Posted in Uncategorized

SEMACAM REVIEW FILM #AADC2

Nak, Sebelum ingatan tentang hari ini menguap dari kepalaku, Saya akan menceritakan semua kepadamu, tentang kekonyolanku bersama Ibumu sepanjang siang tadi yang berakhir penat sesaat sampai di kontrakan.

Nak, ada momen di masa lampu ketika Saya masih berseragam putih biru. sebuah film remaja menghipnotis generasi semasaku Nak. Film yang bercerita tentang percintaan remaja putih abu-abu. Kau mau tahu pengaruhnya film tersebut Nak..?? ruarr biyasaa Nak.  Para remaja tanggung nan labil (Saya juga termasuk Nak, catat itu, hehe) berusaha menampilkan diri mereka seperti di film tersebut. Barisan Siswi bahkan Mahasiswi pada saat itu berlagak centil sok cantik meniru Pemeran cewek di film tersebut.  meski mereka sadar, cetakan si Dian memang sudah hampir sempurna sedangkan Siswa dan Mahasiswa mendadak diam sok cool dan gemar menulis puisi layaknya si Rangga. Meski mereka menyadari bahwa Nicholas Saputra,  si legendaris Rangga memang cool dan tampan dengan mimic cuek, postur badan ideal dan rambut ikal yang membuatnya semakin menawan di mata para mama-mama muda. Nak, sekali lagi Saya mau jujur bahwa Saya termasuk dalam barisan siswa tersebut yang meniru gaya Rangga, nanti Kau bisa baca kumpulan puisi-puisiku yang norak pada saat itu.ha.ha.ha.

Oh iya Nak, Saya tidak sedang ingin menceritakanmu masa laluku yang menye-menye dan masuk dalam pusaran pengaruh film AADC pertama 14 tahun lalu.

Mari Nak duduk manis dan kuceritakan kekonyolanku dengan Ibumu yang ikut larut dalam euphoria sequel  AADC yang mulai tayang 28 April kemarin.

Beberapa bulan yang lalu saat pemberitaan tentang AADC yang akan dibuatkan sequelnya, Saya dan Ibumu sudah berjanji menonton bareng di bioskop, eh bertiga ding denganmu juga yang sudah memasuki 27 minggu dalam perutmu Ibumu.

Keinginan menonton AADC2 semakin membuncah pada saat pemutaran perdana. Namun apalah daya Saya dan Ibumu kuli  kantoran yang pergi pagi pulang malam sedangkan pemutaran perdana film tersebut hari kamis yang berarti Saya dan Ibumu masih harus berkutat dengan pekerjaan di kantor masing-masing.

Kami memulai perburuan tiket pada Jum’at malam. Sedari awal kami merencanakan menonton di kuningan City pukul 19:30 namun berhubung Jum’at kemarin adalah akhir bulan yang berarti di kantorku sedang tutup buku dan diharuskan lembur sehingga rencana awal diundur.

Saya baru sampai di kontrakan pukul 19:00 namun badan yang seakan sudah remuk bekerja di kantor seharian tidak menjadi halangan menonton AADC2. Saya dan Ibumu berangkat ke Kuningan City pukul 20:00. Namun ternyata kami sebenar-benarnya naïf. Bagaimana tidak, kami masih berpikir bisa mendapat tiket nonton pukul 22;00 sedangkan baru menuju loket tiket pukul 21:00. Jelas sudah sold out. Film yang sudah ditunggu-tunggu selama 14 tahun tersebut sudah barang pasti akan diserbu die hardnya Rangga dan Cinta pada awal-awal pemutarannya.

Saya dan Ibumu masih juga tidak menyerah. Saat mengetahui tiket di Kuningan City sold out, kami bergerak ke setiabudi XXI. Ibumu sudah terlihat capek membawamu naik turun tangga namun kondisinya dikalahkan oleh keinginannya menonton Rangga yang sudah 14 tahun menancapkan tanda Tanya di kepala.

Di Setiabudi XXI pun begitu adanya. Semua tiket sold out. Ya gimana lagi, Saya dan Ibumu kembali merencanakan hunting tiket esok hari.

