MBAH KUNG VS MBAH TI

Nak, mendekat sama bapak. Ada yang ingin kuceritakan kepadamu tentang cara mencintai orang tuaku kepada anak-anaknya.

Ayahku seorang yang berkarakter keras. Dia selalu membiasakan kami anak-anaknya bekerja di kebun saat masih kecil bahkan lebih dari itu, jika kami malas-malasan, maka terkadang fisik yang bermain. itu dulu Nak.

sekarang Ayahku seorang pengkhawatir berat terhadap anak-anaknya. entahlah perubahan apa yang mendasari watak Ayahku namun yang pasti, sejak dari beberapa anaknya sudah menikah, Dia terlalu khawatir kepada keselamatan anak-anaknya dan itu diungkapkan secara verbal.

Saya ingat saat hendak melangsungkan pernikahan di Jawa. Ayahku dan beberapa keluarga lainnya sudah tiba di Jawa sedangkan salah satu saudaraku masih menunggu penerbangan dari Sulawesi. menurut jadwal, seharusnya Saudaraku tersebut sudah tiba sore hari sekitar pukul 17:00 namun hingga menjelang Isya, belum ada kabar sama sekali. Ayah sudah mulai mengigau, sesekali mendongkol. Saya hanya memperhatikannya dengan seksama raut mukanya sembari menunggu kabar dari saudaraku yang masih dalam perjalanan. 

Raut muka Ayah mulai berubah ceria ketika Hp Saudaraku sudah aktif dan Dia mengabarkan bahwa pesawatnya delay.

Ayah pun begitu adanya ketika Saya dalam perjalanan dari kampung. pesawat yang kutumpangi delay sehingga Ayah terus-menerus gelisah menunggu kabar dari Saya apakah sudah tiba atau belum.

Lain lagi dengan Ibu. Saya benar-benar salut dengan keteguhan hatinya. disetiap perasaan panik yang mengampirinya, sama sekali Ibu tidak menunjukkan dalam tindakan maupun ucapan. Beliau hanya diam dan berdoa dalam keheningan. Saya melihat Ibu lebih tegar dari Ayah dalam menghadapi masalah.

Banyak contoh yang meyakinkanku atas asumsi tersebut. setiap ada masalah yang dihadapi oleh anak-anaknya, Ibu tidak pernah meresponnya dengan berlebihan, sedangkan Ayah. kadang terlalu berlebihan dalam beberapa hal.

Nak, bukan maksud Saya membandingan kedua orang tuaku, hanya menceritakanmu tentang karakter dua orang yang membentuk diriku.

Terlepas dari itu semua, kita bisa mengambil contoh atas setiap tindakan yang diperlihatkan oleh orang di sekitar kita Nak. seperti halnya nanti saat Kau bertumbuh, contohlah hal-hal yang baik dari Saya dan Ibumu dan tidak perlu Kau meniru tindakan kami yang menurutmu tidak baik.

Pulogadung, 16 05 16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s