SORE YANG TERBURU-BURU

Sepulang kantor kemarin sore, hujan sepertinya sedang ingin bermesraan bumi. tak secercah pun tanda bahwa dia akan reda sedetik pun sedangkan jarum jam sudah bergerak menunjuk angka 5.

Aku melihat langit yang murung dan air yang tak henti-hentinya berlomba mencapai bumi. tetapi bukan alasan untuk sesegera membelah kota ini. Aku harus menjemput Ibumu yang juga terpenjara hujan di kantornya.

Nak, sepertinya Aku selalu punya cukup alasan untuk menerjang semua hal-hal yang berbahaya demi Kau dan Ibumu. Aku sudah tidak pernah memperhitungkan diriku demi kalian berdua. inilah mungkin konsekuensi menjadi seorang calon Ayah.

selepas menjemput Ibumu dan menyusuri sepanjang jalan Mampang yang dipenuhi ribuan kendaraan, langit tak juah berhenti melepaskan peluru airnya. Aku tergesa-gesa mengendarai motor, entah capek ataupun tidak tahan dengan macet yang tengil.

Nak, selepas lampu merah di persimpangan Tendean-Mampang, Aku 2 kali menyenggol pengendara motor. ingin rasanya berhenti dan memastikan bahwa Mereka baik-baik saja namun benar-benar macet tidak memberi ruangan untuk berhenti bahkan sejenak. dalam hati hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

Nak, jalanan adalah belantara yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat memasukinya. kita hanya perlu berdoa dan menebalkan kesabaran selebihnya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan pengendara lain. yakinlah Nak, semua penghuni jalanan di kota ini sedang berjuang untuk orang-orang yang dicintainya, sama saja denganku.

Pulogadung, 20 05 16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s