#7

Tentang Ibumu, ikan asin dan kemampuan memasak

Sore mulai gelap dihampiri malam dan syair shalawat di mesjid terdengar merdu sesaat ketika sepeda motorku memasuki gang. Tepat di depan rumah, kumatikan mesin motor lalu bergegas memarkirnya di teras rumah, sejurus kemudian, pintu terbuka lebar oleh Ibumu yang sedari tadi menungguku dari kantor.

“Kak, mau digorengin telur atau tahu?”

“Ikan asin saja, masih ada kan?”

“Masih kok, yasudah”

Beberapa menit kemudian, aroma ikan asin menyebar di seluruh ruangan. Aku menikmatinya sambil membayangkan nikmatnya makan dengan lauk ikan asin bagian atasnya diperciki jeruk nipis kemudian disantap dengan sambel cobekan. Ah ingatanku kembali ke beberapa tahu lalu ketika hidangan seperti itu menjadi makanan istimewa yang disajikan ibuku dan disantap bersama keluargaku yang berjumlah 8 orang.

“Kak, ikannya sudah digoreng. Nanti nasinya diambil sendiri dari ricecooker ya”

“Oke, nanti saja aku makan. Masih kenyang”

Ibumu menyadari bahwa dia tidak pandai memasak namun sejak menikah denganku, dia selalu berusaha memasak apa yang yang menjadi makanan kesukaanku.

30 03 17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s