Sopir

Damar masih saja tidak bisa memahami perilaku manusia di kota ini. selalu saja ada kisah bias yang dijumpainya di setiap perjalanan yang dilalui. entah kisah yang mengharu biru atau pun cerita yang membuatnya menahan geram.

Seperti kebiasaan di momen weekend, Damar menghabiskan hari libur bersama ibu dan neneknya. kali ini, mereka berencana belanja keperluan selama seminggu di sebuah swalayan di bilangan Jakarta Selatan.

“Sialan, macet banget. kemana semua sih ini orang-orang hari sabtu gini?” Sopir taxi online mengomel di sepanjang perjalanan dari Cilandak ke Rasuna Said.

Damar, orang tua dan neneknya selalu menggunakan jasa transportasi online atas pertimbangan harga dan efisiensi. perjalanan via transportasi online sudah ditentukan harganya sebelum berangkat sedangkan taxi online harus menggunakan argo yang mana mahal murahnya tarif perjalanan tergantung macetnya lalu lintas.

“Ck.ck.ck kenapa sih macet banget?” berkali-kali si Sopir mengumpat di perjalanan. Damar sudah tidak kerasan di mobil mendengar omelan si Sopir bahkan cara menyetirnya pun membuat perut mual.

Jalanan sepanjang Mampang menuju Rasuna Said sedang dalam pekerjaan. ada proyek underpass yang sedang digarap sehingga jalanan dipersempit.

Setelah sekian jam dalam perjalanan yang tidak menyenangkan, akhirnya Mereka sampai di tujuan. membeli keperluan yang kira-kira dibutuhkan dalam seminggu.

Untungnya pada rute perjalanan pulang, Sopir Taxi online ramah dan tidak menampakkan sama sekali wajah yang gusar atas kemacetan perjalanan ini. dia selalu berusaha tampak ramah dan menyetir dengan tenang.

Damar masih saja bingung atas perilaku manusia yang mengumpat keadaan di kota ini. memang melelahkan menetap di kota yang sesak dengan semua permasalahan yang kompleks namun tidakkah mereka yang selalu mengeluh menyadari bahwa mereka sendiri yang memilih dengan sadar mencari hidup di kota ini? apa pula yang harus mereka keluhkan.

Damar kembali ke rumah kemudian menetek di Ibunya. Dia lelah dengan manusia yang suka mengeluh dengan keadaan yang merupakan pilihan sendiri. Di usianya yang baru menginjak sembilan bulan, Damar berjanji akan selalu berdamai dengan hidup dan akan mempertanggungjawabkan semua keputusan-keputusan yang merupakan pilihan sadarnya.

Damar akhirnya terlelap di pelukan Ibunya sementara bibirnya masih menempel di puting payudara Ibunya. Dia terlelap dalam seribu pertanyaan atas hidup yang akan dijalaninya.

4 4 17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s