengan dirimu yang baru 3 bulan namun Ibumu tetap berkeras untuk ikut ke kampung, namanya orang ngidam makanya diiyakan saja keinginan Ibumu.

Bayangkan saja Nak. kita disana cuma 2 hari sedangkan perjalanan begitu melelahkan. saat matahari belum nampak, kita berempat sudah menuju ke Bandara Cengkareng. antri chek in kemudian menunggu keberangkatan pesawat pukul 08:30 WIB.

Pesawat tiba di Pulau seberang tepat waktu Nak. sejam kemudian, menunggu mobil travel yang akan membawa kita ke kampung halamanku. kasihan melihat Ibumu yang sudah begitu lemas dan mencemaskan dirimu di rahim Ibumu.

Nak, perjalanan masih jauh karena kita harus menempuh jarak sekitar 200 km dari bandara ke kampung itu berarti butuh sekitar 6 jam apatahlagi jalanan di sana berliku-liku penuh tikungan Nak.

Kita tiba di rumah tepat pukul 21:30 WITA itu artinya butuh waktu sekitar 8 jam. Ibumu dan mbah terlihat begitu penat.

Esoknya, Aku mengajak Ibumu silaturrahim ke keluarga. Aku benar-benar bukan suami yang pengertian Nak. tidak mengerti tenaga Ibumu sampai pada saat kami berjalan di rumah nenek, Ibumu hampir saja pingsan. Aku kalut dan mengajaknya pulang.

Belum hilang rasa lelah, kita sudah harus pulang ke Ibukota. kita naik mobil travel malam hari. berangkat di kampung tepat pukul 20:00 Wib. saat melalui jalanan berkelok, Ibumu mabok perjalanan. Aku mengambil kantok plastik untuk muntahan Ibumu. Aku merasa sangat bersalah Nak.

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

One thought on “MENYUSURI KENANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s