CERITA JUMAT MALAM

Anakku, aku berjanji kepada diriku untuk tidak berhenti belajar, untuk diriku sendiri dan tentunya belajar menjadi ayah dari dirimu.aku ingin suatu saat nanti, kita bercerita di taman belakang rumah dengan kopi dan pisang goreng masakan Ibumu. kita bercerita tentang apa saja. entah itu Film, Musik, Pengetahuan, Sepakbola dan apapun yang kau minati Anakku. sejatinya Aku tidak akan membatasi apapun dari dirimu.

Ada satu forum yang selalu kuikuti Nak. sebisa mungkin setiap Jumat malam minggu kedua. diadakan di TIM mulai pukul 20:00 WIB sampai subuh dini hari. Kenduri Cinta, Iya itu forum yang diprakarsai Emha Ainun Najib yang akrab disapa Cak Nun. banyak kesepakatanku dengan pemikiran-pemikiran beliau yang membuatku betah menahan kantuk untuk mendengar tauziahnya.

Anakku, ini cerita untukmu hari ini tentang diskusi Kenduri Cinta tentang Gerbang Wabal. meski semalam Aku sadar bahwa sabtu pagi harus berangkat ke Sukabumi dalam rangka acara kantor, Aku tetap memaksakan diri untuk ikut acara Kenduri Cinta dan benar saja, tidak sia-sia menurutku ikut Kenduri Cinta semalam.

sesampai di TIM, Aku hanya bisa mendapat space di pinggir panggung karena peserta sudah membludak. seperti biasa diskusi dipandu oleh pengurus Kyai Kanjeng. barulah sekitar pukul 22:30 WIB, Cak Nun datang dan mengambil tempat di panggung utama. ada yang berbeda dari Beliau dengan pakaian putih dan songkok khas Kyai Kanjeng.

Membuka Tauziahnya, Beliau mengajak hadirin melantunkan Dzikir Ya Wabal yang berlangsung hampir sejam. Aku bahkan harus menghela nafas beberapa kali Anakku sepanjang Dzikir tersebut. Ah payah Ayahmu ini Nak. ketika berdzikir tidak kuat namun ketika memelototi HP bisa sampai berjam-jam.

IMG_20160115_220234

Benar saja, setelah selesai Dzikir, Cak Nun menyentil bahwa seringkali kita merasa penat ketika berdzikir agak lama sedangkan ketika main HP bahkan bisa berjam-jam lamanya. Anakku, Cak Nun kemudian menanggapi teror Bom yang terjadi di Sarinah seperti yang Aku ceritakan padamu sebelumnya ini Anakku. Beliau mengatakan bahwa Bom terjadi karena ada ketidakadilan di Bumi ini kemudian melanjutkan bahwa dengan pernyataannya ini, bukan berarti Beliau mendukung tindakan teror.

Cak Nun juga menaggapi respon masyarakat yang meyebarluaskan #KamiTidakTakut. Beliau mengatakan bahwa tindakan tersebut seperti orang yang menghibur diri sendiri. adanya teror otomatis akan membuat kita takut. ketika berjalan di keramaian dengan anak isteri lalu ada bom meledak, atau teman-teman sedang nongkrong di kafe dan bom meletus dan ketakutan tentang keselamatan keluarga dan teman yang kita cintai karena sejatinya kita tidak bisa memprediksikan dimana para tukang teror melancarkan aksinya.

Setelah Cak Nun. sabrang kemudian melanjutkan analisanya tentang energi yang kemudian dikupas dari segi matematika dan fisika. ada poin penting dari pemaparan Sabrang bahwa hidup itu seperti matematika. kita akan selalu berjalan menuju Tuhan namun hanya ada dua kemungkinan, ada yang jalanannya berliku kemudian sampai kepada pencarian akan Ketuhanan dan ada pula yang jalannya cepat. Sabrang menganalogikan pada bilangan Genap dan Ganjil. jika mendapat bilangan Genap, coba dibagi 2 dan ketika bertemu dengan bilangan ganjil, kalikan 3 kemudian tambah 1.begitu seterusnya dan niscaaya ujungnya akan sampai pada angka 1. angka 1 tersebut adalah puncak Ketuhanan.

Anakku, diskusi tersebut masih sangat panjang namun mengingat ada janji yang harus ditunaikan pagi dini hari, terpaksa Aku beranjak pulang tepat pukul 02:30 WIB. sesampai di rumah, Ibumu sudah terbuai mimpi.

Jika tiba waktunya nanti, Aku ingin melihatmu seperti mereka yang selalu haus akan ilmu Nak. namun ingat seharusnya mencari ilmu itu bukan karena tendensi materi atau duniawi namun ingatlah selalu Anakku bahwa belajar dan selalu belajar ditujukan untuk mencari kebenaran, kebenaran sejati menurutku Nak. meski dalam hidup kita tidak sampai pada puncak keagungan Ilmu namun setidaknya, segala daya upaya telah kita kerahkan untuk sampai pada titik itu Nak. Aku kok merasa Nak bahwa Tuhan itu nantinya akan menilai usaha dan niat kita bukan terhadap hasil yang diperoleh. menurutku lo yah Nak. jangan diyakini juga, Kau cari saja nanti jalanmu sendiri.

Sebelum menyudahi cerita ini Nak, bolehlah Aku menyarankanmu referensi dalam belajar tentang apa saja. yah belajarlah kepada pribadi seperti Cak Nun yang mendahulukan Cinta kepada sesama, bacalah karya Gus Mus, Gus Dur dan siapapun dari mereka yang mendahulukan cinta daripada Ego. mereka itu orang-orang hebat Nak namun siapa tahu nantinya ketika Kau sedang dalam proses belajar, Engkau bertemu dengan orang yang seperti Mereka. Nak, memahami orang itu gampang, lepaskan tendensimu terhadap orang tersebut dan rasakan dari dalam hatimu. Engkau akan mengenal siapa yang pantas Kau jadikan Guru.

Rawamangun, 22 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s