Posted in Uncategorized

SORE YANG TERBURU-BURU

Sepulang kantor kemarin sore, hujan sepertinya sedang ingin bermesraan bumi. tak secercah pun tanda bahwa dia akan reda sedetik pun sedangkan jarum jam sudah bergerak menunjuk angka 5.

Aku melihat langit yang murung dan air yang tak henti-hentinya berlomba mencapai bumi. tetapi bukan alasan untuk sesegera membelah kota ini. Aku harus menjemput Ibumu yang juga terpenjara hujan di kantornya.

Nak, sepertinya Aku selalu punya cukup alasan untuk menerjang semua hal-hal yang berbahaya demi Kau dan Ibumu. Aku sudah tidak pernah memperhitungkan diriku demi kalian berdua. inilah mungkin konsekuensi menjadi seorang calon Ayah.

selepas menjemput Ibumu dan menyusuri sepanjang jalan Mampang yang dipenuhi ribuan kendaraan, langit tak juah berhenti melepaskan peluru airnya. Aku tergesa-gesa mengendarai motor, entah capek ataupun tidak tahan dengan macet yang tengil.

Nak, selepas lampu merah di persimpangan Tendean-Mampang, Aku 2 kali menyenggol pengendara motor. ingin rasanya berhenti dan memastikan bahwa Mereka baik-baik saja namun benar-benar macet tidak memberi ruangan untuk berhenti bahkan sejenak. dalam hati hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Nak, jalanan adalah belantara yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat memasukinya. kita hanya perlu berdoa dan menebalkan kesabaran selebihnya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan pengendara lain. yakinlah Nak, semua penghuni jalanan di kota ini sedang berjuang untuk orang-orang yang dicintainya, sama saja denganku.

Pulogadung, 20 05 16

Posted in Uncategorized

DI SORE PENUH HIKMAH

Di suatu sore sehabis hujan deras. Aku membeli 2 sisir pisang pada seorang penjaja pisang yang menggunakan gerobaknya. 2 sisir pisang tersebut dihargai Rp. 40 ribu. Menurutku tidak mahal karena toh harga pisang di swalayan 1 sisir Rp. 50 ribu.

Aku sudah beniat untuk tidak menawar jualan Mereka yang menjajakandagangannya dengan cara berkeliling rumah entah menggunakan gerobak bahkan ada yang dipikul. Toh saat kita berbelanja di swalayan, kita tidak punya kuasa untuk menawar sedangkan selisih jualan di swalayan jauh lebih mahal dibandingkan dengan barang dagangan Pedagangan kaki lima.

2 minggu lalu, Aku diserang rasa bersalah saat menawar pisang. semula harga yang ditawarkan oleh pedagang hanya 2 ribu namun dengan teganya, Aku masih menawar menjadi 15 ribu. Si Penjual dengan legowo deal dengan tawaranku dengan muka ikhlas. Setelah Aku beranjak pergi, ingin rasanya kembali ke penjual tersebut untuk menyerahkan 5 ribu selisih yang kutawar.

Oh kembali ke Penjual pisang yang pertama, setelah menerima uang bayaranku, spontan dia mengucapkan syukur.

“Alhamdulillah,rejeki hari ini.” Gumamnya. Dari wajahnya nampak ekspresi yang senang setelah 2 sisir pisangnya laku.

Nak, bukan ingin mengatakan bahwa Aku sudah menyenangkan orang lain, tidak sama sekali Nak. Aku bahkan berpikir bahwa selama ini,Aku masih selalu lupa mensyukuri setiap nikmat yang tak pernah putus dari Tuhan kepadaku. Bahkan disaat seperti ini, Aku sudah bisa memenuhi setiap kebutuhanku, masih saja Aku terkadang mengeluh karena belum punya rumah atau bahkan sesuatu yang belum kumiliki sedangkan bagi Pedangan pisang kemarin sore, terjualnya 2 sisir pisang seharga 40 ribu pun, dia tak henti-hentinya mensyukuri nikmat Tuhan.

Nak, begitulah Bapakmu ini yang masih harus terus belajar dari kehidupan. Sebentar lagi Kau akan hadir menjadi Manusia dan sepenuhnya tanggung jawabku untuk mengajarimu hidup namun bahkan, Akupun masih belum cukup ilmu.

Nak, maafkan suatu waktu jika ternyata Akulah yang harus belajar darimu.

Semoga kita terjaga dari orang orang dikategorikan sebagai manusia yang kufur nikmat.

Mampang Prapatan, 22 05 16

Posted in Uncategorized

MBAH KUNG VS MBAH TI

Nak, mendekat sama bapak. Ada yang ingin kuceritakan kepadamu tentang cara mencintai orang tuaku kepada anak-anaknya.

Ayahku seorang yang berkarakter keras. Dia selalu membiasakan kami anak-anaknya bekerja di kebun saat masih kecil bahkan lebih dari itu, jika kami malas-malasan, maka terkadang fisik yang bermain. itu dulu Nak.

sekarang Ayahku seorang pengkhawatir berat terhadap anak-anaknya. entahlah perubahan apa yang mendasari watak Ayahku namun yang pasti, sejak dari beberapa anaknya sudah menikah, Dia terlalu khawatir kepada keselamatan anak-anaknya dan itu diungkapkan secara verbal.

