Posted in Keluarga, Renungan, Uncategorized

Belajar menjadi Ayah

Tiap kali saya menelepon Ibu di kampung, saya selalu menyempatkan berbicara dengan salah satu keponakan saya yang berumur 5 tahun. dia sedang dalam masa pertumbuhan dan punya banyak pertanyaan layaknya seorang anak yang sedang dalam masa pengamatan. kadang saya tersungkur atas setiap pertanyaan maupun celotehnya yang di lar dugaanku.

Nak, Insya Allah kau juga akan melewati masa seperti itu. masa di mana semua hal yang terlintas di dalam pikiranmu akan menyembur dalam kalimat tanya kepada saya ataupun Ibumu. saya harus banyak belajar mempersiapkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan yang kau akan ujikan kepadaku.

sesaat setelah membaca artikel mojok pagi ini, kekhawatiranku atas kekurangan ilmu yang kumiliki semakin menjadi-jadi. bagaimana nanti jika kau menyerangku dengan pertanyaan tentang teologi? apa jawaban yang harus kusiapkan. mungkin untuk beberapa pertanyaan yang bernada lelucon, saya pun akan menjawabnya dengan candaan namun menjadi masalah ketika pertanyaan dasar atas teologi yang ingin kau ketahui. adalah tugasku untuk memberimu amunisi dasar atas pengetahun tentang Tuhan, Hidup dan segala hal yang bersifat hakiki.

Seringkali pijakan pertama dalam mengarungi hidup berasal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seorang bocah. mereka akan merawat ingatan atas setiap hal yang pertama kali didapatkan semenjak pikirannya sudah mulai mencerna.

Pada saatnya kau bertanya tentang keberadaan Tuhan maka mulailah kau sedang berfikir tentang hidup yang hakiki. pada saat waktu tersebut tiba, saya pun harus mencari jawaban yang tidak akan menyesatkanmu. memang sudah banyak alternatif-alternatif jawaban di internet atas pertanyaan yang sama namun satu hal yang saya yakini bahwa sayapun harus punya jawaban yang kontekstual.

Nak, saya membayangkan suatu waktu, kau tidak melulu bertanya tetapi kita berdiskusi. kita berdiskusi atas apa saja yang kau sukai tetapi tetap punya pijakan yang jelas atas hal-hal prinsipil yang kita anut.

Cipaku, 3 2 17

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s