TIDAK SEDANG PINDAH RUMAH

Nak, ini cerita yang tertinggal Jumat kemarin.

Sekilas perjalanan pulang dari kantor Jum’at sore kemarin akan berjalan seperti biasanya. Jam 5 sore, Saya sudah merapikan meja kerja bersiap pulang. Meski raga masih di kantor namun Jiwa sudah memasuki pintu rumah lalu mencium kening isteri yang sedang hamil tua kemudian menyeruput kopi hitam buatan Isteri. Kopi asli dari kampungku yang dikirim Mace bulan lalu.

jalur altenatif paling rasional bagi Saya yang berkantor di Pulogadung dan ngontrak rumah di Mampang adalah arah Kampung Melayu lewat Stasiun Tebet kemudian belok kiri ke Jl. Tebet dalam Timur-arah ke Pancoran-ke kanan arah Mampang.

Selalu sesaat tiap pulang kantor, Saya selalu mempersiapkan beribu kali lipat kekuatan dan minta doa Isteri untuk memenangkan perjuangan melawan tengilnya macet di Pancoran. Saya sudah memahami pola macet di daerah tersebut. Selepas POM bensin di depan Universitas Sahid, kendaraan sudah mulai padat dan pada akhirnya sesampai di depan warung Mie Aceh, roda 4 hanya bisa bergeser sedangkan roda 2 berlomba naik ke trotoar. Kadang sih Saya ikut-ikutan lewat trotoar ketika terlalu penat, (padahal sering).

Setiap melewati daerah Tebet Dalam Timur, Saya selalu melambatkan laju motor untuk sekedar menikmati suasana di bilangan tersebut yang riuh oleh pedangan di sepanjang trotoar. Layaknya pasar malam di kampungku. Jalanan sudah dipadati oleh penjual aneka barang mulai dari kuliner sampai Pakaian. Ada nafas kehidupan bagi Para pedagang kaki lima di daerah tersebut selepas Senja. Sepertinya Mereka memulai aktivitas berniaga ketika Para kuli kantoran seperti Saya sudah menyelesaikan rutinitas kantor.

Kemarin ada pemandangan lain saat  melintas di daerah tersebut. kerumuman orang yang seperti sedang menonton konser. sejurus kemudian, Saya melihat beberapa mobil pick up dan gerembolan pria paruh baya berseragam coklat bersenjata pentungan sedang mengobok-obok para Pedangan.

Satpol-PP sedang menjalankan tugasnya..!!

Saya berusaha memarkir motor namun tidak mendapat space karena padatnya kendaraan. Saya kemudian mengikuti sebuah mobil pick milik satpol-PP yang berjalan pelan sambil beberapa dari mereka berjalan dibelakangnya dan menyita semua barang dagangan yang ada di trotoar. Sebagian dari Mereka asyik mengangkut ke atas mobil truk gerobak nasi goreng, sepatu jualan, baju jualan dan semua peralatan pedagangan yang tersisa di sepanjang trotoar.

2 unit mobil Pick up dan sebuah truk penuh dengan barang dagangan. Mereka tidak sedang pindah rumah nak.

Saya menyalip mobil mobil Satop-PP, kemudian bagi Pedagang yang belum diobrak-abrik, Saya kabarkan kepada Mereka bahwa ada pasukan tim Penggusur sebentar lagi akan melewati Mereka. Seorang pemuda penjual tas dengan segera mengemasi barang dagangannya. 2 orang tukang ojek online berhenti membantu dan juga, untuk mengurangi rasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak melihat kedzaliman di depan hidung, Saya kemudian ikut membantu Pedagang tersebut mengemasi tas jualannya supaya tidak berakhir di atas mobil patroli tim Penggusur.

IMG_20160408_180647
Gerobak yang diangkut

Tidak ada perlawanan dari para Pedagang. Beberapa dari mereka hanya pasrah nan melihat nanar sumber asap dapur diangkut oleh satpol-PP. Mungkin Mereka berpikir bahwa ketika melawan, bukan hanya barang dagangan yang akan nangkrik di atas mobil pick up namun mungkin saja Mereka pun akan bernasib sama. Tetapi jika Para Pedagang berpikir seperti dugaanku, Mereka tentu akan diceramahi oleh Nyai Ontosoroh. “Kau harus bertindak terhadap siapa yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekalipun hanya segumpal batu yang tergeletak di bawah jendela.”

Hidup serasa berhenti bagi Para Pedagang. Mereka dirampas haknya oleh Negara yang seharusnya menyediakan bagi Mereka penghidupan. bahkan ketika Mereka tetap berjuang menyambung hidup dengan berjualan pun tanpa mengharapkan bantuan Negara sama sekali, masih saja kebebasan Mereka dirampok. Hidup benar-benar tidak adil, Kamerad.

Okelah, akan ada yang berkilah bahwa pasti Mereka sudah diperingati sebelumnya terhadap larangan berjualan di trotoar namun karena tetap mengulanginya maka Mereka harus digusur secara paksa. Iya mungkin dalih itu benar namun melarang Mereka berjualan tanpa solusi dari Negara pun sama saja melarang Mereka hidup. Toh Negara baik-baik saja ketika Perusahaan retail bergetayangan dimana-mana tanpa memperdulikan nasib penjual disamping kiri kanan.

