MENGENANG LEBARAN

Lebaran kali ini serasa tragedi yang terlalu perih dikenangkan. banyak cerita yang tandas dalam perasaan yang tak menentu.

Lebaran Idul Fitri sudah seperti momen menuntaskan rindu kepada terkasih, orang tua, kekawan dan masa lalu. namun kali ini sepertinya harus terlewati.

jauh hari, aku sudah berjanji kepada isteri untuk berlebaran di kampungnya yang juga berarti akan merasakan momen lebaran di rumah keluarga baru.

4 hari menjelang lebaran, aku mudik ke kampung isteri di daerah perbatasan jawa tengah dengan jawa timur. ada rasa haru yang membuncah dalam dada saat menyadari aku tidak berlebaran dengan keluarga, dengan sahabat di kampung halaman, namun kuluruskan niat bahwa begitulah konsekuensi dari sebuah pernikahan bahwa ada banyak hal-hal yang harus ditinggalkan. aku harus berdamai dengan kehidupanku sekarang, begitu pikirku.

Semua rencana buyar adanya ketika H-3 lebaran, isteriku yang juga ibumu terserang demam berdarah. Dia harus diopname sampai H+1 lebaran.

Aku melaksakan shalat ied di parkiran rumah sakit dengan perasaan nelangsa. Pikiranku tidak henti-hentinya melayang ke kampung halaman, menghadirkan wajah ibuku yang pasti sedang sibuk-sibuknya di malam lebaran dengan segenap aktivitas masak memasak.

Rawamangun, 21 07 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s