IBUMU BEKERJA

Nak, ada banyak hal yang belum kuceritakan kepadamu. kali ini Saya ingin memberitahumu mengenai Ibumu. sudah lama sebenarnya namun selalu terlupa. barulah tadi setelah membaca artikel ini tiba-tiba terlintas dibenakku untuk bercerita seperti apa pekerjaan Ibumu.

Ibumu seorang Pegawai Nak. Dia harus ikut berpeluh keringat membantu Saya mencari nafkah. Kami berdua berangkat pagi dan pulang malam. itu Kami jalani dengan tetap berusaha bersyukur. seringkali Saya mendengar perdebatan entah di dunia maya maupun di tengah teman-teman Saya tentang Perempuan yang ikut bekerja dan Perempuan yang memutuskan menjadi Ibu Rumah tangga yang sepenuhnya mengurus keluarganya, Suami dan Anak-anaknya.

Saya tidak pernah tertarik dalam perdebatan masalah tersebut Nak. alasannya jelas bahwa kedua hal tersebut hanyalah pilihan dan setiap pilihan seorang ada alasan dibaliknya dan kita sama sekali tidak punya alasan yang benar dalam menjustifikasi pilihan sadar yang diambil oleh seseorang.

dulu ada seorang teman Ibumu yang katanya bercita-cita ingin menjadi Ibu rumah tangga  yang waktunya full dipergunakan untuk mengurus segala tetek bengek masalah keluarganya. Saya mengapresiasi pilihan seperti itu Nak namun yang terjadi kemudian bahwa Dia selalu mengupdate di status sosmednya yang membanggakan pilihannya kemudian beberapa kali merendahkan Ibu yang memilih ikut bekerja diluar rumah. apa yang terjadi berikutnya Nak? ternyata setelah beberapa lama menjadi Ibu rumah tangga, Dia beberapa kali ternyata mengungkapkan keinginannya untuk bekerja diluar rumah, entah menjadi pegawai ataupun dosen.

Lah, apa sebenarnya yang terjadi dengan fenomena seperti itu Nak..?? jawabannya bahwa jangan menjustifikasi pilihan sesorang dan merasa bahwa pilihan kita lebih baik. Saya sama sekali tidak sedang membanggakan wanita yang bekerja kantoran karena pada dasarnya, banyak juga Perempuan yang bekerja diluar rumah merendahkan Perempuan yang memilih menjadi Ibu Rumah tangga full time. Saya hanya berpendapat bahwa semua itu tergantung pada pilihan sadar tiap Perempuan sepanjang mereka tetap perhatian kepada keluarganya. toh ada banyak anak-anak yang tumbuh dibawah asuhan Ibunya secara nonstop tetapi tetap saja menjadi tidak ” berhasil” dan ada anak-anak yang Ibunya bekerja kantoran malah “berhasil” namun begitupun sebaliknya.

Sebenarnya ada juga kekhawatiran Nak memikirkan bagaimana perkembanganmu setelah lahir nanti ketika Ibumu bekerja namun setiap kali keraguan tersebut muncul, Saya selalu meyakinkan Ibumu bahwa akan selalu ada jalan sepanjang niatan kita baik. anak-anak butuh kasih sayang dan masih tersisa banyak waktu untuk mencurahkan kasih sayang kepada Engkau wahai anakku.

Sekali lagi Saya ingin mengingatkanmu Nak supaya suatu saat nanti, Engkau harus menghargai pilihan seseorang karena tiap pilihan itu ada alasannya.

Mampang Prapatan XIII, 28 2 2016

Advertisements

ADIL

Anakku, Saya tidak punya kapabilitas untuk menjelaskan secara terperinci adil itu seperti apa dan bagaimana mengaplikasikannya? adil itu terlalu rumit untuk dipelajari secara teoritis. ada banyak pengertian adil Nak antara lain adil adalah memberikan apa saja sesuai dengan haknya. Keadilan berarti tidak berat sebelah, menempatkan sesuatu ditengah-tengah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, tidak sewenang-wenang. Keadilan juga memiliki pengertian lain yaitu suatu keadaan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara memperoleh apa yang menjadi haknya sehingga dapat melaksanakan kewajibannya. saya ambil dari sini. masih banyak interpretasi tentang keadilan Nak dan nantilah Kau belajar lebih banyak lagi secara teoritis.