 Siang tadi sekira pukul 11:05, Saya dan Ibumu kembali mencoba peruntungan di Kuningan City. Sesampai di sana, sebuah kejutan hadir di depan kami. Sepagi itu, antrian para Ibu dan Bapak generasi 80-90an sudah memanjang sekitar puluhan meter. Kadung ingin menonton, Saya ikut dalam barisan antrian panjang. Butuh sekitar setengah jam untuk mencapai meja pembelian tiket.

Jpeg
tebak yang mana Ayahmu Nak..??

Tanpa pikir panjang, Saya membeli 2 tiket untuk pemutaran film pukul 14:30. Mengingat masih ada sekitar 2 jam sebelum pemutaran film, Saya dan Ibumu memilih pulang ke kontrakan.

Jpeg
tebak yang mana Ayahmu Nak..??

The Real drawa has begin Nak. Saya sengaja merencakan berangkat pukul 14:00 dari kontrakan ke Kuningan City karena toh jarak Cuma memakan waktu 10-15 menit. Saya dan Ibumu sudah bersiap 5 menit sebelum jam 2. Kami keluar dari pagar rumah dengan motor kesayangan namun tak ada hujan tak ada angin, ban belakang motor gembos tiba-tiba. Saya dan Ibumu berdiskusi apakah sebaiknya menambal ban atau naik angkutan umum.

Mengingat tukang tambal ban jauh, Saya dan Ibumu memutuskan untuk menggunakan angkutan umum. Drama hasn’t end. Kami menunggu taxi namun semua reserve. Saya mencoba memberhentikan bajaj namun ternyata bajaj dilarang melewati daerah rasuna said. Saya dan Ibumu kemudian mencoba menggunakan ojek online namun lagi-lagi aplikasinya macet. Hingga akhirnya Ibumu memesan Gojek dan berangkat terlebih dulu sedangkan Saya masih harus menunggu sekitar10 menit sebelum akhirnya berhasil memesan ojek.

Saya dan Ibumu akhirnya tiba di Kuningan City setelah melalui berbagai drama pra menonton AADC2 10 menit sebelum film dimulai.

Untuk review filmnya Nak, sudah terlalu banyak yang menulisnya. Mereka mayoritas orang tua yang pada saat film AADC 1 masih berstatus remaja namun tidak etis jikalau Saya tidak ikut-ikutan mereview filmnya dari sudut pandangku sendiri.

Di Film AADC 1, endingnya ketika Rangga pergi ke New York meninggalkan Cinta di Jakarta dengan segudang harapan. Nah di AADC 2, cerita itu nampaknya akan dituntaskan.

Geng Cinta yang berjumlah 5 orang harus kehilangan salah satu personilnya  paling bijak, si manis Alya yang mengalami kecelakaan. Selain Cinta, Alya lah yang memiliki banyak fans die hard atau bahkan bapak-bapak muda lebih banyak yang jatuh hati kepada Alya daripada Cinta.

Cinta dan teman-temannya memilih untuk berlibur ke Yogyakarta setelah lama tidak bertemu. Ada banyak hal yang berubah setelah sekian lama. Milly sudah menikah dengan Mamet dan sedang mengandung. Karmen baru saja pulih dari ketergantungan drugs sebagai pelampiasan kekecewaanya ditinggalkan oleh suami yang memilih WIL sedangkan Maura juga sudah menikah dan memiliki anak. hanya Cinta yang masih belum menikah meski sudah bertunangan dengan pengusaha muda nan kaya,Trian.

Tidak seperti film pertama yang berlatar Ibu Kota, di film kedua ini, Yogyakarta dan New York menjadi tempat penuntasan asmara Rangga dan Cinta.

Hidup memang adalah kreasi semesta dan tidak ada yang kebetulan didalamnya meski manusia sering menganggapnya sebuah kebetulan. Di Yogyakarta, ketika Karmen dan Milly sedang belanja, Mereka melihat Rangga yang juga sedang berada di Yogyakarta menjenguk Ibu tirinya.

