Posted in Uncategorized

PERNIKAHAN TIDAK MELULU TENTANG MALAM PERTAMA

Menikah bukan perkara individu antar individu namun lebih dari itu, menikah dalam artian lebih luas menyatukan dua keluarga yang berbeda dalam banyak hal.

Pesan yang bermakna seperti di atas sudah beberapa kali kudengar dari beberapa orang sebelum menikah meski pada saat itu, Saya memahaminya masih parsial. Sebelum menikah, persepsi Saya tentang calon Isteri hanyalah terbatas pada bagaimana hubungannya dengan Ibunya, jika hubungannya baik maka menurutku hal tersebut lebih dari cukup karena pada hakekatnya, dia sudah bisa memahami bagaimana menjadi seorang calon Ibu dan memperlakukannya seorang anak, sebatas itu.

Meski pada akhirnya pemahamanku tersebut keliru delapan puluh persen beberapa bulan setelah menikah. Persoalan menikah ternyata tidak sesederhana seperti saat menyatakan cinta pada pertama kali, tidak melulu tentang membayangkan malam pertama atau bahkan hanya berhenti pada hal-hal menyenangkan seperti saat pagi, kopi sudah disiapkan oleh Isteri, pakaian dicucikan dan sampai pada hal remeh temeh yang dilakukan sendiri sebelum menikah dan pada akhirnya ada yang melakukan untuk kita setelah menikah. Tidak sesederhana itu, pernikahan seperti memasuki kehidupan yang kompleks.

Sesaat setelah memasuki gerbang pernikahan, kita harus memulai menyesuaikan beberapa perbedaan. meleburkan diri dengan keluarga pasangan dan belajar untuk mempertebal kesabaran. Ah, Saya gagal untuk sementara dalam beberapa hal tersebut.

Nak, Pernikahan itu layaknya kita berjalan di tengah keluarga kemudian setiap langkah kita akan dikomentari oleh setiap keluarga dan cara pandang mereka akan berbeda.

Saya dan Ibumu berbeda dalam banyak hal, namun komitmen kami masih terlalu besar daripada perbedaan-perbedaan yang hadir dalam hubungan kami. Ternyata tidak berhenti sampai di situ. Percikan-percikan api pernikahan muncul bukan dari kami berdua tetapi variable yang berada di sekitar kami. Menurutku variable tersebut sudah sangat mengganggu. Saya dan Ibumu tidak leluasana menentukan keputusan-keputusan dalam keluarga kami karena intervensi dari “mereka” sudah mulai mengusik.

Nak, suatu saat nanti kau akan mengerti banyak hal. Bagaimana belajar bersabar, berusaha mengorbankan harga diri demi seorang yang dicintai dan itu yang sedang kupelajari Nak. Saya mengorbankan beberapa hal yang menurutku prinsipil demi untukmu, sayangku terhadapmu. Saya sudah tidak peduli lagi tentang diriku yang dihinakan demi dirimu yang kucinta. Nantilah kau mengerti Nak. Bagaimana perasaan jika kita tidak dianggap di sebuah rumah bahkan seakan diusir secara halus namun karena ada kau yang kucinta di rumah itu maka Saya rela menempatkan muka di pantatku dan tetap memasuki rumah tersebut, itu demi kau yang kusayang Nak.

Biarlah waktu yang akan mengajarkanmu bagaimana pengorbanan seseorang ketika mencinta dan itu terjadi saat kau sudah punya anak apatahlagi masih bayi.

Ah, nak. Subu-subuh seperti ini tidak baik untuk terlalu sentimental. Tulisan ini jangan terlalu dini kau baca. Biarlah jadi arsipmu sementara dan kau baca saat nantinya menjumpai seseorang yang kau cintai.

 

Mampang, dini hari yang sentimental

29 06 16 04:20 WIB

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s