SEMACAM REVIEW FILM #AADC2

Nak, Sebelum ingatan tentang hari ini menguap dari kepalaku, Saya akan menceritakan semua kepadamu, tentang kekonyolanku bersama Ibumu sepanjang siang tadi yang berakhir penat sesaat sampai di kontrakan.

Nak, ada momen di masa lampu ketika Saya masih berseragam putih biru. sebuah film remaja menghipnotis generasi semasaku Nak. Film yang bercerita tentang percintaan remaja putih abu-abu. Kau mau tahu pengaruhnya film tersebut Nak..?? ruarr biyasaa Nak.  Para remaja tanggung nan labil (Saya juga termasuk Nak, catat itu, hehe) berusaha menampilkan diri mereka seperti di film tersebut. Barisan Siswi bahkan Mahasiswi pada saat itu berlagak centil sok cantik meniru Pemeran cewek di film tersebut.  meski mereka sadar, cetakan si Dian memang sudah hampir sempurna sedangkan Siswa dan Mahasiswa mendadak diam sok cool dan gemar menulis puisi layaknya si Rangga. Meski mereka menyadari bahwa Nicholas Saputra,  si legendaris Rangga memang cool dan tampan dengan mimic cuek, postur badan ideal dan rambut ikal yang membuatnya semakin menawan di mata para mama-mama muda. Nak, sekali lagi Saya mau jujur bahwa Saya termasuk dalam barisan siswa tersebut yang meniru gaya Rangga, nanti Kau bisa baca kumpulan puisi-puisiku yang norak pada saat itu.ha.ha.ha.

Oh iya Nak, Saya tidak sedang ingin menceritakanmu masa laluku yang menye-menye dan masuk dalam pusaran pengaruh film AADC pertama 14 tahun lalu.

Mari Nak duduk manis dan kuceritakan kekonyolanku dengan Ibumu yang ikut larut dalam euphoria sequel  AADC yang mulai tayang 28 April kemarin.

Beberapa bulan yang lalu saat pemberitaan tentang AADC yang akan dibuatkan sequelnya, Saya dan Ibumu sudah berjanji menonton bareng di bioskop, eh bertiga ding denganmu juga yang sudah memasuki 27 minggu dalam perutmu Ibumu.

Keinginan menonton AADC2 semakin membuncah pada saat pemutaran perdana. Namun apalah daya Saya dan Ibumu kuli  kantoran yang pergi pagi pulang malam sedangkan pemutaran perdana film tersebut hari kamis yang berarti Saya dan Ibumu masih harus berkutat dengan pekerjaan di kantor masing-masing.

Kami memulai perburuan tiket pada Jum’at malam. Sedari awal kami merencanakan menonton di kuningan City pukul 19:30 namun berhubung Jum’at kemarin adalah akhir bulan yang berarti di kantorku sedang tutup buku dan diharuskan lembur sehingga rencana awal diundur.

Saya baru sampai di kontrakan pukul 19:00 namun badan yang seakan sudah remuk bekerja di kantor seharian tidak menjadi halangan menonton AADC2. Saya dan Ibumu berangkat ke Kuningan City pukul 20:00. Namun ternyata kami sebenar-benarnya naïf. Bagaimana tidak, kami masih berpikir bisa mendapat tiket nonton pukul 22;00 sedangkan baru menuju loket tiket pukul 21:00. Jelas sudah sold out. Film yang sudah ditunggu-tunggu selama 14 tahun tersebut sudah barang pasti akan diserbu die hardnya Rangga dan Cinta pada awal-awal pemutarannya.

Saya dan Ibumu masih juga tidak menyerah. Saat mengetahui tiket di Kuningan City sold out, kami bergerak ke setiabudi XXI. Ibumu sudah terlihat capek membawamu naik turun tangga namun kondisinya dikalahkan oleh keinginannya menonton Rangga yang sudah 14 tahun menancapkan tanda Tanya di kepala.

Di Setiabudi XXI pun begitu adanya. Semua tiket sold out. Ya gimana lagi, Saya dan Ibumu kembali merencanakan hunting tiket esok hari.