Karmen memberitahu kepada Cinta keberadaan Rangga di Yogyakarta namun Cinta, meski masih memendam kasih kepada Rangga namun dia memilih untuk tidak menemui Rangga. Karmen adalah actor dibalik berrtemua kembali Rangga dan Cinta. Dia mengirimi pesan kepada Rangga bahwa Cinta menghadiri pameran tunggal seni rupa Eko Nugroho. Akhirnya mereka bertemu dan mencoba untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan masa lalu.

Cinta tetap menutup perasaannya kepada Rangga dan berdalih bahwa pertemuannya dengan Rangga karena permintaan teman-temannya. Cinta menceritakan semua bahkan juga tentang pertunangannya dengan Trian. Rangga menelan ludah mengetahui Cinta sudah bertunangan. Rangga kemudian meminta Cinta untuk menemaninya menjejak langkah di setiap sudut Yogyakarta sebagai momen terakhir pertemuan Mereka.

Rangga kemudian membawa Cinta ke Bukit Punthuk Setumbu, Rumah Doa Bukit Rhema, Istana Ratu Boko dan beberapa tempat lain. Di tempat-tempat tersebut, terjadi dialog antara Cinta dan Rangga tentang banyak hal, tentang masa lalu mereka, masa sekarang dan masa depan.

Ciuman kembali menjadi akhir perjalanan Mereka hari itu. Tak lupa Rangga menghadiahi Cinta sajak-sajaknya. Cinta kembali ke Jakarta bersama teman-temannya dan beberapa hari kemudian, Rangga menyusul ke Jakarta untuk selanjutnya kembali ke New York . sebelum berangkat, Rangga mengirimi pesan kepada Cinta bahwa dia akan ke Jakarta dan meminta Cinta bertemu sekali lagi. Cinta tidak mengindahkan pesan tersebut sampai akhirnya saat di Jakarta, Rangga rela mendatangi Cinta di Galeri miliknya.

Cinta tetap pada pendiriannya untuk tidak lagi bertemu dengan Rangga. Namun sebelum Rangga benar-benar pulang ke New York, Dia menuntut Cinta untuk mengatakan bahwa ciuman terakhir Mereka di  Yogyakarta tidak berarti apa-apa. Cinta benar-benar mengucapkan bahwa ciuman tersebut sama sekali tidak ada artinya dan membuat Rangga akhirnya pulang ke New York. Saat keluar dari Galeri, Rangga berpapasan dengan Trian yang datang menjemput Cinta.

Trian menjadikan masalah tentang Cinta yang masih berhubungan dengan Rangga bahkan Mereka bertemu di Yogyakarta. Hal tersebut yang kemudian membuat hubungan Cinta dan Trian kandas di tengah jalan.

Diakhir cerita, Cinta menyusul Rangga ke New York dan menuntaskan masa lalu Mereka di sana dalam pelukan dan ciuman dalam balutan salju.

Hal yang lazim ketika sequel sebuah film yang terlalu berkesan pada episode awal akan dikritik oleh Para Penontonnya. Berbagai nada sumbang terhadap film ini. Terlalu FTV, terlalu banyak iklan yang disisipkan di beberapa adegan, sampai pada Para budayawan yang kontra dengan komunitas Salihara yang katanya harus menjadi seperti budayawan Salihara untuk menikmati film ini. Oh iya dialog antara Rangga dan Cinta tentang Pemilu yang konon pilihan Mereka sama saat pilpres kemudian Rangga bertanya kepada Cinta, tidak menyesal kan? Entah satire atau penegasan, mbuhlaahhh.

Saya sendiri terkesan dengan film ini karena berhasil membuat Nicholas Saputra tertawa lepas di beberapa adegan bersama Dian Sastro dan juga melihatnya menangis saat berpelukan dengan Ibu tirinya. Tahu sendiri kan Rangga di film AADC 1 adalah sosok cool dan sinis dengan ekspresi muka yang serius.

Saya kurang menikmati soundtrack dari film ini yang menurutku kurang mewah seperti AADC 1 dan juga puisi-puisi Aan Mansyur yang terlalu jarang diperdengarkan.

Soal iklan Aqua, Line, L’oreal, Lenovo yang ada di film tersebut sudah menjadi keresahan umum jadi tidak perlu untuk kuulangi.

