KISAH SEORANG IBU DAN PUTRANYA

Ini kisah nyata nak. Ada di hadapanmu, di hadapanku dan di hadapan ibumu. Kisah seorang ibu yang tidak pernah mengurangi kadar kasihnya kepada putranya meski berkali-kali sang putra melakukan tindakan di luar nalar seorang anak.

Sejatinya aku memberanikan menulis cerita ini seusai membaca buku “gadis kecil kesayangan ayah.”

Di halaman belakang buku tersebut, ada ilustrasi tentang seorang ayah yang rela duduk berhari-hari di teras tumahnya menanti kepulangan anaknya yang minggat. Ada ayah yang merelakan mobil keren terbarunya kotor dan berantakan karena ulah anak balitanya.

Ilustrasi kasih sayang ayah kepada anaknya di atas masih sangat standar dari kisah yang hendak kuceritakan kepadamu nak. Itu tadi tentang seorang ibu yang selalu menyayangi putranya meskipun kelakuan putranya sudah di luar kelaziman.

Pertama-tama aku ingin memberitahumu nak bahwa ibu ini seorang single parent dengan 2 anak yang ditinggal mati suaminya 13 tahun yang lalu. Dia membesarkan kedua anaknya dengan mengandalkan gaji sebagai seorang guru di sekolah swasta. Gaji yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Awalnya, kehidupan mereka nampak berjalan normal karena kedua anaknya manut kepada sang ibu. Namun beban sang ibu bermula ketika sang putra yang juga anak sulung sudah duduk di bangku kuliah.

Sang putra sering meminta uang dengan alasan membeli buku pelajaran namun kenyataannya, tidak ada atau hanya sedikit buku pelajaran yang nampak di mejanya. Beruntung sang putra memiliki otak yang encer sehingga mampu menyelesaikan kuliahnya dengan nilai tinggi dan menjadi lulusan terbaik di kampusnya. Ibunya pun bangga terhadapnya.

Ternyata petaka sang ibu belum berakhir sampai di situ. Bahkan setelah kuliah, beban demi beban sang ibu semakin berat karena ulah sang putra semakin menjadi-jadi.

Sang putra pun menikah. Setelah menikah, sang ibu memberi modal membuka usaha di kota provinsi. Entah berlangsung berapa lama, usaha tersebut buyar dan modal melayang ratusan juta. Tidak berhenti sampai di situ, sang putra pernah mengaku sudah bekerja namun ternyata tidak sama sekali.

Kelahiran cucu pertama si ibu bahkan membuatnya lebih berat lagi, meski sang ibu amat mencintai cucunya namun dia harus menanggung biaya cucu dan putranya bahkan juga menantunya.

Biaya persalinan pun ditanggung oleh si ibu sampai persalinan cucu kedua.

Entah berapa ratus juta tabungan si ibu ludes demi memenuhi permintaan si putra yang tidak pernah ada habisnya.

Suatu waktu, si putra lagi-lagi mengutarakan keinginannya membuka sebuah toko dan meminta modal kepada si ibu. Dipenuhilah modal 50 juta namun toko tersebut tidak pernah ada dan uang hanya melayang begitu saja.

Tak sampai di situ, sang puta masih saja dibiayai kebutuhan sehari-harinya oleh si ibu yang tak berbatas kasihnya.

Hingga suatu waktu, sang putra ikut bisnis investasi yang berakhir penipuan ratusan juta. Sekali lagi, si ibu yang kemudian menanggung semua itu.

Deposito sang ibu sudah ludes sehingga pertahanan terakhir adalah rumah sebagai satu-satunya warisan suaminya pun melayang. Dijual demi menutupi utang sang anak.

Kasih ibu yang tak berujung disalahartikan oleh sang putra yang sama sekali tidak pernah berusaha mengerti keadaan seorang ibu.

