Posted in Perbaikan diri, Renungan

Lidah

Saya hari kemarin nak. lontaran kata dari lidah yang tak terkontrol membuatku menyemburkan semua kata yang seharusnya tidak diucapkan.mungkin sebuah ujian dari Tuhan bahwa apakah saya bisa menahan lidah disaat setiap paginya saya selalu berdoa semoga lidah saya terjaga.

Nak, saya punya seorang kawan yang phobia naik pesawat terbang. Mungkin belum masuk dalam kategori parah karena dia masih bisa memaksakan dirinya menggunakan pesawat jika ada tugas kantor ataupun urusan keluarga namun saya selalu menangkap raut wajah cemas setiap kali dia akan bepergian via pesawat.

Saya mencandainya bahwa saya bahkan sangat menikmati turbulensi pesawat yang serasa mobil melewati jalan rusak asalkan tidak jatuh.

nah, ucapan itu yang menurutku tidak layak untuk kuutarakan. bagaimanapun bercanda yang dicampur dengan rasa takabur meski sedikit bukanlah hal yang baik.

Semoga saya dan juga kau nantinya bisa memilah ucapan yang baik.

10 2 17

Posted in Keluarga, Renungan, Uncategorized

Belajar menjadi Ayah

Tiap kali saya menelepon Ibu di kampung, saya selalu menyempatkan berbicara dengan salah satu keponakan saya yang berumur 5 tahun. dia sedang dalam masa pertumbuhan dan punya banyak pertanyaan layaknya seorang anak yang sedang dalam masa pengamatan. kadang saya tersungkur atas setiap pertanyaan maupun celotehnya yang di lar dugaanku.

Nak, Insya Allah kau juga akan melewati masa seperti itu. masa di mana semua hal yang terlintas di dalam pikiranmu akan menyembur dalam kalimat tanya kepada saya ataupun Ibumu. saya harus banyak belajar mempersiapkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan yang kau akan ujikan kepadaku.

sesaat setelah membaca artikel mojok pagi ini, kekhawatiranku atas kekurangan ilmu yang kumiliki semakin menjadi-jadi. bagaimana nanti jika kau menyerangku dengan pertanyaan tentang teologi? apa jawaban yang harus kusiapkan. mungkin untuk beberapa pertanyaan yang bernada lelucon, saya pun akan menjawabnya dengan candaan namun menjadi masalah ketika pertanyaan dasar atas teologi yang ingin kau ketahui. adalah tugasku untuk memberimu amunisi dasar atas pengetahun tentang Tuhan, Hidup dan segala hal yang bersifat hakiki.

Seringkali pijakan pertama dalam mengarungi hidup berasal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seorang bocah. mereka akan merawat ingatan atas setiap hal yang pertama kali didapatkan semenjak pikirannya sudah mulai mencerna.

Pada saatnya kau bertanya tentang keberadaan Tuhan maka mulailah kau sedang berfikir tentang hidup yang hakiki. pada saat waktu tersebut tiba, saya pun harus mencari jawaban yang tidak akan menyesatkanmu. memang sudah banyak alternatif-alternatif jawaban di internet atas pertanyaan yang sama namun satu hal yang saya yakini bahwa sayapun harus punya jawaban yang kontekstual.

Nak, saya membayangkan suatu waktu, kau tidak melulu bertanya tetapi kita berdiskusi. kita berdiskusi atas apa saja yang kau sukai tetapi tetap punya pijakan yang jelas atas hal-hal prinsipil yang kita anut.

Cipaku, 3 2 17

Posted in Waktu

Terlalu Lama tidak Bercerita

Waktu menampakkan dirinya seperti kilatan cahaya yang tak terkejar. Sesaat berada dalam satu ruang kemudian melesat jauh ke masa depan. Seperti baru kemarin berada di persimpangan tahun saat sahut-sahutan petasan memekakkan telinga yang ditembakkan ke langit namun dengan sekejap mata, awal bulan kedua sudah menghampiri. Waktu benar-benar tak menyisakan ruang bagi manusia yang tidak memanfaatkannya.

Begitulah adanya waktu nak. Terlalu cepat berlari sehingga terkadang kita terperangah atas semua perubahan yang dibawa olehnya. Seperti juga umurnya yang sudah memasuki tujuh bulan lebih seminggu. Kau sudah mulai sering mengoceh dan lebih aktif bergerak. masih segar dalam ingatanku sesaat sebelum kau akan menginjakkan langkah di bumi.

Salah satu cara untuk merawat ingatan atas setiap waktu yang terlewati adalah menuliskannya. Menjaga ingatan atas setiap tingkahmu yang semakin lucu maupun momen-momen yang sedang kita lalui bersama.

Oh iya nak, sejak dua minggu lalu sampai akhir bulan ini, Ibumu tidak menemanimu lima hari dalam seminggu. Kau hanya bertemu Ibumu pada sabtu dan minggu. Sebenarnya sebuah konsekuensi nak memilih bekerja kantoran apatahlagi di sebuah kota metropolitan bahwa waktu kita akan tergerus di jalanan dan di kantor sampai seringkali mereduksi kebersamaan dengan keluarga.

Salah satu alasan saya menuliskan momen yang dilewati adalah mengawetkan kenangan. Ada masa di mana kita perlu menengok ke belakang untuk belajar tentang apa yang akan dihadapi.

Kemungkinan saya dan Ibumu sering meninggalkanmu di rumah bersama nenekmu karena kerja kantor. Tetapi sungguh yang harus kau percayai nak bahwa dengan begitu, tidak sedikitpun mengurangi kasih kami kepadamu.

Biarlah waktu bergerak sesuai fitrahnya nak. Kita tidak perlu menyesali setiap serpihan masa lalu namun setidaknya untuk sampai saat ini, kita masih punya waktu untuk melakukan hal-hal baik. Apatahlagi saya nak, seharusnya sudah mulai lebih keras lagi untuk belajar menjadi seorang ayah yang baik setidaknya untuk dirimu. Saya ingin suatu waktu kau berkata di depan siapa saja bahwa kau bangga menjadi anakku dan semoga saja nak.

Tidak banyak yang kuharapkan darimu nak. Hanya ingin melihatmu tumbuh dalam keadaan sehat lahir batin, selebihnya untuk pilihan-pilihan yang tidak prinsipil, saya bebaskan dirimu untuk memilih.

1.2.17