Posted in #14harimenulis, Renungan

Peringatan

“Mbah Dut sudah tidak ada.”

Menjelang maghrib ketika langit kelam diselimuti awan. tetangga sebelah rumah datang memberitahu berita duka.

“Kapan?”

setengah terperanjat, nenekmu bertanya kapan mbah dut meninggal.

“Baru saja. Pak RT yang mengirimiku pesan.”

beberapa menit setelah tetangga pembawa berita berlalu, nenekmu bercerita bahwa tadi pagi, Mbah Dut masih “Cangkruk” di depan rumahnya. menurut nenekmu, dia sangat bahagia ketika kau dan nenekmu menemaninya duduk santai tadi pagi. berkali-kali dia minta kau menciumnya namun selalu saja kau merengek.

sama sekali tidak ada firasat ketika tadi pagi dia bercerita banyak dengan nenekmu hanya saja dia mengeluhkan kakinya yang sering sakit.

“wajahnya sangat bersih.” kesan yang dilihat nenekmu di wajahnya.

saya sempat melihat kalian bertiga duduk di depan rumahnya sepulang membeli bubur. setengah berbisik kepadamu, itu bapak, ketika saya sudah hampir melintas di depan kalian.

nak, begitulah kematian memberi kita pelajaran. benar-benar ajal hanya sejengkal dari diri kita. tidak ada yang menyangka sama sekali bahwa beberapa jam setelah kalian berinteraksi dan bercanda, dia sudah harus menempuh perjalanan jauh menuju keabadian.

hikmah bahwa semua akan terjadi dengan takaran waktunya masing-masing. dengan meyakini hal seperti itu, kita bisa mengoreksi setiap jejak waktu yang kita lalui.

1 4 17

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s