Posted in Uncategorized

Semacam refleksi diri

Damar

ini hanyalah sebuah refleksi ringan atas beberapa momen yang sudah kita lalui bersama sejak kelahiranmu, 5,5 bulan lamanya.

sejak kelahiranmu, nenek dari ibumu atau yang sering kami panggil uti, ikut menetap di Jakarta bersama kita. sepertinya saya sudah menulis alasan kenapa nenekmu- selanjutnya akan kupanggil uti- menetap di sini bersama kita. saya lupa link tulisannya, biarlah kau sendiri scroll di lapak ini tentang tulisan tersebut.

tidak ada masalah signifikan yang dijumpai selama kita hidup berempat. semuanya berjalan normal sesuai rencana yang jauh sebelum menikah sudah kami rencanakan. pagi hari, saya dan ibumu berangkat ke kantor, kemudian pulang menjelang adzan maghrib. seringkali pulang jam 8 malam saaat ibumu ada tugas tambahan.

praktis dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore dan kadang-kadan gsampai jam 8 malam, kau hanya berinteraksi dengan utimu. mungkin kau banyak belajar dari apa yang kau lihat dari uti entah itu gerakan ataupun ucapan.

saya dan ibumu hanya memiliki sedikit waktu mencandaimu, memandangmu pun menggendongmu. apalagi sepulang kerja, kami terutama saya masih sangat sering memainkan hp dalam jumlah menit yang terlalu lama, alhasil benar-benar saya hanya sedikit waktu bersamamu.

rutinitas tersebut berulang selama 5 hari dalam seminggu. kita hanya berkumpul bersama saat weekend. terkadang ke mall, taman dan bertandang ke rumah saudara uti.

tidak ada yang salah kan nak? mungkin memang tidak ada,

tetapi kemudian, saya dan ibumu merasa kurang memberimu sesuatu yang merekatkan keintiman antara anak dan orang tua. bagaimana tidak nak, setiap kali kau menangis, entah haus, mengantuk ataupun ada sesuatu yang tidak sesuai keinginanmu, kau tidak akan pernah diam jika saya atau ibumu yang menenangkanmu. kau baru meredakan tangisanmu ketika berada dalam pelukan uti.

beberapa kali ibumu mengakali cara bagaimana menenangkanmu. ibumu mengenakan baju yang sering dipakai uti kemudian menggendongmu namun tetap saja, kau bisa membedakan pelukan mereka, kau masih saja melanjutkan tangisanmu.

saya janji nak, suatu waktu saat kau sudah bertumbuh, saya ingin mengajakmu nak, entah berdua atau bersama dengan ibumu dan uti, tetapi saya ingin mengajakmu sekali atau beberapa kali berjalan berdua melihat hal-hal yang ditawarkan dunia. ke mana saja kaki membawa kita melangkah bahkan dalam benakku, ingin suatu waktu mengajakmu plesiran ke luar negeri, bukan gaya-gayaan ataupun sebuah prestise dan dianggap kekinian, sama sekali itu bukan tujuanku nak. saya hanya ingin memperlihatkanmu bahwa dunia banyak sisi, banyak paradigma dan sesuatu yang berwarna sehingga caramu melihat dunia.

Semoga nak

Cipaku 6 12 16

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s