Whateverlah, namun setidaknya film ini mampu membawaku kembali ke masa remaja yang maha asyik dan yang terpenting, pertanyaanku tentang siapa yang akan menemaniku menonton sequel film ini terjawab sudah Nak, yaitu Ibumu. Gadis yang 14 tahun lalu entah seperti bagaimana masanya.

Mampang Prapatan 300416, 23:59

Penghujung April

 

Posted in Uncategorized

KITA SEMUA PUNYA AIB

T : sy mnta ijazah doanya agr bs cpt hafal Al-Qur’an & pljran kuliah..”
J : Jngn bnyk nonton tv, jng bnyk brgunjing, bnyk2lah berselawat.”

T diatas orang yang bertanya kepada Gus Mus via Twitter dan J itu Gus Mus yang menjawab pertanyaan. sungguh beliau mengerti hakekat hidup ini Nak. Saya ingin belajar bersamamu dari hidup ini. Saya belajar menjadi Ayah dan Kau belajar menjadi anak meski intinya kita sedang belajar bersama-sama menjadi Manusia sebenarnya.

Nak, Saya ingin sekali mendidikmu dari perilakuku sendiri. maksudnya apa yang kuperlihatkan kepadamu adalah sesuatu yang baik.

nantinya jika Saya tidak menuruti permintaanmu sesuatu yang membuatmu larut dalam kemewahan, maafkan Nak karena benar-benar Saya ingin mendidikmu menjadi pribadi yang fokus pada substansi, belajar tentang apa sebenarnya yang harus dijalani di dunia ini meski sadar-sesadarnya, Saya sendiri belum sampai pada apa yang kuinginkan untukmu, namun setidaknya kita bisa belajar bersama-sama.

Saya mengamini jawaban Gus Mus atas jawaban diatas.

Nak, TV telah menjelma menjadi realitas kedua dalam hidup kita dan begitu berpengaruhnya TV dalam hidup kita yang menawarkan keindahan duniawi. kita terjebak dalam angan-angan yang melenakan.

Saya pernah berada dalam posisi itu Nak. terlalu banyak menonton TV dan mencoba untuk meniru apa yang menurut TV keren dan semua absurditas yang ditawarkan kepada penontonnya.

tidak apa-apa yah Nak kalau nantinya tidak ada TV di rumah kita atau kalau memang harus terpaksa membeli TV, yang kita tonton sepakbola aja ya Nak.

tentang bergunjing Nak. Saya dan Ibumu sedang berusaha untuk tidak pernah menceritakan keburukan orang lain. ketika pulang kerja dan berkumpul dengan Ibumu di rumah, Kami hanya bercerita tentang film kesukaan, lagu favorit dan apa saja yang tidak bersinggungan dengan orang lain. mudah-mudahan kita bisa istiqomah Nak.

masalah bershalawat seharusnya tidak lepas dari helaan nafas kita Nak. namun lagi-lagi ini hanyalah teori yang menggumpal di kepalaku. lebih banyak mulutku mengucap hal yang tidak penting daripada bershalawat.

itulah Nak Ayahmu yang sedang belajar dan masih harus terus belajar

Rawamangun, 29 04 16

Posted in Uncategorized

IBUMU

ini cerita random Nak. draft di blog ini yang selalu gagal Aku tuntaskan.

Aku tidak tahu harus menceritakan apa lagi tentang kebaikan Ibumu karena setiap detik kulalui bersamanya hanyalah kebaikan dan kesabaran yang ditunjukkannya kepadaku

tadi pagi, Ibumu memeriksa dompetku. Ibumu mendapati dompetku hanya berisi uang 50 ribu dan diam-diam Ibumu memasukkan uang 100 ribu ke dompetku.

Tahu Kau Nak kebiasaanku yang kurang disenangi Ibumu..? Aku paling banter membawa uang di dompet 100 rb dan selalu saja Ibumu tidak sepakat karena menurutnya, jalanan Jakarta penuh tanda tanya. ada saat dimana kita perlu sedikit uang lebih saat di jalan.

maklumlah Nak, masih terbawa kebiasaan saat kuliah dulu. dulu bukan menghemat tetapi memang tidak ada yang dikantongi.

ke kampus cuma bawa uang ongkos pete-pete, makannya paling numpang di kos teman itupun makan mie rebus yang kuahnya dibanyakin.