Oleh sebab kepala Saya terlalu rumit memikirkan relasi Negara dengan Rakyat masalah penggusuran. Saya hanya ingin melihat potret individu yang bermain didalamnya. Para anggota Satpol-PP yang bertugas. Saya sama sekali tidak menyalahkan Mereka karena toh hanya menjalankan tugas lagian Mereka tidak kuasa melawan atas perintah atasan. Mereka takut dipecat. Namun disisi lain, ada oknum yang sepertinya terlalu memperlihatkan keangkuhannya.

Tepat di depanku ketika 2 anggota Satpol-PP menaikkan barang dagangan sepatu dengan seenaknya. Tanpa ditata dengan baik bahkan Saya yakin, akan ada  dari sepatu tersebut kehilangan pasangannya. Berapa kerugian Pedagang atas kehilangan barang dagangannya.

Saya mengira-ngira, masihkah barang dagangan tersebut akan kembali ke Pemiliknya.

Ada pula 2 Anggota Satpol-PP meneriaki sopir Bajaj yang menerobos lampu merah sementara Mereka juga sedang mengendarai motor dan tidak mengenakan helm. Ah, kita memang selalu melihat aib orang lain tanpa pernah menyadari begitu banyak cacat di diri kita sendiri.

Meski begitu, Saya masih mendapati ada dari Mereka yang baik. Seorang Bapak yang mungkin seumuran Bapakku. Dia menyeru kepada penjual Martabak, “jangan terlalu mepet ke jalanan jika tidak mau digusur.”

Saya kemudian berpikir bahwa sebenarnya kita hanya menjalani peran masing-masing namun baik-buruknya peran tersebut kembali kepada diri kita, seperti apa menjalani peran hidup.

Sepanjang perjalanan pulang, kejadian tersebut tidak mau minggat dari pikiranku. Saya bahkan sempat berpikir, kenapa Tuhan membiarkan hal tersebut terjadi berulang.?

Kenapa kaum Proletar harus selalu tertindas.?

Ataukah memang Tuhan tidak pernah ikut campur dalam hidup kita..?

#hmmmm

#lanjutkan perjalanan, Isteri sudah menanti dalam cemas, kok suaminya yang tampan belum jua pulang padahal seharusnya jam segini sudah dirumah bercengkerama

Terlalu banyak pikiran yang semakin memberatkan kepalaku atas kejadian tersebut.

Namun ternyata Tuhan Maha baik atas Saya.  Dia tidak ingin membuat Saya larut dalam pikiran-pikiran gamang.

Tidak lebih dari 10 jam, Tuhan mengirimkan jawaban atas gugatan-gugatanku terhadapNya.

Kebetulan, eh bukan kebetulan ding. Memang rencana Tuhan kaleee. Jum’at malam pekan ini, bertepatan dengan acara Kenduri Cinta bersama Emha Ainun Najib di pelataran TIM.

Setelah melepas penat, Saya pamit kepada Isteri mengikuti acara tersebut. Sesampai di tempat acara, Jamaah Maiyah sudah membludak. Saya memilih tempat di pinggir panggung.

Di sesi Tanya jawab, salah seorang  Jamaah bertanya kepada Cak Nun “ Cak,  kok logikaku selalu tidak sejalan dengan Tuhan..??

Lah kok Tuhan kau tempatkan di pikiranmu. Terserah Tuhan kok. Dia mau apa atau bagaimana. Lah Tuhan kok dipertanyakan. Tuhan itu menguasai akal. Bagaimana bisa Dia dijangkau dengan akal.” Jawab Cak Nun

Saya langsung berpikir bahwa jawaban tersebut sebenarnya untuk pertanyaan Saya tadi tentang penggusuran di daerah Tebet.

Seharusnya dalam setiap hal, kita memang tidak mempertanyakan keadilan Tuhan. Lah Dia Tuhan kita Cuma makhluk. Kok berani-beraninya mempertanyakan keadilanNya.

Lha wong ketika di akhirat nanti, seandainya Tuhan memaklumatkan bahwa semua Manusia yang rajin Shalat, rajin ke Gereja, taat beribadah di Wihara, melakukan kebaikan sepanjang hidupnya, semuanya dimasukkan ke neraka sedangkan orang yang dzalim dan melanggar perintahNya dimasukkan ke dalam Syurga, ya terserah Dia kok. Bagaimana bisa kita yang Cuma makhluk protes terhadap keputusanNya sedangkan Dia adalah pemilik dan berkuasa atas segalanya.

Lha Dia Tuhan kok, terserah Dia maunya apa dan bagaimana..!!

Oke Tuhan, Saya tidak akan mempertanyakan keadilanMu apalagi keberadaanMu. Saya hanya akan berusaha menempatkan diri ini sesuai porsinya.

Tuhan Maha asyik dengan segala hal paradoks yang dikreasiNya di dunia ini.

 

Mampang Prapatan, 09 04 2016 23:03

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s