Anakku, mari kita belajar apa itu adil dari hal-hal terkecil karena Saya sendiri berpendapat bahwa adil itu kontekstual. mungkin Saya kata adil berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Begini Nak. ini cerita-cerita lepas aja yah. dulu waktu di kampung. Aku dan saudara-saudaraku hidup dalam keluarga yang pas-pasan. tidak kekurangan memang karena kami masih bisa makan 3x sehari yang seringkali dianggap sebagai standar kehidupan yang layak namun juga orang tua Saya tidak punya uang lebih untuk membelikan kami kebutuhan sekunder apatahlagi kebutuhan tersier bahkan terkadang orang lain menganggap sebuah barang sebagai kebutuhan sekunder namun kami sudah menganggapnya sebagai kebutuhan tersier misalnya kulkas.

Namun Saya bahagia dibesarkan oleh kedua orang tua Saya Nak. mereka mengajarkanku hal-hal bukan secara teoritis namun lebih pada aplikasinya termasuk juga bagaimana menerapkan keadilan. dulu ketika Ibuku membuat kue kemudian menyajikannya diatas meja, Ibuku selalu menyisakan buat anaknya jika ada diantara kami yang kebetulan diluar rumah pada saat bersantap bahkan ketika ada saudara Saya yang mengambil lebih dan tidak menyisakan saudaranya, Ibu bahkan sampai murka.

Adil itu bukan teori Nak. lagipula sesuatu yang amat sulit untuk diaplikasikan karena selalu tidak bebas nilai. ketika kita tidak menyukai seseorang maka terkadang kita tidak bisa berbuat adil kepadanya. Pram mengatakan bahwa “adillah sejak dalam pikiran.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah Ayat 8).

Ibu akan marah besar bila kami

merebut jatah makan yang bukan hak kami.

Ibuku memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang,

ketabahan Ibuku mengubah rasa sayur murah menjadi sedap.”

“Puisi Widji Thukul”

 

Pulogadung, 26/2/2016

UTANG

Anakku, hidup itu selalu berganti dari hal yang disukai menjadi hal yang tidak disukai dan begitupun sebaliknya. ada saat ketika kondisi kita lapang dan pada masa yang lain, kita dalam kondisi sulit. terkadang pula tiba-tiba saja kebutuhan meningkat. disaat seperti itu, kita butuh bantuan orang lain dan satu-satunya jalan adalah berutang.

ada beberapa hal dalam hidup yang sebisa mungkin kita hindari. Saya sendiri memasukkan utang sebagai sesuatu yang akan kutempatkan pada pilihan terakhir ketika kebutuhan mendesak. banyak alasan Nak yang membuatku menjadikan utang sebagai solusi paling bontot ketika kebutuhan meningkat.

ini cuma bincang-bincang ringan antara kita ya Nak. jadi gini ceritanya, orang yang memberi utang itu akan merasa berjasa kepada orang diberi pinjaman bahkan terkadang semena-mena dan rahasia terbesarnya juga Nak bahwa ketika Manusia memberi pinjaman, selalu mereka ingat seumur hidup sehingga selalu merasa berjasa. ini dari sisi orang yang memberi pinjaman. sedangkan dari sisi orang yang berhutang, Mereka selalu merasa segan terhadap orang yang telah memberi hutang bahkan jika perlu akan melakukan segala hal untuk menyenangkan orang tersebut dan yang terakhir, orang yang berhutang terkadang cepat melupakan bahwa Mereka pernah berhutang kepada si “Anu” ketika hutangnya sudah lunas.

Anakku, selalu ketika Saya menceritakanmu suatu hal, pasti ada Asbabun Nuzulnya, Yaelahh kayak ayat aja ya Nak. he.he. tetapi ini serius, Saya terlintas menulis tentang utang karena ada pengalaman Nak, bukan Saya tentunya. nantilah Saya ceritakan kepadamu secara detailnya namun secara singkatnya, utang itu tidak mengenal hubungan darah Nak. utang tetaplah utang dan terkadang persaudaraan menjadi renggang masalah utang jadi suatu saat jangan anggap remeh utang meski dengan keluargamu sendiri.