 Siang tadi sekira pukul 11:05, Saya dan Ibumu kembali mencoba peruntungan di Kuningan City. Sesampai di sana, sebuah kejutan hadir di depan kami. Sepagi itu, antrian para Ibu dan Bapak generasi 80-90an sudah memanjang sekitar puluhan meter. Kadung ingin menonton, Saya ikut dalam barisan antrian panjang. Butuh sekitar setengah jam untuk mencapai meja pembelian tiket.

Jpeg
tebak yang mana Ayahmu Nak..??

Tanpa pikir panjang, Saya membeli 2 tiket untuk pemutaran film pukul 14:30. Mengingat masih ada sekitar 2 jam sebelum pemutaran film, Saya dan Ibumu memilih pulang ke kontrakan.

Jpeg
tebak yang mana Ayahmu Nak..??

The Real drawa has begin Nak. Saya sengaja merencakan berangkat pukul 14:00 dari kontrakan ke Kuningan City karena toh jarak Cuma memakan waktu 10-15 menit. Saya dan Ibumu sudah bersiap 5 menit sebelum jam 2. Kami keluar dari pagar rumah dengan motor kesayangan namun tak ada hujan tak ada angin, ban belakang motor gembos tiba-tiba. Saya dan Ibumu berdiskusi apakah sebaiknya menambal ban atau naik angkutan umum.

Mengingat tukang tambal ban jauh, Saya dan Ibumu memutuskan untuk menggunakan angkutan umum. Drama hasn’t end. Kami menunggu taxi namun semua reserve. Saya mencoba memberhentikan bajaj namun ternyata bajaj dilarang melewati daerah rasuna said. Saya dan Ibumu kemudian mencoba menggunakan ojek online namun lagi-lagi aplikasinya macet. Hingga akhirnya Ibumu memesan Gojek dan berangkat terlebih dulu sedangkan Saya masih harus menunggu sekitar10 menit sebelum akhirnya berhasil memesan ojek.

Saya dan Ibumu akhirnya tiba di Kuningan City setelah melalui berbagai drama pra menonton AADC2 10 menit sebelum film dimulai.

Untuk review filmnya Nak, sudah terlalu banyak yang menulisnya. Mereka mayoritas orang tua yang pada saat film AADC 1 masih berstatus remaja namun tidak etis jikalau Saya tidak ikut-ikutan mereview filmnya dari sudut pandangku sendiri.

Di Film AADC 1, endingnya ketika Rangga pergi ke New York meninggalkan Cinta di Jakarta dengan segudang harapan. Nah di AADC 2, cerita itu nampaknya akan dituntaskan.

Geng Cinta yang berjumlah 5 orang harus kehilangan salah satu personilnya  paling bijak, si manis Alya yang mengalami kecelakaan. Selain Cinta, Alya lah yang memiliki banyak fans die hard atau bahkan bapak-bapak muda lebih banyak yang jatuh hati kepada Alya daripada Cinta.

Cinta dan teman-temannya memilih untuk berlibur ke Yogyakarta setelah lama tidak bertemu. Ada banyak hal yang berubah setelah sekian lama. Milly sudah menikah dengan Mamet dan sedang mengandung. Karmen baru saja pulih dari ketergantungan drugs sebagai pelampiasan kekecewaanya ditinggalkan oleh suami yang memilih WIL sedangkan Maura juga sudah menikah dan memiliki anak. hanya Cinta yang masih belum menikah meski sudah bertunangan dengan pengusaha muda nan kaya,Trian.

Tidak seperti film pertama yang berlatar Ibu Kota, di film kedua ini, Yogyakarta dan New York menjadi tempat penuntasan asmara Rangga dan Cinta.

Hidup memang adalah kreasi semesta dan tidak ada yang kebetulan didalamnya meski manusia sering menganggapnya sebuah kebetulan. Di Yogyakarta, ketika Karmen dan Milly sedang belanja, Mereka melihat Rangga yang juga sedang berada di Yogyakarta menjenguk Ibu tirinya.

Karmen memberitahu kepada Cinta keberadaan Rangga di Yogyakarta namun Cinta, meski masih memendam kasih kepada Rangga namun dia memilih untuk tidak menemui Rangga. Karmen adalah actor dibalik berrtemua kembali Rangga dan Cinta. Dia mengirimi pesan kepada Rangga bahwa Cinta menghadiri pameran tunggal seni rupa Eko Nugroho. Akhirnya mereka bertemu dan mencoba untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan masa lalu.

