PENELEPON IBUMU SIANG ITU

“iya, iya, ya.!” suara Ibumu menjawab teleponnya.

Sekian menit Aku mendengarkan percakapan Ibumu dengan seseorang ditelepon. Aku tidak tahu persis siapa yang meneleponnya.

Siapa Dek..?? tanyaku saat melihat raut Ibumu dengan muka kebingungan.

ga tau Kak, Ga jelas..!! Jawab Ibumu dengan nada pelan sambil tetap mendengarkan pembicaraan dari penelepon gelap.

Aku mengambil telepon Ibumu dan memulai pembicaraan dengan orang yang menelepon Ibumu tanpa identitas. suara seorang Pria dengan bahasa yang amat tertata.

Ini siapa, kok bisa tahu nomor telepon Isteriku..?? Nada suaraku mulai meninggi ketika Aku sudah curiga bahwa yang menelepon adalah agen asuransi.

Oh, iya Pak, maaf sebelumnya Saya dari B*** L*** mau menawarkan produk kami.

Asuransi kan..?? Aku menyerangnya dengan pertanyaan

oh, dibilang Asuransi bukan,

oh gini Pak, Saya juga dari Perusahaan finance namun Perusahaan kami selalu menghormati nasabah dengan cara bertatap muka, tidak seperti yang Bapak lakukan sekarang. hanya melalui telepon dan kemungkinan banyak hal-hal yang dispute jika penjelasannya melalui telepon.

darimana Bapak memperoleh nomor telepon Isteriku..??

“dari kantor Pak.” Jawabnya singkat

harusnya kantor induk dari Perusahaan Bapak melindungi data pribadi seseorang, tidak serta merta membeberkan kepada pihak yang tidak berwenang

Sambil terus mengomel dengan nada tinggi, tanpa kusadari, dari seberang telepon, Dia sudah menutup teleponnya.

Nak, saat itu Aku merasa menang. merasa sudah melampiaskan kejengkelanku terhadap perusahaan Asuransi yang beberapa bulan yang lalu melakukan hal yang sama terhadap Ibumu. menghubunginya lewat telepon dan menjelaskan produk asuransi kemudian Ibumu yang dasarnya orang baik mendengarkan sambil sesekali bilang iya. kata “iya” Ibumu sebenarnya bukan persetujuan ikut asuransi tersebut namun lebih kepada menghormati lawan bicaranya. ternyata perkataan iya direkam oleh sales tersebut dan dijadikan alat legitimasi bahwa Ibumu menyetujui ikut asuransi.

beberapa hari kemudian, tabungan Ibumu terpotong 450,000 untuk asuransi tersebut. Aku mulai kesal dengan cara seperti itu. pada akhirnya Ibumu menelepon kantor pusat asuransi tersebut dan meminta dibatalkan.

beberapa hari ini, Aku baru menyadari betapa naifnya Aku memarahi agen asuransi yang menelepon Ibumu beberapa waktu yang lalu. Aku tidak pernah menyadari diriku yang juga seorang staff admin di Perusahaan finance bahkan Aku sudah sering mendengarkan keluh kesah dari para Marketing di kantorku yang seakan dianggap sebelah mata oleh nasabah. mereka bertaruh dilapangan dengan sekuat tenaga, tak terkira perjuangan yang mereka lakukan. hujan dan panas tidak menjadi halangan.

Nak, ada agen Dokter di kantorku yang sering membagi kisahnya kepadaku saat menemui Dokter. pernah suatu waktu, Dia disuruh menunggu oleh Dokter berjam-jam dan ketika Dokter sudah keluar dari ruangannya, Dia hendak menyalami Dokter tersebut namun tangannya sama sekali tidak disambut.

seringkali pula Dia di sms oleh Dokter dengan kata-kata yang kurang mengena di hati. agen tersebut seorang Ayah dengan putri berumur 1,5 tahun. Aku membayangkan Dia rela menggadaikan dirinya di depan nasabah demi keluarganya.

Lalu kenapa Aku tidak sedikit memilih bersabar ketika Ibumu ditelepon oleh Agen Asuransi. tidakkah Aku membayangkan betapa sedihnya anak isterinya ketika Dia pulang ke rumah dan menceritakan bahwa Dia baru saja diomelin oleh Nasabah, dan itu Aku yang mengomelinnya Nak.

Maafkan Bapakmu yang masih belum jua belajar banyak hal dari hidup. masih selalu memendam keegoan yang terus mendarah daging.

Aku selalu berpesan kepadamu Nak jikalau ingin belajar bersabar, tidak perlu belajar kepada orang yang tidak Kau kenal. ada Ibumu yang menurutku sudah memiliki ilmu sabar. tak sekalipun kulihat Ibumu berbicara keras kepada orang lain bahkan terhadap orang yang mendzaliminya. tidak sekalipun ada kata-kata ketus yang diucapkannya. hanya senyum yang selalu tersungging dari bibirnya.

saat ditelepon oleh agen Asuransi yang kumarahi, itu yang kedua kalinya. tetapi tetap saja Ibumu melayaninya dengan suara lunak tanpa ada kata-kata kasar.

Oke Nak. doakan Aku supaya bisa sedikit mengikuti jejak kesabaran yang dimiliki oleh Ibumu.

Rawamangun, 01 04 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s