KELAHIRANMU

Sudah 4 hari umurmu Nak tetapi Aku belum jua menceritakanmu bagaimana proses kelahiranmu ke dunia ini. Kebiasaan menunda benar-benar penyakit yang harus kusingkirkan dari daftar kebiasaanku.

Jumat, 19 Ramadan 1437 H dini hari. Ibumu berniat sahur namun saat buang air kecil, ada darah yang keluar sehingga niatnya untuk sahur diurungkan. Pagi hari, Ibumu masih sempat jalan santai di sekitar rumah. Sekitar pukul 10:00 WIB, Ibumu chek up ke RSI karena darah yang keluar semakin banyak.

Sesaat setelah chek up, Dr. Santi menyarankan supaya Ibumu ngamar saat itu juga dan mulai pembukaan 1. Proses kelahiranmu sedang dimulai Nak. Saat itu akan masih di Jakarta dan hanya menerima up date detik-detik kelahiranmu dari wa Ibumu.

Siang hari menjelang shalat Jum’at, Ibumu semakin merasa kesakitan. Aku mulai gelisah kemudian akhirnya memutuskan untuk pulang menemani Ibumu hari itu juga. Namun tidak semudah itu karena Aku harus mencari tiket pulang sedangkan pada saat itu, arus mudik lebaran mulai ramai sehingga susahnya minta ampun membeli tiket apatahlagi hari itu, Aku sedang survey di kantor BKI Jakarta utara.

Akhirnya Ibumu memesan tiket ke salah seorang temannya yang bekerja di travel Pasuruan. Tiket ka Bima yang masih kosong dan berangkat pukul 16:45 WIB dari stasiun Gambir.

Aku minta izin pulang kantor pukul 03:00 WIB dan langsung menuju stasiun Gambir. Aku sudah tidak tahu lagi perkembanganmu saat itu karena Ibumu sedang berjuang melawan kesakitan sehingga tidak sempat mengabariku perkembanganmu.

Setiba di Stasiun Gambir sekitar pukul 15:00 WIB, Aku membeli jajan untuk persiapan buka di kereta kemudian bergegas ke ruang tunggu. Saat berada di atas kereta menunggu keberangkatan sekitar pukul 16:30WIB,  Aku dikabari bahwa Ibumu sudah pembukaan 5. Mulutku tidak lepas melantunkan doa keselamatan dan kelancaran persalinan Ibumu.

Saat kereta berangkat, Pikirannya sudah berada di rumah sakit tempat Ibumu melahirkanmu meski raga masih di kereta.

Beberapa kali Aku berusaha menghubungi telepon Ibumu namun tidak diangkat.

Sekitar pukul 19:00 WIB, pesan masuk di WA ku bahwa Ibumu sudah melahirkanmu. Seorang bayi laki-laki sekitar pukul 18:38 WIB. Perasaanku saat itu tidak bisa digambarkan. Semua bercampur aduk dan beberapa butir air yang menggelinding di sudut mataku.

Beberapa jam kemudian, Ibumu kemudian meneleponku dengan senyum sumringah. Mengabarkanku bahwa kau seorang laki-laki tampan, berat badan 3 Kg dan panjang 49 cm. Ibumu bercerita panjang tentang perjuangannya melahirkanmu tanpa ada  Aku, bapakmu, menemaninya.

Aku baru tiba di kampong pukul 03:30 WIB. sesegara mungkin Aku menyentuhmu dan berniat mengadzani namun kusadari bahwa Aku belum wudhu.

Sepanjang hari sabtu, Aku tidak lepas memandangmu, betapa sucinya dirimu yang baru keluar dari rahim Ibumu.

kita diperbolehkan pulang pukul 16:00 WIB.

Aku tidak bosan-bosannya memandangmu di rumah. meciumimu dan membisikimu kata-kata. kulihat matamu yang belum bisa melihat cahaya dan bibirmu yang sebentar menguap sebentar tertutup rapat. Aku baru menyadari bahwa bayi dalam 24 jam harus menyusu setidaknya 3 jam sekali.

Malam hari, Ibumu sibuk menyusuimu. selalu dan selalu.

