Posted in Uncategorized

BERPISAH SEMENTARA

Terlalu sentimentil perpisahan kemarin. Sejak menikah dengan Ibumu 8 bulan yang lalu, ini kali pertama kami harus berpisah lama, 3 bulan meski entah sebulan sekali, Aku akan mengunjungi kalian di kampung Ibumu. Nak, ada banyak alasan bagi pasangan Suami Isteri untuk berpisah sementara. Aku dan Ibumu pun begitu adanya. Kau sebentar lagi lahir Nak dan Ibumu ingin melahirkan di kampung halamannya dekat Ibunya.

3 bulan mungkin tidak terlalu lama Nak namun tetap saja menyiksa. Toh yang namanya rindu itu, meski hanya sehari serasa waktu tidak pernah berputar. Itulah mengapa rindu lebih menyakitkan bagi yang sedang mengidapnya.

Dokter Beryl langganan kita sudah mewanti-wanti untuk tidak bepergian jauh namun niat Ibumu dari awal melahirkan di kampung mengalahkan semua rasa cemas Jumat sore, kita berempat, Aku, Ibumu, Mbah ti dan Kau berangkat dari Gambir ke Madiun via KA. Bangunkarta. Aku hanya diam sepanjang perjalanan dengan beribu kalimat doa demi keselamatanmu sampai di kampung. Sejatinya, Aku sangat khawatir jika saja Ibumu kontraksi di Kereta dan harus melahirkanmu di atas Sepur kan menyedihkan Nak. 

Namamu bisa saja Sepur atau Kereta dan semua yang berhubungan dengan kereta, kan sangat tidak lucu ya Nak.

Di Kereta, setiap saat Aku melirik Ibumu jika saja dia merasa mules dan sesekali kutanya bagaimana perutnya. Namun semesta merahmati kita Nak dan Kau pun ternyata seorang calon lelaki yang tegar karena sesampai di Madiun, Ibumu merasa baik-baik saja Sehari menemani Ibumu di kampung. Aku harus balik ke ibu kota hari minggu pagi. Malam minggu, Ibumu tidak berhenti menangis, entah apa yang dirasakannya namun Aku sendiri tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku saat itu. Aku hanya bisa mengelus kepala Ibumu sambil menenangkan perasaanku, terlalu random perasaan yang menghinggapiku kemarin malam.

Nak, Aku mengusapmu sesaat sebelum berangkat ke stasiun. Sekian detik, Kau sudah luput dari pandanganku saat Aku sudah berbelok di persimpangan.

 Nak, sehat selalu sampai Kau lahir. Aku akan menjengukmu sesering Kau inginkan.

Rawamangun, 21.06.16

Tulisan ini sudah menumpuk di draft 2 minggu lalu sesaat setelah Aku tiba di Ibu kota mengantar Ibumu pulang kampung

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s