Ibumu itu Nak. punya segudang milisi kesabaran yang tidak kupunyai. Aku selalu gagal mengikuti alur kesabarannya.

mari kita sama-sama belajar untuk bersabar Nak.

dengar-dengar Nak. tirakat paripurna dalam maqam kerohanian adalah orang yang sama sekali tidak dianggap bahkan diremehkan dan kehadirannya seperti tidak diinginkan namun pribadi tersebut tetap tidak merasa terganggu fokusnya terhadap Tuhan. melakukan sesuatu bukan karena menginginkan balasan. nothing to lose. pribadi yang olehnya ikhlas adalah puncak kebahagiaan.

Rawamangun, 28/04/2016

Posted in Uncategorized

LAGI TENTANG “NAMA”

susah benar memutuskan namamu kelak. sebelumnya Aku dan Ibumu sudah deal menamaimu “Nugraha Semesta” namun lagi-lagi kami masih kurang sreg.

memang benar sih kata temanku bahwa memilih nama untuk anak itu susah yang pas di hati dan arti mama yang diingini.

Kami hanya ingin memberimu nama yang sekaligus sebagai doa dari kami.

meski nama itu hal yang sederhana namun Aku tidak akan memberimu nama yangmemungkinkan kelak Kau dicela oleh teman-temanmu. Aku contoh nyata Nak.

Aku tidak pernah jujur kepada siapapun sebelumnya bahwa sejak bocah sampai remaja, nama menjadi momok bagiku karena konotasinya yang tidak baik alhasil, Aku sering dijadikan olok-olokan temanku. Aku tidak mau itu terjadi padamu Nak.

sekilas memang tidak ada yang aneh pada nama lengkapku namun panggilanku yang bermasalah. nantilah Aku bisiki masalah nama yang menjadi horor bagiku.

saat menginjak remaja, salah seorang saudara sepupuku mengusulkan kepadamu untuk mengganti nama pangilan, memang sukit sih nak namun itu kulakukan saat memperkenalkan diri dengan orang yang baru kukenal.

ah Nak, kenangan nama benar-benar menghantuiku. untukmu jangan sampai terulang.

untuk sementara, Aku dan Ibumu ingin menamaimu “Zen Ali Semesta.” soal arti, kapan-kapan Aku ceritakan kepadamu dan kenapa kami memilih gabungan 3 kata tersebut untuk dijadikan doa padamu.

Mampang, 27 04 2016

Posted in Uncategorized

TAK ADA CERITA

Nak, entah kenapa sebulan terakhir, Aku begitu malas meninggalkan jejak di sini. di tempat yang kujanjikan padamu untuk bercerita apa saja.

benar-benar payah diriku Nak. tidak bisa melawan kemalasan yang datang bertubi-tubi. harusnya kan sudah banyak kisah yang kuceritakan dan nantinya bisa Kau kenang.

Ah, entahlah Nak. semua yang datang menjadi begitu berat bahkan jemariku tak sanggung untuk sekedar menyapamu. Aku pemalas yang tergilas zaman.

umurmu sudah memasuki 29 minggu atau bahkan lebih, ah payah betul diriku Nak bahkan tidak hapal umurmu di kandungan.

setiap kali sehabis chep up, Aku selalu menceritakan, namun chek up minggu lalu terlewatkan karena kelemahanku melawan rasa malas

Ah, payah Nak

Posted in Uncategorized

TIDAK SEDANG PINDAH RUMAH

Nak, ini cerita yang tertinggal Jumat kemarin.

Sekilas perjalanan pulang dari kantor Jum’at sore kemarin akan berjalan seperti biasanya. Jam 5 sore, Saya sudah merapikan meja kerja bersiap pulang. Meski raga masih di kantor namun Jiwa sudah memasuki pintu rumah lalu mencium kening isteri yang sedang hamil tua kemudian menyeruput kopi hitam buatan Isteri. Kopi asli dari kampungku yang dikirim Mace bulan lalu.

jalur altenatif paling rasional bagi Saya yang berkantor di Pulogadung dan ngontrak rumah di Mampang adalah arah Kampung Melayu lewat Stasiun Tebet kemudian belok kiri ke Jl. Tebet dalam Timur-arah ke Pancoran-ke kanan arah Mampang.