Cinta tetap menutup perasaannya kepada Rangga dan berdalih bahwa pertemuannya dengan Rangga karena permintaan teman-temannya. Cinta menceritakan semua bahkan juga tentang pertunangannya dengan Trian. Rangga menelan ludah mengetahui Cinta sudah bertunangan. Rangga kemudian meminta Cinta untuk menemaninya menjejak langkah di setiap sudut Yogyakarta sebagai momen terakhir pertemuan Mereka.

Rangga kemudian membawa Cinta ke Bukit Punthuk Setumbu, Rumah Doa Bukit Rhema, Istana Ratu Boko dan beberapa tempat lain. Di tempat-tempat tersebut, terjadi dialog antara Cinta dan Rangga tentang banyak hal, tentang masa lalu mereka, masa sekarang dan masa depan.

Ciuman kembali menjadi akhir perjalanan Mereka hari itu. Tak lupa Rangga menghadiahi Cinta sajak-sajaknya. Cinta kembali ke Jakarta bersama teman-temannya dan beberapa hari kemudian, Rangga menyusul ke Jakarta untuk selanjutnya kembali ke New York . sebelum berangkat, Rangga mengirimi pesan kepada Cinta bahwa dia akan ke Jakarta dan meminta Cinta bertemu sekali lagi. Cinta tidak mengindahkan pesan tersebut sampai akhirnya saat di Jakarta, Rangga rela mendatangi Cinta di Galeri miliknya.

Cinta tetap pada pendiriannya untuk tidak lagi bertemu dengan Rangga. Namun sebelum Rangga benar-benar pulang ke New York, Dia menuntut Cinta untuk mengatakan bahwa ciuman terakhir Mereka di  Yogyakarta tidak berarti apa-apa. Cinta benar-benar mengucapkan bahwa ciuman tersebut sama sekali tidak ada artinya dan membuat Rangga akhirnya pulang ke New York. Saat keluar dari Galeri, Rangga berpapasan dengan Trian yang datang menjemput Cinta.

Trian menjadikan masalah tentang Cinta yang masih berhubungan dengan Rangga bahkan Mereka bertemu di Yogyakarta. Hal tersebut yang kemudian membuat hubungan Cinta dan Trian kandas di tengah jalan.

Diakhir cerita, Cinta menyusul Rangga ke New York dan menuntaskan masa lalu Mereka di sana dalam pelukan dan ciuman dalam balutan salju.

Hal yang lazim ketika sequel sebuah film yang terlalu berkesan pada episode awal akan dikritik oleh Para Penontonnya. Berbagai nada sumbang terhadap film ini. Terlalu FTV, terlalu banyak iklan yang disisipkan di beberapa adegan, sampai pada Para budayawan yang kontra dengan komunitas Salihara yang katanya harus menjadi seperti budayawan Salihara untuk menikmati film ini. Oh iya dialog antara Rangga dan Cinta tentang Pemilu yang konon pilihan Mereka sama saat pilpres kemudian Rangga bertanya kepada Cinta, tidak menyesal kan? Entah satire atau penegasan, mbuhlaahhh.

Saya sendiri terkesan dengan film ini karena berhasil membuat Nicholas Saputra tertawa lepas di beberapa adegan bersama Dian Sastro dan juga melihatnya menangis saat berpelukan dengan Ibu tirinya. Tahu sendiri kan Rangga di film AADC 1 adalah sosok cool dan sinis dengan ekspresi muka yang serius.

Saya kurang menikmati soundtrack dari film ini yang menurutku kurang mewah seperti AADC 1 dan juga puisi-puisi Aan Mansyur yang terlalu jarang diperdengarkan.

Soal iklan Aqua, Line, L’oreal, Lenovo yang ada di film tersebut sudah menjadi keresahan umum jadi tidak perlu untuk kuulangi.

Whateverlah, namun setidaknya film ini mampu membawaku kembali ke masa remaja yang maha asyik dan yang terpenting, pertanyaanku tentang siapa yang akan menemaniku menonton sequel film ini terjawab sudah Nak, yaitu Ibumu. Gadis yang 14 tahun lalu entah seperti bagaimana masanya.

Mampang Prapatan 300416, 23:59

Penghujung April

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s