Jiwa raga, pikiran, harta benda dikuras habis tak bersisa meski begitu, si ibu tidak pernah sedikit pun menaruh amarah terhadap sang putra. Si ibu hanya mendoakan semoga sang putra sadar atas semua kelakuannya.

Kisah ini benar adanya nak. Kenyataan yang kulihat dengan kepalaku sendiri tanpa ada kejadian yang dibesar-besarkan bahkan malah masih ada banyak perlakuan sang putra kepada ibunya yang menyakitkan hati dan tidak kuceritakan kepadamu.

aku sama sekali tidak punya tendensi apa-apa menceritakanmu kisah ini, nak. Aku hanya ingin kau tahu kisah ibu yang tak berbatas, benar adanya. Aku pun berharap kau mengambil hikmah dari semua itu semoga saja di kelak hari, kau bisa memperlakukan ibumu dengan sebaik-baik ibu. meringankan bebannya dan membuatnya baahgia. Tidak melulu harus dengan harta nak namun budi pekerti yang baik.

Di setiap waktu kesendirianku, aku terkadang menangis mengingat kisah itu nak. Aku membayangkan jika saja kondisi tersebut dialami oleh ibuku. Betapa berat beban yang harus ditanggung. Masa tua yang seharusnya dinikmati dengan bahagia malah harus merana.

Ibuku yang juga nenekmu di kampung sana tidak punya banyak harta nak. Dia hanya punya cinta kasih dan aku selalu mendoakannya semoga dia berbahagia di hari tuanya tanpa harus lagi ada beban apa-apa.

Ibuku semakin sepuh. Sekujur rambutnya sudah mulai memutih, wajahnya dipenuhi keriput di setiap sudutnya. Tenaganya tidak seperti yang dulu lagi.

Ibuku itu nak, pernah meregang nyawa saat melahirkan adek bungsuku yang kembar. Yang pertama dilahirkan secara normal namun kembarnya dilahirkan cesar bahkan tangan si kembar yang kedua sudah meninggal dalam kandungan dan dipotong tangannya untuk mengangkatnya dari rahim ibuku.

Aku masih kecil saat itu nak, kelas 1 sd kalau tidak keliru.

Untungnya saja, adek bungsuku yang lahir kembar tersebut tidak neko-neko sampai sekarang. Semoga saja berlangsung seterusnya. Dia tidak terlalu menyusahkan ibuku.

Nak, sayangi ibumu sepenuh hati. Dia melahirkanmu di rumah sakit dengan sekuat tenaganya.

29.07.16   06:19

Advertisements

ULANG TAHUN IBUMU

18 Juli 1990. 26 tahun lalu, ada seorang bayi mungil yang menyatakan kesanggupannya menjalani hidup di dunia. Aku tak tahu pasti namun setengah keyakinanku, dia menumpahkan beban hidupnya dalam tangisan kemudian menatap dunia dengan optimis.

ditakdirkan menjadi seoran gadis Jawa dan menghabiskan 26 tahun hidupnya di tanah Jawa. dia menjelma menjadi gadis yang benar-benar jawa dengan perangai yang lembut dan berdamai dengan hidup bahkan untuk hal-hal yang tidak mengena di hatinya.

Itu Ibumu Nak. Aku tidak tahu persis seperti apa dia menjalani masa kecilnya karena aku bertemu dengannya saat usianya sudah masuk 22 tahun lebih 6 bulan. namun yang pasti, hidupnya sedikit lebih berat ketika Ayahnnya meninggalkan dia selama-lamanya saat usianya baru menginjakkan 13 tahun.

Dia menjalani hari-harinya bersama seorang Ibu yang dia kasihi. aku  yakin begitu dalam kasihnya terhadap si Ibunya apatahlagi ketika Ayahnya sudah tiada.

Kami dipertemukan oleh pekerjaan di Surabaya. pertemuan yang terlalu singkat menurutku karena hanya berlangsung 3 bulan tetapi begitulah takdir Nak. kita tak pernah bisa menerka kemana takdir akan membawa hidup kita ke depan.