Selalu sesaat tiap pulang kantor, Saya selalu mempersiapkan beribu kali lipat kekuatan dan minta doa Isteri untuk memenangkan perjuangan melawan tengilnya macet di Pancoran. Saya sudah memahami pola macet di daerah tersebut. Selepas POM bensin di depan Universitas Sahid, kendaraan sudah mulai padat dan pada akhirnya sesampai di depan warung Mie Aceh, roda 4 hanya bisa bergeser sedangkan roda 2 berlomba naik ke trotoar. Kadang sih Saya ikut-ikutan lewat trotoar ketika terlalu penat, (padahal sering).

Setiap melewati daerah Tebet Dalam Timur, Saya selalu melambatkan laju motor untuk sekedar menikmati suasana di bilangan tersebut yang riuh oleh pedangan di sepanjang trotoar. Layaknya pasar malam di kampungku. Jalanan sudah dipadati oleh penjual aneka barang mulai dari kuliner sampai Pakaian. Ada nafas kehidupan bagi Para pedagang kaki lima di daerah tersebut selepas Senja. Sepertinya Mereka memulai aktivitas berniaga ketika Para kuli kantoran seperti Saya sudah menyelesaikan rutinitas kantor.

Kemarin ada pemandangan lain saat  melintas di daerah tersebut. kerumuman orang yang seperti sedang menonton konser. sejurus kemudian, Saya melihat beberapa mobil pick up dan gerembolan pria paruh baya berseragam coklat bersenjata pentungan sedang mengobok-obok para Pedangan.

Satpol-PP sedang menjalankan tugasnya..!!

Saya berusaha memarkir motor namun tidak mendapat space karena padatnya kendaraan. Saya kemudian mengikuti sebuah mobil pick milik satpol-PP yang berjalan pelan sambil beberapa dari mereka berjalan dibelakangnya dan menyita semua barang dagangan yang ada di trotoar. Sebagian dari Mereka asyik mengangkut ke atas mobil truk gerobak nasi goreng, sepatu jualan, baju jualan dan semua peralatan pedagangan yang tersisa di sepanjang trotoar.

2 unit mobil Pick up dan sebuah truk penuh dengan barang dagangan. Mereka tidak sedang pindah rumah nak.

Saya menyalip mobil mobil Satop-PP, kemudian bagi Pedagang yang belum diobrak-abrik, Saya kabarkan kepada Mereka bahwa ada pasukan tim Penggusur sebentar lagi akan melewati Mereka. Seorang pemuda penjual tas dengan segera mengemasi barang dagangannya. 2 orang tukang ojek online berhenti membantu dan juga, untuk mengurangi rasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak melihat kedzaliman di depan hidung, Saya kemudian ikut membantu Pedagang tersebut mengemasi tas jualannya supaya tidak berakhir di atas mobil patroli tim Penggusur.

IMG_20160408_180647
Gerobak yang diangkut

Tidak ada perlawanan dari para Pedagang. Beberapa dari mereka hanya pasrah nan melihat nanar sumber asap dapur diangkut oleh satpol-PP. Mungkin Mereka berpikir bahwa ketika melawan, bukan hanya barang dagangan yang akan nangkrik di atas mobil pick up namun mungkin saja Mereka pun akan bernasib sama. Tetapi jika Para Pedagang berpikir seperti dugaanku, Mereka tentu akan diceramahi oleh Nyai Ontosoroh. “Kau harus bertindak terhadap siapa yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekalipun hanya segumpal batu yang tergeletak di bawah jendela.”

Hidup serasa berhenti bagi Para Pedagang. Mereka dirampas haknya oleh Negara yang seharusnya menyediakan bagi Mereka penghidupan. bahkan ketika Mereka tetap berjuang menyambung hidup dengan berjualan pun tanpa mengharapkan bantuan Negara sama sekali, masih saja kebebasan Mereka dirampok. Hidup benar-benar tidak adil, Kamerad.

