Posted in Uncategorized

Mudik

Cerita mudik kali ini tentang kita, kau, aku dan Ibumu.

Nak, kau sudah merasakan bagaimana euforia di setiap momen menjelang Idul fitri, nikmatnya perjalanan mudik dengan kepadatan kendaraan di jalanan. meski kau belum mampu mengungkapkannya, namun aku yakin kau sudah mampu merasakan sensasinya.

22 Juni 2017. 02:30 WIB

aku, kau dan Ibumu sudah bangun dengan segala persiapan hendak ke Bandara mengejar Pesawat keberangkatan jam 5 pagi. dengan menumpang taxi online yang membawa kita melaju membelah kota ini. kau menikmati subuh dini hari dalam pelukanku.

03:00 WIB

mobil yang membawa kita ke Bandara sudah tiba di terminal 2F. aku dan ibumu berniat untuk tidak langsung masuk di ruang chek in namun melihat antrian penumpang yang membludak, niat kami urungkan dan segera mengantri. Benar saja, kita butuh waktu hampir sejam antri chek in.

04:00 WIB

kita sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. matamu tak kunjung sayu memaksa aku dan ibumu harus menyisakan waktu dan tenaga mengajakmu bermain. ruang tunggu dipenuhi oleh pemudik sama seperti kita, pun beberapa anak kecil yang seusiamu bahkan beberapa yang masih bayi.

05:00 WIB

kita sudah duduk manis di atas Pesawat. Ibumu berada di dekat jendela sedangkan aku di kursi tengah. kau sudah mulai lelah dan perkiraanku, sebentar lagi matamu tidak sanggup terbuka. beberapa menit setelah Pesawat lepas landas, akhirnya kau menyerah dengan kantuk. kau tertidur di pelukanku dan selama 2 jam perjalanan, kau tidak terbangun.

08:35 WITA

Akhirnya kau menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah Sulawesi, tanah leluhurku. kita sudah ditunggu oleh pamanmu di kedatangan bandara Hasanuddin. atas pertimbangan waktu, kita tidak mampir di kota Makassar. perjalanan dilanjutkan ke kampung halaman.

terik Matahari di pulau Sulawesi seakan menjadi sambutan hangat. dalam perjalanan ke kampung, kau masih sempat bermain di mobil.

12:00 WITA

kita mampir di daerah Bojo dekat kota Pare-pare. sekedar melepas penat dan Ibumu makan siang. rest area tersebut sudah dipadati oleh para pemudik yang sebagian besar berasal dari kota Makassar. Matahari tidak kunjung menyurutkan sinarnya.

15:00 WITA

kita berada di kota Pare-pare dan memutuskan untuk mampir di toko Sejahtera membeli perlengkapanmu selama di kampung sekaligus membeli oleh-oleh untuk handai tauladan. toko ini termasuk salah satu toko yang populer di kota Pare-Pare semenjak dulu dan sampai sekarang masih ramai dikunjungi oleh Masyarakat sekitar.

Perjalanan kita lanjutkan. jika pada umumnya pulang kampung melewati Sidrap, namun kali ini kita lewat kota Pinrang dengan pertimbangan bahwa jalur tersebut tidak terlalu macet.

kau, aku dan ibumu sudah terkuras banyak tenaga sehingga semua pulas di mobil. tak terasa saat bangun, mobil sudah hampir memasuki kota Enrekang. meski jarak dari kota Enrekang ke kampung masih sekitar 2 jam namun setidaknya, ada perasaan senang ketika sudah berada di tanah Massenrenpulu.

18:00 WITA

mobil sudah memasuki daerah Cakke saat adzan Maghrib berkumandang. Aku dan pamanmu buka di atas mobil dengan menu buah anggur. perjalanan ke rumah masih sekitar setengah jam lagi.

18:40 WITA

Akhirnya kita tiba di rumah. sesaat setelah turun dari mobil, Kakekmu menyambut dan hendak menggendongmu namun kau menolak bahkan menangis sekeras-kerasnya. kau tidak mau digendong oleh orang lain selain aku dan ibumu. aku berpikir bahwa mungkin sehari sampai dua hari di kampung, kau akan lebih bersahabat namun ternyata tidak, kau tetap saja menolak bermesraan dengan handai tauladan di kampung bahkan nenekmu sekalipun.

22 Juni – 1 Juli 2017

kurang lebih 9 hari kita di kampung. tidak banyak cerita yang kutuliskan kepadamu karena liburan kita hanya di rumah selain karena kau sama sekali menolak untuk digendong oleh sanak famili. hanya sekali aku membawamu ke bukit dengan rumah pada pagi dinihari untuk mengabadikan momen di kampung, selain itu, kau lebih banyak berdiam di rumah.

2 Juli 2017 16:00 WITA

kita kembali ke Ibu kota dengan Pesawat Sriwijaya. perjalanan kali ini sedikit lebih berat karena kita sudah terlalu penat bahkan di atas Pesawat, beberapa kali kau merengek bahkan susah didiamkan. mungkin tubuhmu sudah meminta untuk cepat sampai di rumah dan istirahat.

18:00 WIB

kita tiba di Bandara Soetta dengan selamat. Bandara dipenuhi oleh orang-orang yang baru tiba dari kampung masing-masing. setelah menunaikan shalat Maghrib, kita melanjutkan perjalanan ke rumah via taxi online. akhirnya kita sampai di rumah pada pukul 20:00 WIB.

Cerita Ramadhan 1438 H

Advertisements

Author:

Belajarlah menjadi Manusia, jangan pernah belajar menjadi Tuhan. jadilah Anugerah semesta yang membuat bahagia segenap makhluk. zen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s