Hari minggu, Aku memuaskan hasratku memandangmu, menciumimu dan mengajakmu bicara karena kutahu, sore hari Aku harus balik lagi ke Jakarta.

pukul 13:00 WIB, Aku sudah bersiap pulang ke Jakarta. sekali lagi kuadzani dirimu di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri. Aku mencium keningmu sekali lagi sebelum melangkah ke stasiun Madiun

Mampang 290616

Advertisements

PERNIKAHAN TIDAK MELULU TENTANG MALAM PERTAMA

Menikah bukan perkara individu antar individu namun lebih dari itu, menikah dalam artian lebih luas menyatukan dua keluarga yang berbeda dalam banyak hal.

Pesan yang bermakna seperti di atas sudah beberapa kali kudengar dari beberapa orang sebelum menikah meski pada saat itu, Saya memahaminya masih parsial. Sebelum menikah, persepsi Saya tentang calon Isteri hanyalah terbatas pada bagaimana hubungannya dengan Ibunya, jika hubungannya baik maka menurutku hal tersebut lebih dari cukup karena pada hakekatnya, dia sudah bisa memahami bagaimana menjadi seorang calon Ibu dan memperlakukannya seorang anak, sebatas itu.

Meski pada akhirnya pemahamanku tersebut keliru delapan puluh persen beberapa bulan setelah menikah. Persoalan menikah ternyata tidak sesederhana seperti saat menyatakan cinta pada pertama kali, tidak melulu tentang membayangkan malam pertama atau bahkan hanya berhenti pada hal-hal menyenangkan seperti saat pagi, kopi sudah disiapkan oleh Isteri, pakaian dicucikan dan sampai pada hal remeh temeh yang dilakukan sendiri sebelum menikah dan pada akhirnya ada yang melakukan untuk kita setelah menikah. Tidak sesederhana itu, pernikahan seperti memasuki kehidupan yang kompleks.

Sesaat setelah memasuki gerbang pernikahan, kita harus memulai menyesuaikan beberapa perbedaan. meleburkan diri dengan keluarga pasangan dan belajar untuk mempertebal kesabaran. Ah, Saya gagal untuk sementara dalam beberapa hal tersebut.

Nak, Pernikahan itu layaknya kita berjalan di tengah keluarga kemudian setiap langkah kita akan dikomentari oleh setiap keluarga dan cara pandang mereka akan berbeda.

Saya dan Ibumu berbeda dalam banyak hal, namun komitmen kami masih terlalu besar daripada perbedaan-perbedaan yang hadir dalam hubungan kami. Ternyata tidak berhenti sampai di situ. Percikan-percikan api pernikahan muncul bukan dari kami berdua tetapi variable yang berada di sekitar kami. Menurutku variable tersebut sudah sangat mengganggu. Saya dan Ibumu tidak leluasana menentukan keputusan-keputusan dalam keluarga kami karena intervensi dari “mereka” sudah mulai mengusik.

Nak, suatu saat nanti kau akan mengerti banyak hal. Bagaimana belajar bersabar, berusaha mengorbankan harga diri demi seorang yang dicintai dan itu yang sedang kupelajari Nak. Saya mengorbankan beberapa hal yang menurutku prinsipil demi untukmu, sayangku terhadapmu. Saya sudah tidak peduli lagi tentang diriku yang dihinakan demi dirimu yang kucinta. Nantilah kau mengerti Nak. Bagaimana perasaan jika kita tidak dianggap di sebuah rumah bahkan seakan diusir secara halus namun karena ada kau yang kucinta di rumah itu maka Saya rela menempatkan muka di pantatku dan tetap memasuki rumah tersebut, itu demi kau yang kusayang Nak.

Biarlah waktu yang akan mengajarkanmu bagaimana pengorbanan seseorang ketika mencinta dan itu terjadi saat kau sudah punya anak apatahlagi masih bayi.

Ah, nak. Subu-subuh seperti ini tidak baik untuk terlalu sentimental. Tulisan ini jangan terlalu dini kau baca. Biarlah jadi arsipmu sementara dan kau baca saat nantinya menjumpai seseorang yang kau cintai.

