Posted in #14harimenulis, Renungan

Handphone

“Hidup untuk cuma megang HP.”

kalimat di atas kudengar dari ceramah di TV sambil lalu tadi pagi saat akan berangkat ke kantor. anak baru usia setahun sudah pintar menggunakan hp karena semua orang yang berada di sampingnya tidak bisa lepas dari hp. mulai dari Ayah, Ibu sampai neneknya.

Miris mendengar ceramah tersebut Nak. seakan kita lah yang disindir. bagaimana tidak, Saya, Ibumu dan Nenekmu terlalu sering menghabiskan waktu memandang layar hp sementara kau ada diam tak ditegur.

terkhusus Saya nak. terasa sekali sebagian besar waktuku dirampas oleh benda kecil tersebut sementara itu, berkali-kali Saya berjanji untuk tidak terlalu terikat dengan benda tersebut, mungkin hanya untuk hal-hal yang penting.

Sekali lagi, Saya berjanji untuk mengurangi interaksiku dengan hp. Saya ingin menghabiskan waktu bermain denganmu maupun membaca buku-buku di rak yang belum sempat tersentuh. Saya ingin suatu waktu, kau gemar membaca.

26  4 17

Posted in #14harimenulis, CeritaRakyat

Bombo

Damar asyik mendengarkan cerita Ayahnya duduk di dalam baby walker sambil mengemut dot yang sudah habis isinya.

“Nak, dulu saat Ayah kecil, Ayah sering keluyuran sepulang sekolah. terkadang ke hutan, sungai dan spot lain yang familiar di kampung.” Ayah mulai membuka cerita

Ayah dan teman-teman sering lupa waktu sehingga orang tua khawatir. kami bermain sepanjang waktu dan baru beranjak pulang rumah ketika hari sudah gelap. seringkali mendapati ibu yang sudah menahan amarah namun tetap saja, kami selalu mengulanginya.

merasa tidak berhasil dengan cara memarahi, para orang tua di kampung kemudian mencari cara lain supaya anak-anak seumur Ayah tidak lupa waktu saat bermain. entah siapa yang punya ide, namun tiba-tiba saja beredar cerita tentang makhluk halus yang sering menyasar anak-anak sebagai korbannya.

Paccepo adalah jenis makhluk halus yang bergentayangan di siang hari yang bolong dengan membawa karung. sasarannya adalah anak-anak. Paccepo mengambil kepala anak-anak yang kemudian dimasukkan ke dalam karung.

ada juga Bombo. jenis makhluk halus ini beroperasi pada malam hari dan kemungkinan besar sejenis pocong namun lebih umum. jika pocong adalah mayat yang menakut-nakutin orang, maka jenis bombo ini bisa dikategorikan pocong namun bisa juga berwujud setan atau makhluk halus lainnya yang suka mengganggu manusia.

Jenis lainnya ada Longga. digambarkan sebagai sosok makhluk halus yang bertubuh sangat tinggi dan menjadi momok bagi anak-anak yang berkeliaran pada siang bolong.

Nak, sejujurnya dulu Ayah termakan isu tersebut sehingga jika orang tua sudah menakut-nakuti maka Ayah lebih memilih untuk tidur siang.

Masa kecil kita berbeda nak. kau lahir dan tumbuh di kota besar sedangkan Ayah di pelosok Desa. ada cara pandang berbeda dalam menjalani masa pertumbuhan kita namun satu hal yang perlu kau tau bahwa Ayah tidak akan menakut-nakutimu tentang apa saja. Ayah pun tidak akan pernah melarangmu untuk hal-hal yang tidak prinsipil hanya saja Ayah ingin kau lebih berani mengutarakan apa saja isi hatimu.

25 4 17

Posted in #14harimenulis, Ibu, Keluarga

Children Learn What They Live

rita

Karya Dorothy Law Nolte
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.
Ayah tidak punya ide untuk menuliskanmu cerita hari ini Nak alhasil puisi yang sangat inspiratif jadi pelampiasan untuk mengingatkan diriku bagaimana seharusnya kau kudidik, eh etapi mendidikmu pada hakekatnya mendidik diri Ayah sendiri untuk lebih bertanggung jawab.
ada hikmah lain nak. kebetulan tadi di saat istirahat di kantor, Ayah sempat membaca cerpen Puthut ea “Bunga dari Ibu.”

