INI CERITA KEMARIN

Saya meninggalkan majelis kemarin sore di masjid dekat kantor. alasannya klasik nak, tentang tauziah yang menurutku tidak adil terhadap sesama manusia.

jadi begini ceritanya.

sesaat setelah jamaah shalat ashar, muballiq kondang yang  terkenal seantero nusantara maju ke depan Jamaah kemudian memberi tauziah. awalnya berbicara tentang ayat mengenai haramnya makan babi kemudian berbicara tentang larangan memilih pemimpin yang tidak seiman.

di sini saya sudah paham arah pembicaraannya. sampai pada saat pernyataannya bahwa “sudah harga mati untuk tidak memilih pemimpin yang tidak seiman”.

saya bukanlah orang yang tidak menerima perbedaan apatahlagi cuma perbedaan pendapat, namun untuk kasus di atas, saya sampai sekarang tidak sependapat dengan siapapun yang ingin mereduksi hak-hak hidup orang lain atas nama agama sekalipun. toh memilih pemimpin yang tidak seiman masih debatable.

hampir saja saya melakukan hal yang sama ketika mendengar ceramah idul adha bebrapa waktu yang lalu di kota wisata, cibubur. khatib bercita-cita ingin mengislamkan seluruh warga kota wisata. impian yang menurutku sangat aneh. ini bukan jaman dimana kita harus mengislamkan orang lain. mungkin saja kita belum sepenuhnya islam.

terlalu berat ya nak. oke ini sekedar cerita lewat saja nak. kapan-kapan kita diskusi masalah ini kalau kau berminat.

Advertisements

CERITA PILU

Kau mungkin bisa merasakan Nak. beberapa hari terakhir, aku dan ibumu sering berbeda pendapat untuk beberapa hal. tak usahlah kusebutkan di sini.

mungkin aku yang terlalu pemarah nak. untuk setiap hal yang menurutku tidak bisa lagi kutolerir sampai harus mengkonfrontir semuanya kepada ibumu. pun demikian ibumu. kami masih dalam tahap pendewasaaan diri menjalani pernikahan.

ada rasa bersalah yang menghantui setiap kali perbedaan pendapat diantara kami meruncing dan terkadang berakhir dengan lontaran kata-kata kasar namun percayalah nak, riak-riak kecil tersebut tidak akan pernah mengurangi kasih kami terhadapmu.

bertumbuhlah nak.

 

CERITA TENTANG KAWAN

Saya berteman dengan banyak orang, mengenal karakter mereka dengan segala keunikannya, namun di setiap pertemanan selalu menyimpan beribu makna.

Nak, seorang kawanku punya cerita mengharukan hari ini. pada dirinya yang terlihat pendiam tersimpan kekuatan hati yang saya sendiri tidak sanggup berlaku seperti apa yang dia perlihatkan kepada saya.

saya mengenalnya di pertengahan 2015. pada sebuah diklat yang diadakan kantor kami. meski masih dalam satu naungan perusahaan namun pada saat itu, kami ditempatkan di cabang yang berbeda.

kesan pertama bertemu dengannya hanyalah bahwa dia orang pendiam. terpancar dari raut wajahnya yang teduh.

sampai pada akhirnya tanggal 26 kemarin, kontraknya diputus oleh kantor. tidak ada yang salah pada pribadinya, hanya menurut kantor, performancenya yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

saya tidak punya tendensi apa-apa akan hal itu, cuma menurut saya bahwa orang seperti dia layak dipertahankan mengingat pribadinya yang tidak pernah neko-neko atau mungkin juga saya yang tidak tahu kriteria seperti apa yang perusahaan butuhkan terlepas dari masalah yang sifatnya subjektif.

forget it nak hal-hal di atas. saya cuma mau bilang padamu bahwa dia berbesar hati atas keputusan Perusahaan bahkan di hari terakhirnya masuk kantor, dia masih menyempatkan diri menyambangi semua divisi dan mohon pamit. ah nak, saaat dia menyalamiku, saya merasa bahwa mungkin dia lebih pantas dari saya dipekerjakan di kantor ini dengan kebesaran hatinya.

begitulah nak. selalu ada orang baik di sekitar kita

Cipaku, 26 9 16

Kisah tetangga kita

Saya tidak pernah benar-benar  bercerita banyak dengan tetangga sebelah sampai akhirnya pada suatu malam ketika itu dia kehilangan motornya di teras rumah.