 

Mampang, dini hari yang sentimental

29 06 16 04:20 WIB

BERPISAH SEMENTARA

Terlalu sentimentil perpisahan kemarin. Sejak menikah dengan Ibumu 8 bulan yang lalu, ini kali pertama kami harus berpisah lama, 3 bulan meski entah sebulan sekali, Aku akan mengunjungi kalian di kampung Ibumu. Nak, ada banyak alasan bagi pasangan Suami Isteri untuk berpisah sementara. Aku dan Ibumu pun begitu adanya. Kau sebentar lagi lahir Nak dan Ibumu ingin melahirkan di kampung halamannya dekat Ibunya.

3 bulan mungkin tidak terlalu lama Nak namun tetap saja menyiksa. Toh yang namanya rindu itu, meski hanya sehari serasa waktu tidak pernah berputar. Itulah mengapa rindu lebih menyakitkan bagi yang sedang mengidapnya.

Dokter Beryl langganan kita sudah mewanti-wanti untuk tidak bepergian jauh namun niat Ibumu dari awal melahirkan di kampung mengalahkan semua rasa cemas Jumat sore, kita berempat, Aku, Ibumu, Mbah ti dan Kau berangkat dari Gambir ke Madiun via KA. Bangunkarta. Aku hanya diam sepanjang perjalanan dengan beribu kalimat doa demi keselamatanmu sampai di kampung. Sejatinya, Aku sangat khawatir jika saja Ibumu kontraksi di Kereta dan harus melahirkanmu di atas Sepur kan menyedihkan Nak. 

Namamu bisa saja Sepur atau Kereta dan semua yang berhubungan dengan kereta, kan sangat tidak lucu ya Nak.

Di Kereta, setiap saat Aku melirik Ibumu jika saja dia merasa mules dan sesekali kutanya bagaimana perutnya. Namun semesta merahmati kita Nak dan Kau pun ternyata seorang calon lelaki yang tegar karena sesampai di Madiun, Ibumu merasa baik-baik saja Sehari menemani Ibumu di kampung. Aku harus balik ke ibu kota hari minggu pagi. Malam minggu, Ibumu tidak berhenti menangis, entah apa yang dirasakannya namun Aku sendiri tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku saat itu. Aku hanya bisa mengelus kepala Ibumu sambil menenangkan perasaanku, terlalu random perasaan yang menghinggapiku kemarin malam.

Nak, Aku mengusapmu sesaat sebelum berangkat ke stasiun. Sekian detik, Kau sudah luput dari pandanganku saat Aku sudah berbelok di persimpangan.

 Nak, sehat selalu sampai Kau lahir. Aku akan menjengukmu sesering Kau inginkan.

Rawamangun, 21.06.16

Tulisan ini sudah menumpuk di draft 2 minggu lalu sesaat setelah Aku tiba di Ibu kota mengantar Ibumu pulang kampung

TRAKTIRAN

“Namanya Saya si A, biasa dipanggil si B namun lebih senang dipanggil makan.” guyonan ini sebenarnya paling umum yang dilontarkan oleh beberapa orang yang mencoba melucu saat memperkenalkan diri.

Nak, setiap orang suka ditraktir, diajak makan dan dibayarin makanannya. itu hal yang lumrah. namun jika boleh kita berbagi nasehat Nak, lebih baik hindarkan diri dari kebiasaan ditraktir. toh agama yang kita yakini pun menganjurkan lebih “Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.”

dulu pun Saya senang jika ada yang memberi sesuatu ataupun diajak makan gratis namun makin ke sini, Saya menyadari bahwa kebiasaan itu tidak terlalu baik untuk karakter kita Nak. percayalah bahwa orang yang sering menerima pemberian, hadiah, ataupun ditraktir akan berkurang wibawanya di depan orang yang memberinya sesuatu.

Saya tidak sedang bermaksud untuk mengajakmu menolak itikad baik seseorang yang ingin memberi sesuatu namun dalam hal ini, yang Saya maksud ketika ditraktir ataupun diberi sesuatu sudah menjadi kesenangan bahkan sering berharap.

Ah Nak. kita cuma perlu banyak belajar dari diri ketika. setiap hal yang dilalui. Saya yakin pada namanya bisikan hati. ketika hati mengatakan tidak maka jangan sekali-kali melanggar.