Saya selalu memohon kepada Sang Maha supaya Saya dilindungi dari hutang. salah satu hal paling mengerikan di dalam hidup Saya. untuk contoh pribadi Saya aja kalau memberi hutang kepada orang lain, sangat sulit untuk melupakannya apalagi mengikhlaskannya ketika orang tersebut tidak kunjung melunasinya.

IMG_20160225_165225
Masukkan keterangan

utang itu bumerang Nak. tempatkanlah ia pada pilihan terakhir ketika Kau butuh sesuatu yang mendesak. jangan menggampangkan dirimu berhutang bahkan bukan hanya cuma masalah uang loh Nak termasuk juga masalah utang jasa.

Rawamangun, 23 Februari 2016

BUMBU PERNIKAHAN

Nak, kemarin Aku dan Ibumu sedikit ada masalah. biasalah namanya juga pernikahan. namun selalu saja Aku yang menjadi penyebabnya. tahu kan Ibumu adalah wanita maha penyabar dan jika ada perselisihan diantara kami, maka dialah yang akan minta maaf tanpa memandang apakah Aku yang salah atau Ibumu. pokoknya jika ada masalah diantara kami, Ibumu selalu berinisiatif meminta maag kepadaku lalu ujug-ujug memelukku dari belakang.

Jiahhh, Aku kok merasa menjadi lebih feminim ya Nak. seharusnya kan Isteri yang ngambek kemudian Suami minta maaf dan merayu Isterinya. Ah payah Aku ini Nak namun jujur Ibumu adalah sebenar-benar Perempuan penyabar yang tidak ada tandingannya.

Aku tidak bisa menceramahimu tentang hubungan dalam keluarga Nak karena kusadari bahwa terlalu banyak kekuranganku. emosi masih sering meledak-ledak dan kesabaran masih seujung kuku. jika saja Kau ingin belajar ilmu sabar, tidak usah jauh-jauh, belajarlah dari Ibumu.

Rawamangun, 22 Februari 2016 15:21

MEROKOK

Nak, jangan heran jika saat lahir, Kau menjumpai manusia yang dari mulutnya selalu berasap. iya merokok Nak. mungkin bagi kita yang laki-laki di negeri ini, merokok adalah hal yang lumrah namun jika di Negeri barat sana Nak, Perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya, merokok bagi Perempuan sama lumrahnya ketika kita menjumpai laki-laki merokok. hanya saja di budaya orang timur seperti kita, ada sterotype bahwa Perempuan yang merokok identik dengan Perempuan “nakal.”

ngomong-ngomong tentang merokok, di keluarga Saya banyak yang merokok Nak. Bapakku seorang perokok dan dua kakak laki-laki pun termasuk pecandu rokok. Saya, entah karena Saya sejak kecil termasuk kuper sehingga tidak terjebak dalam budaya merokok. 2 adik laki-laki ku pun nampaknya bukan seorang perokok, entahlah jika mereka sembunyi-sembunyi.

beda lagi di keluarga Ibumu Nak. mereka tidak ada yang merokok. setahu Saya dari cerita Ibumu bahwa Bapaknya bukanlah perokok berat meski sesekali menghisap rokok saat banyak masalah. kakak satu-satunya pun sama sekali tidak merokok. katanya pernah belajar merokok namun tidak berlanjut menjadi pecandu. jadi rumah Ibumu itu bebas asap rokok. berbeda 180″ dengan rumahku yang sudah layaknya aktivitas fogging ketika kedua kakak lelaki dan Bapakku memulai ritual mengisap rokok.

Saya sendiri pernah belajar merokok Nak. seingatku Saat itu Saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya lupa kelas berapa tepatnya. Saya dan  beberapa teman membeli sebungkus rokok dan belajar mengisapnya di hutan dekat sungai. kalau tidak salah ingat, rokok tersebut gudam garam. tetapi entah kenapa Saya tidak sampai menjadi perokok. pernah juga Saya menemukan sebatang rokok di rumah Eyangku dan kuisap karena berhubung saat itu tidak ada orang di rumah. rumah eyangku dulu semacam basecamp bagi para remaja seusia Pamanku.

