Saya yang terlalu cepat curiga

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja seorang wanita sekira umur 40an sudah bercakap dengan ibumu di ruang depan saat saya keluar dari kamar mandi. entah apa yang diperbincangkan.

semula saya tidak terlalu perduli terhadap topik yang mereka bahas namun sayup-sayup dari dalam kamar, saya dengar si wanita sedang menawarkan jasanya kepada ibumu untuk membantu mencuci dengan imbalan 800 ribu per bulan.

semenit kemudian, saya keluar kemudian ikut nimbrung. saya bertanya tempat tinggalnya dan apa tujuannya.

“saya butuh kerja pak. suami saya satpam tetapi sudah habis kontraknya dan sekarang sedang tidak berkerja.kalau bisa, saya cuci gosok bayarannya 800 rb per bulan. tau sendiri pak kalau hidup di Jakarta tetapi tidak kerja.”

saya terdiam sejenak kemudian menanyakan tempat tinggalnya dan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupannya, lebih seperti mencurigai.

sesaat setelah si wanita pamit, saya meronggong ibumu dengan beberapa pertanyaan. apakah sebelumnya ia mengenal wanita tersebut, apa tau tempat tinggalnya.

saya kemudian dengan penuh curiga menceramahi ibumu supaya jangan terlalu cepat percaya kepada orang yang baru dikenal di kota ini. saya sejatinya trauma atas kejadian bulan lalu. ketika itu, ada pemuda yang datang meminta sumbangan pembangunan masjid namun setengah jam setelah itu, motor tetangga hilang.

sepertinya saya sudah dirasuki tabiat kelas menengah yang selalu merasa curiga kepada setiap orang yang butuh bantuan di kota ini. selalu merasa harus berhati-hati. oh betapa piciknya pikirannya saya nak.

minggu lalu saat ojt di kantor cabang. saya sering menemani kepala cabang bercerita apa saja saat istirahat kantor. suatu waktu, dia bercerita pengalamannya ketika masih di Surabaya. dia pernah mengenal seorang kontraktor yang sedang mengalami kebangkrutan. tabungannya tersisa sekitar 25 juta. hal yang dilakukan setiap hari adalah mendatangi blok M dan duduk di emperan dimana terdapat banyak pedagangan asongan yang lalu lalang. oh iya, pada saat itu, si kontraktor masih berdomisili di Jakarta.

si kontraktor kemudian mendatangi satu persatu pedagangan asongan dan membagikan sisa tabungannya untuk dijadikan modal mengembangkan usaha. dia tidak berharap imbalan, dia hanya berpesan jika suatu waktu berhasil, maka dia dia meminta supaya mereka membantu temannya yang lain.

begitulah kebiasaan yang dilakukan oleh si kontraktor saat berada di ambang kebangkrutan. namun semesta tidak buta terhadap kebaikannya. setelah itu, dia tidak pernah sepi proyek sampai pada kesuksesannya. begitulah cara kerja Tuhan ketika kita ikhlas.

namun apa yang saya lakukan saat ada orang yang mendatangi rumah kita meminta bantuan.? saya bahkan mencurigainya Nak.

tadi siang, ada khutbah di masjid DT. inti ajarannya bahwa memang terkadang ada pengemis di kota ini yang sebenarnya menjadikan mengemis sebagai pekerjaan tanpa mau berusaha namun ada juga yang benar-benar pengemis makanya saat ada yang mendatangi rumah kita, jangan terlalu curiga. jangan sampai mereka itu benar-benar pengemis yang dikirim oleh Tuhan untuk menguji kemurahan kita.

begitulah Nak bapakmu ini. sejengkal lagi bergabung dengan gerembolan kelas menengah yang tak tahu diri.

semoga kau belajar banyak kepada ibumu suatu saat nanti tentang berbagi. dia tidak pernah punya tendensi apa-apa selain niat tulus.

25 10 16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s