PERCAKAPAN DI MEJA MAKAN

Nak, Saya selalu berpesan bahwa hidup bukan cuma masalah perut, bukan melulu tentang makan namun harus kita sadari juga bahwa kita butuh makan agar proses biologis diri kita tetap berjalan. tubuh yang sehat diperlukan agar kita fokus menjalani hidup sesuai syariat Manusia.

Saya tergerak menulis tentang makanan setelah membaca artikel ini Nak. bagaimana seharusnya kita menghargai makanan karena begitu banyak orang yang tidak beruntung seperti kita di muka bumi ini yang hanya makan sekali 3 hari atau dalam seminggu, Mereka hanya makan sekali.

Anakku, Ada satu kebiasaan kurang baik yang tidak kusepakati dengan Ibumu. Dia sepertinya menggampangkan membuang sisa makanannya begitu saja ketika Dia sudah merasa kenyang. Saya sih tidak pernah memaksa untuk menghabiskan makanan jika memang sudah kenyang tapi mbok ya dikira-kira ketika membeli makanan. jika dirasa tidak sanggup menghabisi maka dibeli seadanya aja, jangan lapar mata dan itu sering dilakukan Ibumu. Saya sering jengkel ketika makan dengan Ibumu dan selalu terulang ketika Dia dengan begitu mudahnya hanya memakan sedikit nasi yang dibelinya lalu kemudian berakhir di tong sampah.

Sejak kecil, Ibuku selalu mengajarkan Saya untuk tidak bermain-main dengan makanan. Beliau selalu murka ketika kami anak-anaknya memperlakukan makanan dengan semena-mena. mungkin karena Ibuku merasakan betapa susahnya mencari nafkah sehingga Beliau sangat menghargai makanan.

Dulu ketika ada sisa nasi, Ibuku mengumpulkannya kemudian dijemur alhasil berubah wujud menjadi krupuk kemudian dimakan lagi. begitulah cara Ibuku menghargai makanan.

Saya sendiri tahu betapa panjang dan beratnya pekerjaan mengubah Padi menjadi nasi. Bapakku seorang Petani. Saya sedari SD sudah ikut menggarap sawah sehingga merasakan berat menjadi Petani. awal mula, benih padi ditabur dalam pembibitan. sambil menunggu bibit tersebut berumur sebulan, sawah dibajak menggunakan kerbau yang harus ditarik oleh manusia. bayangkan Nak, dulu jika musim menggarap sawah sudah tiba, Saya dan saudara lelaki Saya yang lain tidak punya libur untuk bermain. sepulang sekolah, kami harus berangkat ke sawah kemudian pada libur hari minggu, mulai pagi dini hari, Kami harus berangkat ke sawah dan baru pulang rumah saat senja menyapa.

setelah benih padi berumur 1 bulan, baru mulai masuk musim tanam. pada saat padi sudah berisi, Saya dan saudara-saudaraku harus menjaga padi tersebut dari serangan hama burung. butuh waktu sebulan juga sampai padi menguning kemudian dipanen. setelah masa panen selesai, padi tersebut harus dijemur sampai kering kemudian digiling. barulah ketika selesai digilang, beras sudah siap dimasak jadi nasi.

Proses tersebut butuh waktu kurang lebih 4 bulan dari musim menggarap sampai panen. menurut Saya, proses paling membosankan saat menjaga padi karena kita harus ke sawah setelah subuh dan pulang rumah menjelang Maghrib. proses tersebut berlangsung setiap hari selama sebulan.

Anakku, Saya menceritakan pengalaman masa kecil bukan niatan riya’ tetapi setidaknya bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk menghargai makanan. cerita Saya diatas khusus proses dari padi menjadi nasi Nak, belum lagi jika kita bercerita tentang bagaimana ikan sampai di meja makan kita atau lauk yang lainnya. semua butuh kerja keras yang harus apresiasi.

Entah nantinya ketika Kau besar Nak, Kau tidak merasakan proses produksi seperti itu namun setidaknya Kau belajar banyak dari pengalaman orang yang terlibat langsung supaya Kau bisa menghargai semua apa yang Kau makan ataupun yang Kau kenakan. tidak ujug-ujug langsung ada Nak.

Itulah mengapa Saya selalu tidak sepakat dengan Ibumu jika menggampangkan menyisakan makanannya dan membuang sisa makanannya begitu saja.

عن جابر رضي الله عنه قَالَ: َسمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ حَتىَّ يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمْطِ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَ لاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فىِ أَيِّ طَعَامِهِ تَكُوْنُ اْلبَرَكَةُ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar  Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian pada setiap keadaannya, hingga akan mendatanginya disaat makan. Sebab itu apabila jatuh sepotong makanan, maka hendaklah ia membuang (membersihkan) kotorannya lalu memakannya. Dan hendaklah ia tidak membiarkannya dimakan oleh setan dan jika telah selesai makan, hendaklah ia menjilati jari jemarinya, karena ia tidak tahu pada bahagian makanan yang manakah adanya berkah”. [HR Muslim: 2033 (135).

Rawamangun, 04 03 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s