Nak, sebenarnya tidak ada yang penting-penting amat menceritakanmu tentang rokok. hanya cerita kosong saja mengenang masa kecilku namun jika suatu saat nanti Kau tumbuh dan bergaul dengan teman-temanmu yang Perokok, tidak apalah Kau merokok sebatang atau dua batang namun ingat Nak, sesuatu yang berlebihan itu selalu tidak baik adanya. kalaupun Engkau mau merokok, jangan berlebihan.

Saya masih fleksibel masalah rokok Nak namun tidak untuk minum beralkohol apatahlagi obat-obatan yang menghilangkan kesadaran, Sabu-sabu dkk, Saya pasti akan melarangmu mencoba kedua barang tersebut Nak. bukan ingin menjadi fasis terhadap anakku sendiri namun Saya punya prinsip tentang hal yang harus Saya larang maupun yang masih bisa Saya bebaskan untukmu.

Jika saja Kau tidak menerima nantinya keputusanku melarangmu tentang beberapa hal, alangkah baiknya kita berdiskusi Nak. jika saja rasionalisasimu mengalahkanku, barulah Saya akan membebaskanmu.

 

Rawamangun, 18 Februari 2016

MENAKAR DIRI

Saat menulis tulisan inipun Saya sedang menggunakan fasilitas kantor Nak. kemudian harus menceremahimu dengan perilaku wara’. ah Nak kok Saya merasa membohongi diri sendiri ya.

Nak, sedari kecil, Ibuku selalu mengingatkan untuk berhati-hati terhadap semua yang berbau syubhat apalagi haram. namun Kau tahu mungkin sudah terlalu sering Saya melanggar nasehat Beliau. dari hal yang tidak disengaja sampai pada hal-hal yang ‘pura-pura’ tidak disengaja. Kau tahu sendiri nanti Nak.

Aku pun tidak habis pikir, selama masuk dalam dunia kerja, Saya merasa selalu bersentuhan dengan pekerjaan yang memudahkanku melakukan kecurangan.dulu di Ngawi, Saya seorang Marketing buku yang juga merangkap sebagai kolektor. pernah beberapa kali Saya membaw tagihan puluhan juta Nak. mungkin saja jika pertahanan diriku tidak kuat, uang tersebut sudah masuk di kantor pribadiku.

saat liputan di sekolah, mudah sekali untuk mark up bon bensin namun Saya selalu berusaha untuk tidak melebihkan Nak meski harus nombok. banyak cara untuk memperoleh uang ketika menjadi marketing namun sekali lagi, hanya hati yang yang menjadi benteng terakhir. setahun bekerja sebagai Marketing tidak menjamin diriku bersih dari uang haram Nak. mungkin saja ada yang sudah masuk kedalam diriku bercampur dengan darah. bahkan jika mau kuberitahu, ada beberapa temanku yang harus mengganti uang Perusahaan sampai ratusan juta. sedihnya lagi, dari beberapa diantara mereka harus dirumahkan di kantor polisi karena tidak cukup uang mengganti uang yang Mereka salahgunakan.

Ada kawan yang harus menjual berhektar-hektar sawah orang tuanya demi melunasi tanggungan uang Perusahaan yang raib entah kemana dibawah tanggung jawab mereka. kasihan juga Nak bekerja banting tulang namun harus mengganti uang sebesar itu.

Aku ingat di hari-hari terakhir bekerja di Perusahaan itu, ada uang yang “dihalalkan” pihak Perusahaan untuk karyawannya jika mendapat jualan. semacam bonuslah, di Perusahaan tersebut disebut ‘Tambahan Rabat (TR).’ Aku mengantongi beberapa lembar uang dari bonus tersebut setelah keluar dari Perusahaan dan salah satunya kubelikan Notebook. mudah-mudahan saja uang itu benar-benar halal ya Nak.

Selepas bekerja sebagai Marketing. Aku terdampar di Perusahaan finance. disini mungkin Aku merasa sudah safe karena ditempatkan di posisi staff namun ternyata tidak. persinggunganku kembali pada masalah uang. tugas utamaku adalah menghandle nasabah yang mengalami kerugian ataupun kehilangan. Aku bertanggung jawab penuh pada analisa klaim dan ternyata itu adalah lahan basah dalam masalah uang Nak. Banyak Nasabah yang memberiku uang sebelum proses klaim mereka cair.

