Terlalu Lama tidak Bercerita

Waktu menampakkan dirinya seperti kilatan cahaya yang tak terkejar. Sesaat berada dalam satu ruang kemudian melesat jauh ke masa depan. Seperti baru kemarin berada di persimpangan tahun saat sahut-sahutan petasan memekakkan telinga yang ditembakkan ke langit namun dengan sekejap mata, awal bulan kedua sudah menghampiri. Waktu benar-benar tak menyisakan ruang bagi manusia yang tidak memanfaatkannya.

Begitulah adanya waktu nak. Terlalu cepat berlari sehingga terkadang kita terperangah atas semua perubahan yang dibawa olehnya. Seperti juga umurnya yang sudah memasuki tujuh bulan lebih seminggu. Kau sudah mulai sering mengoceh dan lebih aktif bergerak. masih segar dalam ingatanku sesaat sebelum kau akan menginjakkan langkah di bumi.

Salah satu cara untuk merawat ingatan atas setiap waktu yang terlewati adalah menuliskannya. Menjaga ingatan atas setiap tingkahmu yang semakin lucu maupun momen-momen yang sedang kita lalui bersama.

Oh iya nak, sejak dua minggu lalu sampai akhir bulan ini, Ibumu tidak menemanimu lima hari dalam seminggu. Kau hanya bertemu Ibumu pada sabtu dan minggu. Sebenarnya sebuah konsekuensi nak memilih bekerja kantoran apatahlagi di sebuah kota metropolitan bahwa waktu kita akan tergerus di jalanan dan di kantor sampai seringkali mereduksi kebersamaan dengan keluarga.

Salah satu alasan saya menuliskan momen yang dilewati adalah mengawetkan kenangan. Ada masa di mana kita perlu menengok ke belakang untuk belajar tentang apa yang akan dihadapi.

Kemungkinan saya dan Ibumu sering meninggalkanmu di rumah bersama nenekmu karena kerja kantor. Tetapi sungguh yang harus kau percayai nak bahwa dengan begitu, tidak sedikitpun mengurangi kasih kami kepadamu.

Biarlah waktu bergerak sesuai fitrahnya nak. Kita tidak perlu menyesali setiap serpihan masa lalu namun setidaknya untuk sampai saat ini, kita masih punya waktu untuk melakukan hal-hal baik. Apatahlagi saya nak, seharusnya sudah mulai lebih keras lagi untuk belajar menjadi seorang ayah yang baik setidaknya untuk dirimu. Saya ingin suatu waktu kau berkata di depan siapa saja bahwa kau bangga menjadi anakku dan semoga saja nak.

Tidak banyak yang kuharapkan darimu nak. Hanya ingin melihatmu tumbuh dalam keadaan sehat lahir batin, selebihnya untuk pilihan-pilihan yang tidak prinsipil, saya bebaskan dirimu untuk memilih.

1.2.17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s