Aku dan Ibumu menjalin komunikasi yang intens setelah bekerja di Surabaya sampai akhirnya, pada oktober 2015, kami sepakat untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang kemudian menghasilkan dirimu “Damar Kahuripan Semesta.”

Hari ini Nak, Ibumu ulang tahun yang ke 26. sedari pagi aku tidak menyadari momen hari ini sebelum nenekmu memberitahuku tentang ulang tahun Ibumu. memang sih budaya mengucapkan selamat hari ulang tahun di keluargaku sama sekali tidak ada artinya dan jika kau mau tahu, kami bahkan kedua orang tuaku tidak pernah peduli dengan momen ulang tahun. bukan karena mereka acuh terhadap anak-anaknya namun lebih karena ulang tahun tidak punya arti apa-apa di keluarga kami. hari ulang tahun hanyalah pengulangan tanggal dan bulan.

tidak ada salahnya, di momen hari ulang tahun Ibumu ini, aku memanjatkan doa-doa suci semoga Ibumu dan juga dirimu nak senantiasa dilimpahkan kesehatan lahir batin. semoga kita sekeluarga dijaga dari hal-hal yang syubhat dan haram. semoga Ibumu menjadi Ibumu yang penyayang dan penyabar membesarkanmu dalam kasih sayang tiada akhir.

semoga kita selalu diliputi kebahagiaan lahir batin dalam kesederhanaan tanpa mengabaikan kebahagiaan yang lain.

Sehat selalu lahir batin Isteriku. Ibu dari anak-anakku kelak.

18 Juli 2016 15:32 WIB

RUMUSAN HIDUP

Ini rumusanku.

Tiap kemauan yang berhubungan dengan inti hidup maka persiapkan diri untuk menghadapi ujianNya. Berniat untuk sabar maka persiapkan segenap diri lahir batin untuk menghadapi cobaan menuju tingkatan sabar. Dan itu bukan main-main karena ujiannya tentang hidup dan pasti berhubungan dengan diri.

Saya sudah melalui beberapa ujian dari setiap keinginanku menaikkan derajat kemanusiaanku namun selalu tersungkur dalam kegagalan.

Saya berniat meningkatkan kesabaran namun saat diperhadapkan dengan kondisi yang membutuhkan kesabaran extra namun ternyata Saya  tidak bisa berdamai melihat kondisi yang diperhadapkan kepadaku.

Saya tidak bisa berdamai melihat seorang Ibu yang diperlakukan tidak selayaknya orang tua oleh anaknya meski Ibu tersebut memiliki segudang kesabaran. Saya yang kalah meningkatkan kesabaran.

bagaimana Saya bisa berdamai dengan kondisi Ibu yang sudah menua namun harus membiayai anak dan mantunya yang sudah punya 3 anak bahkan Dia juga yang membiayai cucu-cucunya dan mengurus semua keperluan cucunya sedangkan anak dan menantunya tidak melakukan apa-apa bahkan bekerja pun tidak mau. dengan begitu si Ibu tidak mengeluh hanya mengucapkan doa lirih semoga perangai anaknya berubah. parahnya lagi, si Ibu harus mengutang sampai ratusan juta untuk membayar utang-utang anaknya.

Nak, kenyataan hidup itu benar-benar ada dan terjadi di hadapanku. Saya meringis Nak setiap kali menyaksikan keadaan pilu tersebut. meski kusadari bahwa untukku mungkin itu sebuah ujian ketahanan untuk bersabar bagiku namun sekali lagi Saya tidak bisa berdamai Nak dengan kondisi seperti itu. Saya terlalu sentimentil pada hal-hal yang berhubungan dengan seorang Ibu.