Aku selalu berusaha untuk tidak menerima uang pemberian Nasabah jika proses klaim mereka belum cair, namun beda halnya ketika klaim mereka sudah terbayarkan. nampaknya lebih berdamai dengan diri untuk menerima jika mereka memberi namun itupun Aku selalu memaksakan diriku untuk tidak menerima pemberian Nak. Kau harus tahu bahwa ketika hati kita sudah tertawan masalah uang, saat kita sudah terlena akan pemberian dan merasa senang menerima pemberian orang lain maka disaat itu, hati kita sedikit demi sedikit tertawan oleh uang ataupun harta dalam bentuk lain.

Nak, memang beberapa kali Aku menerima uang namun itupun dengan satu syarat, sebelumnya Aku sudah menolak beberapa kali. Kau harus tahu Nak bahwa memang ada beberapa orang yang ikhlas dan ketika kita menolk, ekspresi mereka seakan tidak senang jika kita menolak pemberiannya. jika syarat itu terpenuhi, barulah Aku menerima pemberian. tidak sampai disitu Nak, uang yang diberikan kepadaku secara cuma-cuma tidak pernah kuserahkan kepada Ibumu demi menjaga dirinya dari harta yang sumbernya syubhat. terkadang Aku membelikan bensin atau jika terpaksa kugunakan makan siang. #moduss. hehe. tetapi benar ucapanku yang diatas Nak bahwa Aku tidak berani memberikan uang kepada Ibumu yang sumbernya meragukan.

Pulogadung, 19 Februari 2016

KANTOR DAN DOA LELUCON

Nak, aku tidak sedang membenci sesuatu ataupun Seseorang, tidak pula sedang mengajarimu bergibah tapi terkadang ada hal yang tidak menyenangkan harus diingat supaya kita tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Nak, di kantorku tempat bekerja sekarang, bercanda adalah hal yang lumrah bahkan Aku merasa terkadang candaan sudah melewati batas. Entahlah Nak, mungkin benar bahwa orang bercanda tidak ada batasannya sehingga semua keluar dari mulut tanpa ada filter sama sekali. Sering dalam bercanda, orang akan berusaha sekuat tenaga mengeluarkan energinya untuk melucu karena kebahagiaan mereka saat membuat orang tertawa dan dianggap jenaka sehingga sering hal yang tidak seharusnya dijadikan bahan candaan pun diutarakan.

Nak, sekali lagi Aku tidak sedang membenci namun terkadang, titik kesabaranku sepertinya menguap ketika mereka mencandaiku dengan membawa Ibumu dan Kau yang bahkan masih di dalam rahim. Doa-doa candaan yang tidak baik pun dikeluarkan. Aku penat Nak dengan candaan seperti itu dan sama sekali bagiku bukan hal yang lucu namun Aku masih berusaha diam Nak. Belajar kesabaran dari Ibumu yang sepertinya tidak berbatas.

Ayahmu bukan pecundang Nak, bukan pula penakut. Kita orang Sulawesi tidak pernah diajar menjadi penakut. Aku hanya berusaha belajar bersabar mengikuti cara Ibumu dalam menghadapi sesuatu karena jika kuikuti tabiat masa remajaku, mungkin tiap hari Aku berkelahi disini dengan hal-hal yang tidak kusenangi.di kampung Bapakmu dulu Nak, berkelahi adalah salah satu cara menyelesaikan hal yang tidak disenangi.

Mereka hanya sedang bercanda namun Aku tahu dari raut muka dan nada bicaranya, mereka sedang berkata jujur melalui candaan.

Sejatinya, Aku amat tidak suka jika mereka menjadikan Kau dan Ibumu sebagai candaan namun pada suatu saat jika mulut mereka tidak direm, Aku kusumpal dengan kata-kata yang membuat mereka tersadar.

Nak, suatu waktu ketika Engkau berteman, janganlah terlalu membiarkan dirimu larut dalam candaan yang tidak terkontrol. Tetap arif dalam keadaan apapun bahkan saat marah dan bercanda.

