Tentang Kekhawatiran

Ayah harus dinas di luar pulau, Ibu pun demikian adanya. harus meninggalkan seorang bayi bersama neneknya di rumah. demi sebuah pekerjaan yang tak berujung. elegi sebuah kehidupan.

saya masih selalu berpikir, apa yang salah bagi kehidupan orang-orang modern? mereka dengan begitu giat mencari nafkah hingga hanya sedikit ruang dan waktu buat anaknya namun hasilnya pun tidak melimpah. orang tua di generasi sebelumnya, meski bekerja keras namun tidak saja mereka punya waktu yang melimpah untuk anak-anaknya bahkan hasil keringat pun cukup menghidupi anak-anak mereka.

Nak, ada salah satu paman saya yang anaknya dua belas orang. pekerjaannya seorang Petani yang hasilnya tidak menentu. dalam sebulan, tidak bisa diprediksi berapa penghasilan yang akan diterima, namun sekalipun tidak pernah saya liat ada anak-anaknya yang kelaparan bahkan masih bisa membeli kebutuhan sekunder maupun tersier. meski beberapa anaknya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, namun bukan karena masalah biaya.

coba tengok manusia modern sekarang. gaji mereka sudah bisa diprediksi setiap bulan dengan bilangan jutaan, namun toh masih terkadang merasa kurang bahkan harus menghemat demi biaya hidup. parahnya lagi, “manusia modern” membatasi jumlah anak karena permasalahan biaya hidup dan waktu yang tidak cukup untuk merawat anak-anaknya. kekhawatiran yang tidak pernah terlintas di kepala orang tua generasi sebelumnya.

Nak, Saya ingat Ibuku dan Bapakku. tidak sekalipun kekurangan membiayai anak-anaknya yang berjumlah enam orang. padahal Bapakku hanya seorang petani serabutan dan Ibu seorang penjual kue, itupun hanya dua hari seminggu. saya rasakan sendiri betapa wujud uang bukan sebuah indikator utama dalam menghidupi keluarga. hasil kebun Bapakku sangat tidak pasti bahkan dulu waktu masih bocah, hasil panen cokelat yang tidak seberapa dinikmati kurang lebih tiga bulan sekali, hasilnya terkadang hanya untuk beli hp untuk ukuran manusia modern.” tetapi kami masih bisa kuliah di perguruan tinggi.

Nak, Saya dan Ibumu masuk dalam kategori “manusia modern” yang selalu punya begitu banyak kekhawatiran di kepala. Saya dan Ibumu bekerja tanpa menyisakan banyak waktu untukmu dan hasilnya pun seperti maju mundur.

entah pesan apa yang ingin kusampaikan lewat tulisan ini, namun selanjutnya, mungkin saja kau punya pemikiran lain tentang hidup dan tentang apa yang akan kau hadapi.

19 1 16

Advertisements

Cerita Awal Tahun

Tahun 2017.

seharusnya saya lebih giat lagi menulis tentang Damar. meninggalkan jejak dalam tulisan serupa menjaga ingatan akan hal-hal kecil yang terlewati. otak kita tidak serupa memori yang bisa merekam dengan abadi setiap apa yang didengar. perlu jejak tinta dalam membantu otak menjaga kenangan.

saya panggil saja namamu, Damar.

sebulan ini, Damar ditemani Ibuku di rumah yang datang membesuknya. maklumlah, sejak Damar nongol di dunia enam bulan yang lalu, belum ada keluargaku yang menengoknya karena perkara jarak yang terlampau jauh. Alhasil, Ibuku memaksakan diri datang meski dengan perjuangan yang berat karena tidak terbiasa bepergian dengan kendaraan. ya, Ibuku mabok perjalanan.

sebulan terakhir, rumah lumayan ramai karena ada juga kakakku yang datang menemani Ibuku. Damar nampaknya menikmati keramaian di rumah. dia tidak henti-hentinya melepas tawa setiap kali kakakku menggodanya.

Damar semakin bugar, sehat dan sedang lucu-lucunya.

hanya saja, pasca dirawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu karena demam tinggi akibat infeksi, kulitnya kemungkinan alergi. setiap dirinya terpapar angin maka tidak lama kemudian, akan muncul benjolan merah di sekujur tubuhnya yang terkena angin. namun biasanya, tidak lama setelah diolesi salep, benjolan merah tersebut akan hilang tak berbekas.

dua hari ini, ada benjolan yang nampaknya seperti “bundang” di bagian lehernya. benjolan yang di dalamnya terdapat nanah. saya sering mengalami hal yang sama saat masih bocah. mungkin karena “bundang” tersebut, Damar agak rewel dua hari terakhir. berbagai jurus dilakukan mbahnya untuk menenangkannya namun seringkali gagal. Damar tetap melanjutkan tangisannya.

saat seperti itu, Ibunya pasti ikut-ikutan sedih. alih-alih berusaha menenangkan Damar, dia malah sibuk menyeka tetasan air mata berhamburan dari sudut matanya.

tetap sehat nak. doa kami selalu menyertaimu.

7 1 17