Dia mengetuk pintu dan memberitahu perihal motornya yang hilang.

Semenjak itu. saya, ibumu dan nenekmu sering bertegur sapa minimal melempar senyum tipis saat berpapasan.

Saya pun tidak pernah mengetahui tentang keluarganya selain dua anaknya yang masih kecil sering lewat depan rumah saat hendak main sepeda sampai akhirnya suatu hari, nenekmu berbagai cerita dengannya.

Bapak tetangga kita bercerita kepada nenekmu bahwa dia sudah cerai dengan isterinya belum lama ini. Isterinya tinggal di daerah Tanjung priok.

Kedua anaknya ikut dengannya atas kemauan sendiri.

Dari cerita nenekmu pula, saya baru tahu kalau ternyata dia berprofesi sebagai ojek online. Saya takjub mendengar kisahnya yang diceritakan oleh nenekmu bahwa pagi hari sebelum narik, dia mengantar kedua anaknya sekolah kemudian setelah itu baru ngojek. Sore hari saat waktu pulang sekolah, dia akan menjemput anaknya sekolah.

Dia ngojek lagi malam hari dan terkadang pulang jam 11.

Setelah tahu bahwa dia ngojek online, saya baru merasakan kesedihan saat dia kehilangan motornya beberapa hari yang lalu. Betapa dia benar-benar terpukul karena motor tersebut adalah perantara rejekinya. meski begitu, kulihat wajahnya yang tenang saat kejadian malam itu. Sembari mengusap dadanya dia berkata kepada saya, tadi mau keluar nyariin obat buat anak yang lagi sakit malah kehilangan motor.

Perjuangan hidupnya keras. Sesekali ketika saya mengeluh, saya akan mengingat betapa beratnya bapak sebelah rumah. Sesekali kedua anaknya yang  belum sampai berumur 10 tahun ditinggal berdua sementara bapak itu ngojek.

Betapa mengerikannya membayangkan jika terjadi apa-apa terhadap bapak tetangga di jalanan sementara anaknya yang masih sangat belia hanya berdua di rumah.

Oh, Tuhan. Semoga itu tidak pernah terjadi.

Nak, saya selalu berusaha untuk tidak pernah sekalipun merasa jengkel terhadapmu meski kau rewel disaat saya pulang kerja dalam keadaan capek, sebisa mungkin saya tidak akan pernah melakukan hal itu nak, bahkan saya berjanji untuk tidak menyentuhmu ketika hati saya tidak tenang. Saya ingin kau kupeluk dengan segenap energi positif dari dalam diriku.

Saat menulis ini. Saya mendengar bapak sebelah rumah baru pulang ngojek. Semesta memberkati usaha kerasmu pak.

27 9 16 23:25

CERITA JALANAN

Malam senin kemarin, saya menjemput ibumu yang harus pulang malam karena lembur di bilangan kuningan. sekitar pukul 19:30, kami melintasi jalan menuju arah mampang.

tepat di lampu merah dekat halte busway patra kuningan, jalanan padat merayap. tepat di depanku, ada pengendara motor yang meliuk-liuk diantara barisan kendaraan yang begitu padat. entah mungkin tidak bisa menguasai motornya, tepat sebelum lampu merah, dia menyerempet pengendara motor di sampingnya, alhasil terjadi adu mulut diantara mereka.

saya yakin bahwa motor yang meliuk-liuk tersebut yang salah namun nampaknya dia tidak mau disalahkan bahkan terkesan dia meladeni adu mulut dengan pengendara yang diserempetnya.