Hidup itu tentang ujian Nak. jika suatu waktu kau menginginkan sesuatu maka bersiaplah dengan ujiannya. jika berniat bersabar maka bersiaplah dengan kondisi yang diperhadapkan Ilahi kepadamu tentang kesabaran, begitupun dengan keinginan untuk menjadi Mukhlis dan segala pencapaian yang hendak kau gapai dalam hidupmu. semua akan diuji.

Saat ini juga kusisipkan pesan untukmu Nak. saat kau sudah bisa berpikir maka kumohon dengan segenap permohonanku kepadamu, jangan pernah menyusahkan orang lain apatahlagi Ibumu sendiri. jangan menyusahkan hatinya. jika seandainya kau tidak mampu membantunya pada hal-hal materiil maka setidaknya kau tidak menambah bebannya dengan permintaan yang macam-macam. 

 Mampang, 12 07 16

IDUL FITRI 1437 H

Tidak semua yang diharapkan sesuai kenyataannya. Selalu ada selipan hikmah dari semesta dalam setiap peristiwa yang dialami. Kita tidak bisa lepas dari ketentuan-ketentuan Ilahi yang sudah tertuliskan.

Nak, lebaran kali ini terasa berbeda bagi Saya dan Ibumu karena kehadiranmu di tengah-tengah kami seminggu lalu. ada rasa haru menyelimuti sukma menjelang Idul fitri kali ini, ada satu alasannya, ada tangismu diantara kami.

Berbagai bayangan keintiman di hari raya idul fitri menyeruak di lubuk hatiku sejak kau lahir. Ada kau, kau dan ibumu di hari bahagia.

Sayang sekali Nak, semua yang kuhadirkan di benakku tentang lebaran kali ini benar-benar buyar tak bersisa. Aku melewati momen lebaran di RSI Madiun menjaga Ibumu yang sedang terkulai lemah akibat gigitan nyamuk.

Benar, Ibumu terkulai lemas karena Demam Berdarah. panas badannya naik turun. malam hari, suhu tubuhnya tinggi dan mereda pada siang hari dan begitu seterusnya sampai Aku memutuskan untuk membawanya chek up. alhasil, 2 hari menjelang Lebaran, Ibumu harus opname karena DBD.

Selalu Aku katakan Nak bahwa peristiwa selalu datang sepaket susah senangnya. memang benar Aku dan Ibumu bersedih melewati hari raya nan fitri di RS namun bukanlah dengan begitu, Aku dan Ibumu bisa menghabiskan waktu kami berdua. apatahlagi Aku tidak bisa membayangkan ketika virus DBD menyerang Ibumu saat Aku masih di Jakarta. siapa yang menjagamu dan menjaga Ibumu. ah Nak, hidup yang ditawarkan oleh Ilahi kepada kita sebenarnya hanyalah tentang peristiwa bagaimana kita menyikapinya.

Tidak henti-hentinya Aku bersyukur saat H +1 Lebaran, hasil lab menunjukkan bahwa Trombosit Ibumu sudah naik. Akhirnya sore hari Ibumu sudah diijinkan pulang.

Ada tambahan pengetahuan tentang DBD yang baru kuketahui bahwa ketika virus DBD sudah menyerang maka tidak ada obat khusus yang bisa mencegahnya. kita hanya bisa mengontrol trombositnya. 3-4 hari, trombosit akan mengalami penurunan. saat suhu panas sudah turun, bukan berarti sudah sembuh, malah sebaliknya, saat itu masa kritis ketika panas sudah reda dan trombosit turun. setelah melalui fase tersebut, trombosit kembali naik ketika dikontrol dengan baik dan terkadang saat fase kritis sudah lewat, muncul pendarahan seperti bintik-bintik merah di beberapa bagian tubuh.

Lebaran kali ini menyenangkan Nak. Aku menghabiskan waktuku berdua dengan Ibumu. membantunya dalam hal-hal terkecil sekalipun bahkan sekedar untuk memakai baju dan hal tersebut adalah sebuah kebahagiaan untukku.

Selamat Hari Raya Idul fitri 1437 H