Saya ingat saat hendak melangsungkan pernikahan di Jawa. Ayahku dan beberapa keluarga lainnya sudah tiba di Jawa sedangkan salah satu saudaraku masih menunggu penerbangan dari Sulawesi. menurut jadwal, seharusnya Saudaraku tersebut sudah tiba sore hari sekitar pukul 17:00 namun hingga menjelang Isya, belum ada kabar sama sekali. Ayah sudah mulai mengigau, sesekali mendongkol. Saya hanya memperhatikannya dengan seksama raut mukanya sembari menunggu kabar dari saudaraku yang masih dalam perjalanan. 

Raut muka Ayah mulai berubah ceria ketika Hp Saudaraku sudah aktif dan Dia mengabarkan bahwa pesawatnya delay.

Ayah pun begitu adanya ketika Saya dalam perjalanan dari kampung. pesawat yang kutumpangi delay sehingga Ayah terus-menerus gelisah menunggu kabar dari Saya apakah sudah tiba atau belum.

Lain lagi dengan Ibu. Saya benar-benar salut dengan keteguhan hatinya. disetiap perasaan panik yang mengampirinya, sama sekali Ibu tidak menunjukkan dalam tindakan maupun ucapan. Beliau hanya diam dan berdoa dalam keheningan. Saya melihat Ibu lebih tegar dari Ayah dalam menghadapi masalah.

Banyak contoh yang meyakinkanku atas asumsi tersebut. setiap ada masalah yang dihadapi oleh anak-anaknya, Ibu tidak pernah meresponnya dengan berlebihan, sedangkan Ayah. kadang terlalu berlebihan dalam beberapa hal.

Nak, bukan maksud Saya membandingan kedua orang tuaku, hanya menceritakanmu tentang karakter dua orang yang membentuk diriku.

Terlepas dari itu semua, kita bisa mengambil contoh atas setiap tindakan yang diperlihatkan oleh orang di sekitar kita Nak. seperti halnya nanti saat Kau bertumbuh, contohlah hal-hal yang baik dari Saya dan Ibumu dan tidak perlu Kau meniru tindakan kami yang menurutmu tidak baik.

Pulogadung, 16 05 16

Posted in Uncategorized

DINAMIKA KANTOR

Interaksi dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya sama saja Nak, dalam keluarga, kantor dan di manapun kita berada.

Namun Saya ingin menceritakanmu sedikit tentang interaksi di Kantor. seringkali terjadi friksi antar karyawan. itu lumrah Nak.

Namun satu hal yang tidak terlalu kusepakati adalah Karyawan yang terlalu doyan menjatuhkan temannya.  di depan Mereka berbaik hati namun di belakang, Mereka menceritakan aib temannya.

Saya selalu berpegang pada prinsip yang kupegang erat Nak bahwa jangan terlalu dekat dengan orang yang suka membuka aib orang lain karena pasti suatu waktu, Mereka akan melakukan hal yang sama terhadap diri kita. toh orang seperti itu berbuat sesaui kepentingannya.

ada juga karyawan yang terlalu pintar mencari muka di depan pimpinan.

ah Nak, mari melihat ke dalam diri sendiri, jangan terlalu sering mencari-cari aib orang lain

 

080516

Posted in Uncategorized

BELAJAR MENGAJI

Nak, pulang kampung kemarin, sekali waktu Saya menjemput saudara sepupumu yang mengaji di rumah salah seorang kerabat yang berprofesi sebagai Guru. Saya menunggu sekitar 20 menit sebelum hajatan mengaji para bocah di kampungku selesai. suara riuh para bocah terdengar. Saya terkesiap Nak.merasa diri benar-benar sudah berumur

seperti baru kemarin saat Saya berada diposisi seperti itu. sore hari, Saya berangkat mengaji bersama kawan sepermainan. sistem mengaji kami dulu, setiap anak disuruh mengulang sekitar 10 kali bacaannya kemudian satu persatu dipanggil oleh guru mengaji. diuji bacaannya kemudian diberi kesempatan melangkah ke ayat selanjutnya. hal paling tidak menyenangkan ketika kita mendapatkan urutan terakhir karena itu artinya, kita akan pulang belakangan.

nah, Saudara sepupumu yang kemarin kujemput di tempat mengajinya punya sistem yang lebih baik. setelah Mereka selesai bacaannya, tidak ada yang diperbolehkan pulang karena harus menunggu yang lain kemudian shalat Isya berjamaah. barulah setelah shalat Isya, semua anak mengaji pulang bersamaan.

begitulah Nak masa kecil yang pada umumnya dilalui saat di kampung. sebagian besar dihabiskan untuk belajar. itulah modal awal kita memasuki gerbang kehidupan yang lebih terjal dikemudian hari. adapun juga ketika beranjak dewasa, hal-hal seperti itu yang sering dikenang.

Saya berharap saat Kau tumbuh kelak, Kau merasakan hal yang sama Nak.

 

Pulogadung, 120516

Posted in Uncategorized

MALAM TUA

Ibu itu

 Menjatuhkan raganya dalam pelukan malam, sementara sisasisa tenaganya sesaat lagi mmenguap

Ibu itu, menyaksikan setiap detail semesta yang bergerak dalam rahim.

Manusia memang mikrokosmos dan Ibu itu sedang memeluknya erat

Meski  nampak sabar namun dalam diamnya, selalu terucap beribu doa kesehatanmu dan keselamatanmu Nak.

Ibu itu, tak henti-hentinya memudarkan kegelisahannya dalam bahagiamu

Begitulah kasihnya.

2516