Okelah, akan ada yang berkilah bahwa pasti Mereka sudah diperingati sebelumnya terhadap larangan berjualan di trotoar namun karena tetap mengulanginya maka Mereka harus digusur secara paksa. Iya mungkin dalih itu benar namun melarang Mereka berjualan tanpa solusi dari Negara pun sama saja melarang Mereka hidup. Toh Negara baik-baik saja ketika Perusahaan retail bergetayangan dimana-mana tanpa memperdulikan nasib penjual disamping kiri kanan.

Oleh sebab kepala Saya terlalu rumit memikirkan relasi Negara dengan Rakyat masalah penggusuran. Saya hanya ingin melihat potret individu yang bermain didalamnya. Para anggota Satpol-PP yang bertugas. Saya sama sekali tidak menyalahkan Mereka karena toh hanya menjalankan tugas lagian Mereka tidak kuasa melawan atas perintah atasan. Mereka takut dipecat. Namun disisi lain, ada oknum yang sepertinya terlalu memperlihatkan keangkuhannya.

Tepat di depanku ketika 2 anggota Satpol-PP menaikkan barang dagangan sepatu dengan seenaknya. Tanpa ditata dengan baik bahkan Saya yakin, akan ada  dari sepatu tersebut kehilangan pasangannya. Berapa kerugian Pedagang atas kehilangan barang dagangannya.

Saya mengira-ngira, masihkah barang dagangan tersebut akan kembali ke Pemiliknya.

Ada pula 2 Anggota Satpol-PP meneriaki sopir Bajaj yang menerobos lampu merah sementara Mereka juga sedang mengendarai motor dan tidak mengenakan helm. Ah, kita memang selalu melihat aib orang lain tanpa pernah menyadari begitu banyak cacat di diri kita sendiri.

Meski begitu, Saya masih mendapati ada dari Mereka yang baik. Seorang Bapak yang mungkin seumuran Bapakku. Dia menyeru kepada penjual Martabak, “jangan terlalu mepet ke jalanan jika tidak mau digusur.”

Saya kemudian berpikir bahwa sebenarnya kita hanya menjalani peran masing-masing namun baik-buruknya peran tersebut kembali kepada diri kita, seperti apa menjalani peran hidup.

Sepanjang perjalanan pulang, kejadian tersebut tidak mau minggat dari pikiranku. Saya bahkan sempat berpikir, kenapa Tuhan membiarkan hal tersebut terjadi berulang.?

Kenapa kaum Proletar harus selalu tertindas.?

Ataukah memang Tuhan tidak pernah ikut campur dalam hidup kita..?

#hmmmm

#lanjutkan perjalanan, Isteri sudah menanti dalam cemas, kok suaminya yang tampan belum jua pulang padahal seharusnya jam segini sudah dirumah bercengkerama

Terlalu banyak pikiran yang semakin memberatkan kepalaku atas kejadian tersebut.

Namun ternyata Tuhan Maha baik atas Saya.  Dia tidak ingin membuat Saya larut dalam pikiran-pikiran gamang.

Tidak lebih dari 10 jam, Tuhan mengirimkan jawaban atas gugatan-gugatanku terhadapNya.

Kebetulan, eh bukan kebetulan ding. Memang rencana Tuhan kaleee. Jum’at malam pekan ini, bertepatan dengan acara Kenduri Cinta bersama Emha Ainun Najib di pelataran TIM.

Setelah melepas penat, Saya pamit kepada Isteri mengikuti acara tersebut. Sesampai di tempat acara, Jamaah Maiyah sudah membludak. Saya memilih tempat di pinggir panggung.

Di sesi Tanya jawab, salah seorang  Jamaah bertanya kepada Cak Nun “ Cak,  kok logikaku selalu tidak sejalan dengan Tuhan..??

Lah kok Tuhan kau tempatkan di pikiranmu. Terserah Tuhan kok. Dia mau apa atau bagaimana. Lah Tuhan kok dipertanyakan. Tuhan itu menguasai akal. Bagaimana bisa Dia dijangkau dengan akal.” Jawab Cak Nun

Saya langsung berpikir bahwa jawaban tersebut sebenarnya untuk pertanyaan Saya tadi tentang penggusuran di daerah Tebet.

