Bapak dan Bola

Momen yang paling ditunggu Damar di setiap weekend adalah kebersamaan dengan Bapaknya bermain bola dengan Bapaknya. sambil bergelayut mesra di ketiak bapaknya, Damar tidak henti-hentinya cekikikan melihat bola plastik yang disepak Bapaknya ke arah dinding kemudian memantul dan begitu seterusnya. sesekali, kaki Damar diarahkan ke bola kemudian diayun layaknya dia sendiri yang menendang bola. meski duduk pun belum kuat namun Damar sudah merasa seperti pemain handal.

Damar beberapa kali mendengar Bapaknya bercerita tentang sepak bola. bagaimana sang bapak begitu menggandrungi dunia sepakbola semasa remaja namun cita-cita menjadi pemain profesional karena tidak ada dukungan dari orang tuanya.

“Nak, di masamu nanti, saya tidak punya hak untuk memaksamu menekuni sebuah profesi. selama hal yang kau lakoni adalah hal-hal baik maka itu sudah cukup membuatku senang namun namun kesenanganku berlipat beberapa kali jika kau menekuni sepakbola secara profesional.”

entah dua atau tiga kali sang bapak berbisik di telinga Damar dengan nada setengah serius. 

Damar sama sekali belum menentukan apa yang akan menjadi passionnya di umurnya yang belum genap setahun. Damar hanya ingin menikmati masa kecilnya dengan menetek, menangis, bermain dan menggigit apa saja yang bisa dijangkaunya. Damar tidak rela masa kecilnya digerogoti oleh kehidupan orang dewasa.

5 4 17 14:35

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s