“Ibuku marah pada sesuatu yang dulu menurutku aneh. Ia pernah marah ketika aku pulang sekolah dan memamerkan hasil tes bahwa aku mendapat nilai terbaik. Lalu, ibuku bertanya, berapa nilai teman-temanku? Aku menjawab dengan nada bangga kalau sebagian besar nilai temanku di bawah lima. Ibu langsung marah dan berkata, “Lain kali jangan pamerkan kehebatanmu jika temanmu tidak mendapatkan nilai yang sama baiknya denganmu!” Aku langsung mengadukan itu ke bapak dan bapak bilang, maksud ibuku lain kali menjadi tugasku untuk membuat teman-teman sekelasku bisa mengerjakan sepertiku atau bahkan memberi contekan. Tentu saja aku kaget.

Aku juga pernah dimarahi ibu ketika suatu saat kami berlibur dan jalan-jalan ke luar kota. Di sebuah trotoar, ada seorang pengemis dan ibu bilang. “Beri dengan uangmu.” Lalu, ibu melenggang pergi. Aku memeriksa sakuku dan tidak kutemukan uang receh, lalu aku menyusul ibu dan mengatakan bahwa aku tidak punya uang receh. Ia langsung menghentikan langkahnya dan bersuara marah, “Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?!” Dengan segera aku balik karena kesal dan memberikan semua uangku pada pengemis itu. Aku berharap nanti ibu akan bertanya dan marah padaku karena aku memberikan semua uangku. Dan aku ingin membalas marah padanya, “Lho katanya tidak boleh uang receh?!” Tapi sayang, ibu tidak pernah menanyakannya.” Puthut Ea, “Bunga dari Ibu”

Ayah terkesan pada puisi Dorothy dan cerpen Puthut. keduanya memberikan hikmah yang luar biasa sebagai salah satu pijakan dalam mendidik anak meski Ayah juga sendiri tidak sepenuhnya menerapkan hal seperti itu kepadamu karena Ayah yakin, semua anak, semua kondisi dan setiap hal punya keunikan masing-masing.

21 4 17

Posted in #14harimenulis, Keluarga

Mainan

Ayah selalu senang sesaat setelah tiba di rumah dan mendapati aneka mainanmu berserakan di ruang depan. Itu cukup meyakinkanku bahwa sepanjang hari, kau menikmati masamu seperti seharusnya.

20170420_185709.jpg

Ayah tidak akan pernah marah jika kau mengahamburkan apa saja yang bisa kau raih dan mengeksplorasi keingintahuanmu.

Sepanjang pengamatanku, kau selalu nampak begitu bergembira ketika main bola. Mainan yang lain kau acuhkan begitu saja. Sesekali bola kau genggam erat lalu kemudian melempar sekuat tenaga kemudian mengejar lagi, begitu seterusnya.

Keretamu semakin memudahkanmu untuk bergeser ke setiap sudut rumah. Meraih apa saja kemudian memasukkan ke dalam mulutmu. Mungkin itu salah satu cara bagimu untuk mengetahui benda apa yang ada di sekitarmu.

Ayah cuma menjagamu dan memastikan bahwa tidak ada yang membahayakan fisikmu, selebihnya silahkan bereksperimen.

Sehat selalu nak

20 4 17

Posted in #14harimenulis, Keluarga

Ayah dan Anak

Nak Damar, Ayah ingin berbagi cerita denganmu, tentang Ayah yang nampaknya masih gagal menjadi Ayah sejati bagi dirimu, entah apapun alasannya.

Nak, Ayah pernah baca cerita tentang Gus Dur. bagaimana beliau benar-benar menjadi seorang Ayah yang sejati di samping sebagai seorang guru bangsa. pada buku yang pernah Ayah baca, beliau sangat meringankan pekerjaan isterinya bahkan pada setiap malam ketika anak-anaknya yang masih bayi bangun di tengah malam, beliau lah yang bangun kemudian mengganti popoknya dan setelah semua sudah beres, beliau membangunkan isterinya kemudian menyusui anak-anaknya.

Nak, tadi malam itu, kau terbangun pada pukul 02:30. kau hanya berdua dengan nenekmu di kamar sebelah karena ibumu sedang ke luar kota. Ayah mendengar kalau kau terjaga di tengah malam.

Ayah hanya keluar menengokmu dan beberapa kali menyuruhmu tidur meski Ayah sendiri sadar bahwa kau belum mampu menangkap pesan secara verbal apatahlagi matamu menolak untuk terpejam.

Ayah menggendongmu hanya sesaat, mungkin cuma lima menit kemudian menaruhmu kembali di samping nenekmu.

ingin rasanya Ayah membaringkanmu di samping Ayah namun nenekmu khawatir jika kau berguling dari ranjang. melihat gelagatmu yang tidak kunjung tidur, Ayah memilih untuk masuk kamar dan melanjutkan tidur sedangkan nenekmu lah yang terus menjagamu sampai kau tertidur setengah jam kemudian, seperti pengakuan nenekmu pada pagi hari.