Seharusnya dalam setiap hal, kita memang tidak mempertanyakan keadilan Tuhan. Lah Dia Tuhan kita Cuma makhluk. Kok berani-beraninya mempertanyakan keadilanNya.

Lha wong ketika di akhirat nanti, seandainya Tuhan memaklumatkan bahwa semua Manusia yang rajin Shalat, rajin ke Gereja, taat beribadah di Wihara, melakukan kebaikan sepanjang hidupnya, semuanya dimasukkan ke neraka sedangkan orang yang dzalim dan melanggar perintahNya dimasukkan ke dalam Syurga, ya terserah Dia kok. Bagaimana bisa kita yang Cuma makhluk protes terhadap keputusanNya sedangkan Dia adalah pemilik dan berkuasa atas segalanya.

Lha Dia Tuhan kok, terserah Dia maunya apa dan bagaimana..!!

Oke Tuhan, Saya tidak akan mempertanyakan keadilanMu apalagi keberadaanMu. Saya hanya akan berusaha menempatkan diri ini sesuai porsinya.

Tuhan Maha asyik dengan segala hal paradoks yang dikreasiNya di dunia ini.

 

Mampang Prapatan, 09 04 2016 23:03

Posted in Uncategorized

TENTANG NAMAMU

Nak, semalam Aku dan Ibumu serius menyiapkan nama untukmu. itu kedua kalinya saat beberapa bulan yang lalu kami iseng mencari nama yang sesuai untukmu namun semalam nampaknya kami mulai serius.

jika dulu ada beberapa nama yang menurut kami cocok untukmu, Daffa, Saffa, Gilang, Rahardian, Dzaky dan beberapa alternatif nama yang diusulkan oleh Mbahti mu. tetapi dari sekian usulan nama tersebut, belum ada yang benar-benar sreg menurut Ibumu.

semalam terlihat benar di raut keseriusan Ibumu mencarikanmu nama. Dia menetapkan tema nama untukmu yang berhubungan dengan alam raya. Ibumu sangat suka nama Angkasa tetapi menurutnya, nama tersebut sudah disematkan ke salah seorang anak temannya. dianendra juga menurut Ibumu keren dan tidak neko-neko.

setelah berpikir lama, ada banyak nama yang muncul, Alam, Cahaya, Hujan, Bumi angin, Laut, Samudera, Teluk. pokoknya nama yang berhubungan dengan alam semesta.

Tiba-tiba saja Ibumu terpikir untuk memberimu nama belakang “semesta.” oke untuk kata ini Aku sendiri setuju lagipula dalam beberapa tulisan, Aku suka menyebut semesta.

berikutnya, mencarikanmu nama depan. Ibumu suka nama ” Cahaya Semesta” namun berhubung hasil usg beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa kemungkinan Kau lahir sebagai seorang Pria dan menurut Ibumu, “cahaya” terlalu feminim maka kami memutuskan untuk menjadikan nama tersebut alternatif seandainya saja saat lahir ternyata Kau seorang Perempuan.

Aku ingin menamaimu “Semesta Raya” namun menurut Ibumu terlalu umum. setelah lama bergerilya di om gugel tentang nama depan yang kira-kira pantas digabungkan dengan semesta, pada akhirnya untuk sementara, kami sepakat menyediakan nama untukmu “Nugraha Semesta.” kira-kira artinya pemberian semesta.

Ibumu ingin memanggilmu dengan nickname “Uga.” namun Aku lebih suka memanggilmu Nugra. Uga terlalu umum menurutku. Aku punya nenek bernama Uga pun juga punya teman kuliah dengan nama yang sama.

Entahlah Nak, akhirnya nanti Kau dinamakan siapa, Kami cuma mencarikanmu nama sebagai salah satu doa awal dari kami untukmu. semoga saja Kau sepakat dinamakan Semesta. nama semesta yang mengasihi.Aku suka kata itu Nak tetapi jika sekiranya Kau tidak suka nama itu, nanti Kau boleh saja menggantinya Nak.

Toh, apalah arti sebuah nama kan Nak.

Rawamangun, 04 04 2016