Posted in #rsudpasarminggu

5 Bulan

ingatanku berjalan mundur ke beberapa tahun yang lalu. saya tidak ingat persis sudah umur berapa saat itu. satu hal yang masih segar di ingatanku bahwa saat itu, saya sedang kesakitan dengan telapak kaki yang bengkak.

“Bundang”, istilah penyakit yang sedang menyerangku saat itu, dengan telapak kaki yang bengkak dan bernanah sehingga tidak memungkinkan saya berjalan.

saya digendong oleh salah seorang kakak ibuku menuju sebuah puskesmas yang terletak di desa seberang berjarak sekitar 10 km dari kampung kami dengan jarak tempuh sekitar 2 jam.

saya sudah tidak ingat persis keadaan saya sampai pada masa kesembuhan., namun pada beberapa episode kehidupan berikutnya, ada banyak kenangan yang tertinggal di memoriku bersama pakde ku.

liburan ke Ujung pandang adalah suatu prestise yang tidak semua orang di kampungku merasakannya pada saat itu, namun pakde sering mengajakku berlibur ke Ujung pandang setiap kali masa liburan tiba.

setiap kali perjalanan ke Makassar -nama Ujung pandang yang sudah berganti- biasanya mobil akan mampir di daerah pangkep. nah suatu waktu dalam perjalanan pulang dari Makassar, kami mampir makan siang. tradisi di rumah makan di sana bahwa menunya diletakkan di meja dan dibayar setelah selesai makan.

yang jadi soal karena saat itu, saya belum mengerti. alhasil ketika makanan sudah dibayar dan kami hendak beranjak ke mobil, saya menyempatkan mengambil ketupat yang masih tersedia di atas meja tanpa memberitahu padkeku.

sekelumit cerita tentang pakdeku masih berlanjut hingga menjelang beliau wafat. suatu waktu saat saya sudah duduk di bangku smp, saya pernah bercerita masalah seputar kendalaku di sekolah kepada ibuku, tiba-tiba saja beliau ada dan menanyakan apa kendalaku di sekolah. saya sudah tidak ingat pasti, masalah apa yang sedang kuhadapi saat itu.

beliau memang terkenal sangat concern terhadap masalah pendidikan. meski hanya berprofesi sebagai petani namun beliau selalu memastikan semua anak-anaknya melanjutkan pendidikannya ke tingkatan paling tinggi.

“pilih mana, kau belajar baik-baik atau jika tidak sanggup, lebih baik sekalian tidak sekolah/kuliah” kalimat tersebut selalu terngiang di kepalaku sejak beliau menasehati anak-anaknya bahkan kami keponakannya.

satu hal lain yang membuat saya kagum kepadanya adalah kemampuan menjalin silaturrahimnya yang sangat kuat. dia terkenal sangat familiar di keluarga kami bahkan sampai pada keluarga jauh.

Nak, tadinya saya ingin mengucapkanmu selamat atas 5 bulan hadir di dunia dengan pembuka cerita atas kisah pakdeku yang selalu hadir di masa kecilku ketika saya dan saudaraku mengalami kesusahaan namun akhirnya saya menceritakanmu semua kisah sentimental kebersamaanku bersama beliau.

saya mau bercerita kepadamu bahwa kau tidak punya paman maupun bibi yang dekat dengan keseharianmu. kita hidup di Ibu kota yang berjarak ribuan mil dari keluarga besar. tidak ada cerita seperti yang kualami yang akan terjadi kepadamu. hanya ada saya, ibumu dan nenekmu yang selalu berada di sampingmu. namun percayalah nak, kami selalu akan melakukan yang terbaik untukmu.

oh iya nak, tepatnya seminggu yang lalu di jumat dinihari tepatnya pukul 03:00. kau mengalami demam tinggi lebih 39’C. ada ibumu dan juga nenekmu yang berusaha menenangkanmu namun tidak jua berhasil karena tidak bisa dipungkiri, panas badan sampai 39’C terkadang membuat seorang kejang apatahlagi bayi seumur dirimu.

ibumu membangunkanku kemudian dengan terburu-buru, kami membawamu ke IGD RSUD Pasar Minggu. untungnya rumah sakit tersebut hanya berjarak sekitar 1 km dari rumah. di IGD, kau diperiksa oleh dokter jaga, seorang Perempuan dengan perawakan besar yang hampir membuatku kesal dengan cara komunikasinya yang menurutku tidak baik bagi psikologi seorang pasien maupun keluarga pasien.

dirimu harus ditusuk dengan jarum untuk pengambilan sampel darah. saya tidak tega melihatku harus mengakrabi jarum suntik di umurmu yang baru akan memasuki 5 bulan.

kita harus menunggu 1 jam untuk mengetahui hasil lab darahmu apakah kau akan di opname atau diijinkan pulang.

sesuai dugaanku, kau dirawat dan lagi-lagi, kau harus ditusuk jarum untuk diinfus. momen ini yang membuatku tidak bisa menahan setitik demi setitik air mata yang bergerak turun dari sudut mataku mendengarmu menangis kesakitan.

tidak berhenti sampai di situ, suster ternyata tidak bisa menemukan nadimu sehingga butuh waktu berjam-jam kemudian kau baru bisa diinfus. tahukah kau berapa kali tusukan jarum yang menghujam setiap sisi tangan dan kakimu nak? 17 kali.

rasanya tidak sanggup membayangkan rasa sakit yang menderamu saat itu.

jam 9 pagi, kau dipindahkan ke kamar inap di lantai 7 no. 712. ada 3 pasien balita yang sudah di ruangan tersebut. kau masih sering rewel meski suhu badanmu sudah mulai normal hanya benjolan merah yang masih betah di sekujur tubuhmu.

malamnya, tanganmu bengkak akibat infus dan saya berinisiatif meminta suster melepaskan infus dari tubuhmu.

3 hari berikutnya, kondisi tubuhmu mulai pulih. kau sudah bercanda dengan nenekmu. seharusnya hari minggu, kau sudah diperbolehkan pulang namun saat itu dokter libur.

hari senin, barulah kau diperbolehkan pulang. menurut dokter, penismu kurang bersih.

seminggu berlalu, kau semakin sehat meski tetap saja, benjolan merah di tubuhmu masih muncul hilang.

oh iya, Dr. Reza yang merawatmu. dia baik nak tidak seperti dokter jaga yang pertama kali kita jumpai di IGD.

satu lagi, kita tidak bayar sepersen pun karena menggunakan BPJS. lumayan membantu nak.

selamat 5 bulan nak

24 11 16

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s