Nak, sungguh teori itu benar-benar tidak segampang dengan apa yang dibayangkan. Ayah selalu berangan-angan bisa menjagamu setiap saat dan menjadi orang yang pertama hadir ketika kau butuh sesuatu namun pada setiap hal yang kutemui tentang dirimu, Ayah selalu gagal bahkan melawan rasa mengantuk demi menemanimu begadang pun Ayah kalah.

memang sih terkadang kau nampaknya lebih butuh nenekmu pada saat-saat genting tapi toh kondisi seperti itu karena pada awalnya, Ayah kurang sabar menemanimu sejak kau masih bayi.

Nak Damar, Ayah hanya ingin kita menjadi seorang, sahabat, lawan diskusi, hubungan Ayah Anak dan iteraksi lainnya pada setiap ruang dan waktu yang pas.

Ayah susah menandaskan setiap kata-kata yang ingin kusampaikan kepadamu nak namun seperti yang kau tahu, Ayah terlalu banyak teori dan kurang keras dalam mewujudkan teori yang sudah mengendap di kepala.

20 4 17

Posted in #14harimenulis, Ibu, Keluarga

Ibu Liburan

Damar masih saja melongo tanpa mengerti sesaat setelah ibunya pamit dengan barang bawaan yang sepertinya akan bepergian jauh.

“Saya pergi dulu ya nak” ucap ibunya sambil melancarkan ciuman bertubi-tubi di setiap sisi wajah Damar.

tidak ada nada protes dari mulut Damar. dia sudah mulai kebal atas perasaan sentimental setiap kali ditinggal oleh ibu maupun bapaknya. toh Damar sudah mulai betah hanya berdua dengan neneknya di rumah. bagi Damar, yang penting bukan neneknya yang jauh dari sisinya.

Damar suatu waktu pernah mendengar Bapaknya bercerita bahwa sewaktu kecil, bapaknya tidak bisa jauh dari ibunya. pernah suatu waktu ketika ibu Bapaknya-nenek Damar dari garis keturunan Bapak- melahirkan anak bungsu dan harus dirujuk ke kota, bapak Damar mengamuk dan membuat semua isi rumah merajuk untuk diikutkan, alhasil salah seorang pamannya mengajaknya untuk menyusul ibunya yang sedang melahirkan di kota.

Damar tidak memungkiri bahwa dia pun sangat sayang kepada ibunya namun bukan berarti dia harus protes atas setiap aktivitas yang dilakoni ibunya, toh Damar sudah mulai sedikit mengerti bahwa setiap hal yang dijalani ibunya hanya untuk dirinya, untuk setiap kebutuhan hidupnya.

Damar ingin suatu waktu, dia punya banyak waktu senggang bersama kedua orang tuanya, bepergian kemana saja yang mereka suka dan menikmati belaian tangan orang tuanya.

20 4 17

Posted in #14harimenulis, Keluarga, Renungan

Teriakan Ayah

Damar merasa tidak enak terhadap bapaknya. akhir-akhir ini, bapaknya selalu berteriak ketika dirinya sedang menginginkan sesuatu lalu kemudian menangis sedangkan Damar sama sekali tidak menginginkan hal tersebut. dia hanya mengikuti naluriah sebagai seorang bayi bahwa ketika haus, lapar mengantuk atau hal apapun yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka otomatis dia menangis. salah satu cara mengekspresikan keinginannya hanya dengan menangis. tidak sedikitpun niatnya membuat marah bapaknya.

Damar  hanya ingin sekali jika bapaknya mengerti dirinya sebagai seorang bayi. dia hanya butuh perhatian dan cinta tanpa harus dengan teriakan ataupun suara dengan nada yang keras toh Damar juga tidak akan melawan.

dalam beberapa kali momen, Damar tidak mau digendong oleh kedua orang tuanya jika sedang mengantuk. dia sudah terlanjur pewe dalam gendongan neneknya jika hasrat tidurnya minta dipenuhi. bukan apa-apa atau juga bukan karena Damar ingin menjaga jarak dengan orang tuanya, hanya saja tubuhnya dengan otomatis sudah terkoneksi dengan hangatnya pelukan neneknya karena hanya neneknya seorang yang selalu hadir di sampingnya setiap saat dan tak pernah jauh darinya.

hal itu pula yang membuat perasaan Damar selalu sedih setiap kali tidak melihat neneknya jika butuh sesuatu ataupun jika melihat neneknya hendak bepergian.

Damar benar-benar tidak ingin jauh dari neneknya bukan berarti tidak sayang terhadap kedua orang tuanya.

18 4 17