sebelum lampu hijau, saya melihat mereka belok ke kiri sepertinya mencari ruang untuk gelut karena sedari tadi, mereka jadi tontotan di tengah padatnya lalu lintas.

begitulah nak di kota ini. tidak ada istilah benar atau salah bahkan yang sudah jelas ngebut pun selalu merasa benar dan merasa paling penting untuk dihargai.

temanku pernah berkata bahwa pengendara di kota ini mayoritas sakit jiwa, tidak ada toleransi sesama pengendara.

keras memang hidup di jalanan ibu kota yang sedang kita tinggali nak.

 

27 9 16

AYO BERCERITA LAGI

Sepertinya sudah terlalu lama saya tidak mengunjungi lapakmu ini nak, semenjak kau ada di bumi ini 3 bulan lalu.

bukan, bukan karena saya sibuk nak tetapi saya yang dasarnya pemalas dan tidak pernah belajar dari hal-hal yang sudah terlewati. entah sudah berapa puluh kali terlontar keinginanku untuk rutin membawakanmu cerita di sini namun ternyata berhenti hanya sebatas harapan. sekarang tambah parah kemalasanku.

sejak memutuskanberhubungan dengan dunia perfesbukan dan mengurangi membaca buku, #eh kapan saya rajin membaca ya nak, alhasil keinginan menulis pun menurun drastis.

entahlah nak, ayah macam apa saya ini yang selalu dikalahkan oleh kemalasan bahkan peningkatan kualitas diri pun tidak ada progresnya sama sekali.

Shalat wajib molor dan serasa hanya menggugurkan kewajiban, hati masih sering tidak tenang atas hal-hal yang absurd, sering memarahi ibumu yang tidak pernah lelah mencintai kita berdua, dan kekacauan-kekacauan lainnya yang menimpaku akhir-akhir ini.

Saya bayangkan saat kelahiranmu nak, saya semakin bisa menata diri dan menguasai diri namun ternyata tidak semudah merebahkan badan di kasur yang empuk.butuh perjuangan yang tidak berujung untuk menjadi pribadi dan ayah yang lebih baik lagi.

semakin ke sini semakin saya menyadari bahwa kau mengajariku bagaimana menjadi lebih baik lagi.

nak, tulisan ini tidak untuk mengikrarkan tekadku untuk lebih giat bercerita karena saya khawatir hanya berakhir dalam tataran rencana namun setidaknya saya ingin mengatakan kepadamu bahwa saya masih punya sisa-sisa tekad dan kekuatan untuk bercerita kepadamu apatahlagi umurmu sudah memasuki bulan ke-3.

doakan ya nak.

Mampang,27 9 16 22:13

TENTANG TIDURMU

Entah kenapa, setiap malam dirimu tidak bisa memejamkan mata. alhasil aku atau lebih tepatnya ibumu dan nenekmu harus menemanimu begadang. seringkali kau baru mau memejamkan mata paling cepat pukul 24;00. lumayan juga nak caramu menguji kami belajar menjadi orang tua. namun satu yang harus kau ingat nak bahwa ibumu dan aku terutama tidak ada pernah kesal jika kau tidak tidur. aku akan mememanimu begadang sampai jam berapapun kau mau.

semalam, saat nenekmu pulang kampung. kami berdua yang harus mempersiapkan diri begadang menemani dirimu namun ternyata, mungkin saja kau sadari bahwa nenekmu tidak ada di rumah sehingga waktu tidurmu lebih cepat dari biasanya.

naasnya, saat bangun pagi, semua badanku terasa ngilu. kemungkinan masuk angin. bagaimana tidak, aku telanjang dada dengan kipas angin yang selalu menyemprotku. aku terkapar nak.

tapi tak apalah. toh mungkin aku hanya butuh sedikit istirahat untuk kembali menemanimu bedagang. doakan nak semoga kondisiku cepat pulih.

 

Cipaku, 1 September 2016