Maksud Saya gini loh Nak. kalau melakukan sesuatu atau apapun itu eh contoh konkret aja ding. misalnya ada temannya yang membayar makananmu di warung, maka rasakan saja hatimu, jika tidak enak maka tolak lah namun jika hati mengatakan tidak apa-apa maka terimalah.

dalam artian begini loh Nak, hati itu saling terhubung, jika ada perasaan ganjil di hati saat berinteraksi dengan orang lain maka kemungkinan besar ada yang tidak cocok dengan niatan orang lain tersebut.

Ah, susah banget ngjelasin Nak. nanti hal-hal seperti ini adalah pengalaman tiap orang dan itu berbeda bagi masing-masing pribadi.

Pulogadung, Mei 2016

“JANGAN KAU GANGGU, IBUMU

NAK 2, IWAN FALS

Nak dengarlah bicara bapakmu
Yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dahulu mainan itu
Duduk dekat bapak sabar mendengar

Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang
Segala sesuatu ada harga karena uang

( ya ya ya ya )

Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang

Sekolahlah biasa saja
Jangan pintar pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu

Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Peduli titel didapat atau titel mukjizat

( ya ya ya ya )

Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
Agar mudah bergaul tentu banyak relasi

Jadi penjilat yang paling tepat
Karirmu cepat uang tentu dapat
Jadilah Durno jangan jadi Bimo
Sebab seorang tenang punya lidah sejuta

Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak hutang
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya ada di komik

Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu batu bikin jalanmu terhambat

( ya ya ya ya )

Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sadis apalagi yang berkarat

Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan

Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet paham kondisi

Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan…Modar

 

NAK, IWAN FALS

Jauh jalan yang harus kau tempuh

Mungkin samar bahkan mungkin gelap

Tajam kerikil setiap saat menunggu

Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu

Duduk sini nak dekat pada bapak

Jangan kau ganggu ibumu

Turunlah lekas dari pangkuannya

Engkau lelaki kelak sendiri.

Dua lagu Iwan Fals di atas keren kan Nak. nanti kalau sudah remaja, Kau sebaiknya menyempatkan waktu luangmu mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Kau akan menemukan banyak cinta di lagu Iwan Fals. Cinta terhadap rakyat kecil, cinta terhadap Anaknya dan cinta terhadap orang tuanya. Kau pun akan menemukan karakter yang kuat di setiap lirik-lirik lagunya.

Rawamangun, 29 Mei 2016

CHEK UP 34 MINGGU

Jangan deh, lebih baik di sini saja. Takutnya pas di Kereta kontraksi.“? Dokter Beryl menyarankan kepada Aku dan Ibumu sesaat setelah kami menyampaikan niat pulang ke Caruban buat lahiranmu.

Sudah dua kali chek up Saya tidak memberitahumu nak. chek up kemarin mungkin saya yang terakhir di RS. Evasari. kita berencana mudik ke Caruban dan Ibumu akan melahirkan di sana.

“Supaya dekat dengan mama.” itu alasan Ibumu melahirkan di kampungnya.

Saya tidak melarang Nak dalam hal-hal seperti itu karena sejatinya, anak Perempuan seringkali ingin ditemani Ibunya saat melahirkan apatahlagi melahirkan anak pertama.

Saya hanya menegaskan Ibumu, apakah Dia kuat naik kereta selama 10 jam lamanya. Dr. Beryl pun sudah mewanti-wanti untuk tidak bepergian jauh karena kontraksi sering terjadi pada kehamilan 34-35 minggu.

Saya sebenarnya was-was saat Dr. Beryl mewanti-wanti kami untuk membatalkan perjalanan dengan kereta.

Sesampai di rumah, Saya beberapa kali bertanya kepada Ibumu meyakinkan bahwa apakah benar-benar dia kuat. bukan bermaksud terlalu fleksibel namun ada hal yang selalu di luar jangkauan kita Nak. okelah mungkin Dokter Beryl punya analisa medis yang ilmiah namun Saya adalah orang yang percaya ketika Semesta memberkati maka semua akan berjalan baik-baik saja.

Menurut Ibumu, Kau sudah sering bergerak di rahimnya. mungkin sedang bersenang-senang ataupun mungkin gelisah karena sebentar lagi akan meninggalkan alam yang paling nyaman menuju alam  dunia yang penuh tipu daya.

Dua hari lagi kita berangkat Nak. semoga Kau di rahim Ibumu bisa bertahan sampai di Kampung. sehat selalu ya Nak.

Rawamangun, 30 05 16