Mampang Prapatan 13, 16/02/16

 

JAKARTA-CIANJUR

Anakku, baru kali ini Aku dan Ibumu berpisah lumayan lama setelah kami menikah. iya Nak, Kami harus terpisah jarak selama 2 minggu selama Ibumu mengikuti diklat kantornya di Ciloto, Jawa Barat. lumayan lama dan jauh kan Nak. tapi tak apalah Nak karena jarak bukanlah semua masalah bagi hubungan Kami.

Ibumu sebenarnya amat sangat berat ikut diklat tersebut bahkan sehari sebelumnya Dia menangis. namun Aku selalu membesarkan hatinya bahwa terkadang ketika kita akan melangkah ke sebuah kondisi, amat sangat berat namun ketika sudah dijalani dan dinikmati, kita terkadang merindukan momen yang dulunya amat dihindari.

Ah, kita memang manusia maha pengeluh Nak. apa-apa dikeluhkan. Aku apalagi, terlalu gampang mengeluhkan hal yang tidak sesuai dengan suasana hatiku padahal kan seringkali terdapat banyak hikmah dalam setiap kejadian yang tidak disukai.

Ada rasa bersalah yang selalu membayangiku Nak. membiarkan Ibumu harus ikut banting tulang mencari nafkah bahkan disaat mengandungmu sekalipun, meski kusadari bahwa tanggung mencari nafkah dalam sebuah keluarga sepenuhnya berada di tangan Suami. apalah Aku ini Nak yang hanya seorang karyawan rendahan dan belum mempu mencukupi kebutuhanmu dan Ibumu. sedih rasanya melihat Ibumu dengan perut yang sudah begitu berat harus berjuang demi keluarga.

Rawamangn, 9 Februari 2016

APA ITU DOA

Anakku, banyak sekali yang ingin kuceritakan kepadamu di akhir pekan ini. Tentang kesibukan mencari rumah kontrakan yang lebih luas, Namun nantilah Aku cerita satu persatu. Kali ini Aku hanya ingin bercerita kepadamu tentang doa.

Anakku, setelah membulatkan tekad pindah kontrakan, Aku dan Ibumu spartan mencari rumah kontrakan di Jakarta Selatan. Tak lupa doa disetiap sujudku, Aku meminta supaya dipertemukan dengan rumah kontrakan maksimal 2 juta dan punya kamar minimal 1. detail banget kan Nak doaku..?? terkadang pula Aku merasa bukan lagi berdoa kepada Tuhan namun seperti memaksakan kehendak, semoga saja tidak.

Anakku, Kau mau tahu akhir dari pencarian rumah kontrakan? setelah 3 hari tanpa kepastian, minggu sore Aku dan Ibumu mendapati sebuah rumah kontrakan di Mampang Prapatan XIII. persis seperti di dalam doaku Nak. harganya 1, 9 juta dan punya 1 kamar tidur. menurutku lumayanlah buat sementara sampai pada waktunya, Aku dan Ibumu bisa menyicil rumah, semoga saja waktu itu tidak terlalu lama.

Setelah memutuskan untuk untuk mengontrak rumah tersebut, ada perasaan menyesal setelah memperhatikan dengan seksama bangunannya masih lama, ubinnya tegel lama, dapur tidak punya wastafel yang paling tidak mengenakkan, ruangannya kotor.

Ah Nak, lama juga Aku menyesali keputusanku sebelum mengingat doa-doaku sebelumnya. sebenarnya rumah tersebut sudah seperti kriteria yang kuminta kepada Tuhan lalu kepada Aku harus menyesal?

Anakku, doa itu akan selalu dikabulkan oleh Tuhan namun ada saja hal-hal yang tidak disukai disisipkan oleh Tuhan supaya kita bisa bersyukur. Anakku, mari kita sama-sama belajar sesuatu yang lebih hakiki. contoh sederhananya tentang doa. jadikanlah doa sebagai bentuk rasa Syukur dan pengharapan kepada Tuhan namun sekali-kali jangan terkesan memaksa. mungkin selama ini Aku tidak berdoa kepadaNya melainkan memaksakan kehendakku supaya dikabulkan olehNya.

Mampang, 8 Februari 2016