Tahlilan

Alkisah di sebuah kampung, seorang Pemuda yang suka mabuk suatu waktu hendak melaksanakan shalat subuh berjamaah di mesjid. Sesaat setelah wudhu, tiba-tiba sang Uztads yang merupakan jamaah di mesjid tersebut menegurnya.

Kamu mau apa?”

“mau shalat subuh tadz.”

Si Ustadz ragu atas niatan si pemuda tadi karena dia tahu bahwa pemuda tersebut hanya mabuk-mabukan. 

“Baiklah. tapi sebelum shalat, saya mau nanya dulu, emang berapa rakaat shalat subuh?”

Tiga rakaat tadz.” jawab si pemuda dengan percaya diri.

Si ustadz kemudian mengusir si pemuda karena yakin pemuda tersebut masih dalam pengaruh minuman keras.

Di perjalanan pulang, si pemuda bertemu dengan teman-temannya yang hendak ke mesjid.

Hei, mau kemana kalian?”

“Ke mesjid shalat berjamaah”

“Emangnya berapa jumlah rakaat shalat subuh?”

“2 rakaat.” jawab teman-teman si pemuda secara serempak.

“Ah pulang saja. Saya saja yang ditanya ustadz kemudian menjawab 3 rakaat disuruh pulang apalagi kalian yang hanya menjawab 2 rakaat.”

Damar terpingkal-pingkal mendengar cerita bapaknya sepulang tahlilan di tetangga depan rumah. 

Sebenarnya, cerita tersebut diceritakan oleh Ustadz yang memimpin tahlilan. Ada kebiasaan menarik di sini, setiap kali setelah tahlilan dan menikmati hidangan, para pemuka agama yang memimpin tahlilan secara bergantian bercerita kisah-kisah yang mengocok perut entah itu fiksi ataupun kisah nyata.

Damar selalu saja menikmati oleh-oleh cerita dari bapaknya setiap kali ada tahlilan. Tidak ada “berkat” yang dibawa pulang bapaknya dari tempat tahlilan karena bapaknya tumbuh dan besar di lingkungan Muhammadiyah meski begitu, bapaknya sangat menggandrungi tahlilan ataupun hajatan lainnya yang didalamnya dikumandangankan shalawat nabi dan doa-doa. Namun dalam hal makanan, bapaknya tidak pernah mau mencicipi daging yang dihidangkan pada acara tahlilan. Dia hanya menikmati hidangan kue dan makanan ringan lainnya.

Damar masih bingung atas fenomena seperti ini, apa sebenarnya yang membedakan NU dan Muhammadiyah atau bahkan dengan golongan lain dalam agama islam sedangkan setiap dari mereka memproklamirkan diri sebagai seorang Islam?

Namun untuk hal yang terlalu njlimet seperti itu, Damar memilih bungkan kemudian membenamkan kepalanya di dada ibunya sambil menyusu dan akhirnya tertidur pulas.

9 6 17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s