CERITA JALANAN

Malam senin kemarin, saya menjemput ibumu yang harus pulang malam karena lembur di bilangan kuningan. sekitar pukul 19:30, kami melintasi jalan menuju arah mampang.

tepat di lampu merah dekat halte busway patra kuningan, jalanan padat merayap. tepat di depanku, ada pengendara motor yang meliuk-liuk diantara barisan kendaraan yang begitu padat. entah mungkin tidak bisa menguasai motornya, tepat sebelum lampu merah, dia menyerempet pengendara motor di sampingnya, alhasil terjadi adu mulut diantara mereka.

saya yakin bahwa motor yang meliuk-liuk tersebut yang salah namun nampaknya dia tidak mau disalahkan bahkan terkesan dia meladeni adu mulut dengan pengendara yang diserempetnya.

sebelum lampu hijau, saya melihat mereka belok ke kiri sepertinya mencari ruang untuk gelut karena sedari tadi, mereka jadi tontotan di tengah padatnya lalu lintas.

begitulah nak di kota ini. tidak ada istilah benar atau salah bahkan yang sudah jelas ngebut pun selalu merasa benar dan merasa paling penting untuk dihargai.

temanku pernah berkata bahwa pengendara di kota ini mayoritas sakit jiwa, tidak ada toleransi sesama pengendara.

keras memang hidup di jalanan ibu kota yang sedang kita tinggali nak.

 

27 9 16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s