Posted in Renungan

Makanan

Nak, saya selalu menghindari perbincangan yang arahnya menasehatimu karena sedangkal pengetahuan saya, ketika menasehati orang lain maka pada dasarnya kita sedang menunjuk diri.

Namun tak apalah kali ini saya ingin berbicara agak serius kepadamu meski saya juga hatus yakinkan diriku bahwa saya sedang menasehati diri sendiri.

Begini nak, pada perjalanan hidupku yang sudah memasuki hampir separuh dari usia Nabi Muhammad, Saya merenungi beberapa hal tentang hidup yang sedang dijalani.

Nak, sering-seringlah mengukur unsur makanan yang masuk ke dalam tubuhmu. Pastikan dengan keyakinanmu bahwa unsur makanan yang kau kunyah terbebas dari haram dari segala sudut pandang agama Islam. Berhubung saat ini kau tidak punya daya akan kontrol terhadap hal tersebut, maka memastikan makanan halal untukmu adalah tugas saya dan ibumu.

Jangan tamak dan perbanyak mempermudah urusan orang lain, memberi mereka makanan dan jangan suka ditraktir dalam arti yang lain jangan senang diberi sesuatu oleh orang lain.

Saya  jujur padamu bahwa salah satu doa yang sering kurapal adalah semoga makanan yang masuk ke dalam tubuh kita terhindar dari unsur haram.

Tidak mudah mengukur sumber makanan nak, namun Saya kira batasan kita sebagai Manusia hanya di ikhtiarnya dan jika memang ada yang lolos masuk di tenggorakan disaat ikhtiar kita sudah maksimal maka itu sudah di luar ranah kita. biasanya sih tubuh akan merespon jika kita sudah membiasakannya.

sekali lagi nasehat ini bukan hanya untukmu nak namun lebih dominan nasehat untuk diriku. kita sama-sama mengaplikasikannya.

 

18 8 17

 

Posted in Uncategorized

Cerita tertinggal

lama tidak bercerita tentang kenanganmu yang akan kau renungi suatu saat. hal-hal mengenai fase perkembangan dirimu yang sampai saat ini membuatku kagum. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak jelas juntrungannya sehingga melupakan cerita untukmu.

oh iya. sebulan terakhir, ibumu dinas di Ciloto sehingga praktis hanya bertemu dirimu di setiap weekend. sebenarnya sih tidak ada soal bagimu karena kau terlanjur sudah sangat dekat dengan nenekmu namun terkadang iba melihat nenekmu yang kerepotan menjagamu. apatahlagi kau sudah sangat aktif bergerak ke mana saja sesuka hatimu.

Nak, beberapa waktu yang lalu, Saya meyakinkan diriku untuk tidak membandingkan semua aspek pada dirimu dengan orang lain. Saya selalu percaya bahwa kau akan tumbuh dengan kataktermu sendiri. Hingga sampai pada hari ini, kau sudah mengalami begitu banyak perkembangan yang sangat pesat. Gigimu sudah tumbuh enam, dua di bagian bawah dan empat di bagian atas. Kau sudah mampu berdiri sekitar satu menit meski belum bisa melangkah namun kurasa itu sudah sangat lumayan sampai pada saat ini.

Diantara semua kelucuanmu, Saya hanya tidak bersepakat dengan kebiasaanmu menggigit meski menurut orang pada umumnya bahwa anak seusiamu akan tumbuh gigi ketika suka menggigit apa saja. Selain kebiasaan menggigit, kebiasaan melempat dot susumu sesaat setelah minum adalah kebiasaan yang masuk dalam daftar yang akan kuajarimu untul dikurangi.

Oh iya, terlepas dari semua itu, senyum dan segala polahmu membuatku merasa sangat bahagia menjadi seorang ayah dari dirimu yang sedang bertumbuh.

14 8 17

Posted in Uncategorized

Cerita Tengah Malam

Ada banyak hal yang mesti direnungi kembali nak, mengingat kembali janji yang pernah diikrarkan, mentafakkuri semua komitmen yang dibuat untuk kemudian menyusun langkah ke depan bukan malah ancang-ancang untuk berlari mundur karena sejatinya, kita sudah berada dalam arena permainan.

Nak, senin kemarin, rumah kita seperti sebuah turning point dimana saat yang bersamaan, saya, kau dan ibumu bergerak ke koordinat yang berbeda. Ironis memang nak namun sampai saat ini, saya belum bisa memutuskan apa yang sebenarnya harus dituju. Kita seperti ayam yang kehilangan induk.

Saya berada di kota lain begitupun kau dan miris mendengar kabarmu semalam bahwa kau tidak bisa memejamkan mata dari jam 11 malam sampai jam 3 dinihari alhasil yang repot adalah nenekmu.

Sebenarnya ada rasa bersalah yang menghinggapi ruang kecil di nuraniku karena harus memasrahkan pengasuhanmu di bawah kendali nenekmu namun apa jua, saya benar-benar belum menemukan jalan yang tepat supaya bisa bersamamu tiap saat.

Memang semula inisiatif pribadi dari nenekmu ingin menjagamu sedari kau belum hadir bahkan jauh sebelum saya memilih ibumu namun hal tersebut bukan pula menjadi pembenaran untuk semua hal yang telah kau jalani.

Mungkin jika ibumu membaca tulisan ini, dia akan berteriak sekeras tenaganya bahwa apa yang kuceritakan padamu hanyalah bulshit karena toh saat saya  di rumah bersamamu, tidak banyak waktu yang kuhabiskan membelaimu bahkan ibumu menghakimiku bahwa saya sering menarik kakimu jika sedang menjagamu.

Saya mau jujur banyak hal padamu atas ketidaksepakatanku terhadap apa yang sudah menjadi kelaziman di rumah kita. Mungkin belum saatnya tetapi tidak apalah untuk beberapa potongan cerita.

Kita bahkan tidak pernah tidur bersama setiap malam nak karena kau tidur bertiga dengan nenek dan ibumu. Saya kurang sepakat jika kau terlalu sering dilarang untuk banyak hal apatahlagi di masa pertumbuhanmu. Untuk setiap detail pendidikan dini yang harus kau terima bahkan saya merasa teoriku tentangmu sudah membusuk karena akses relasiku terhadapmu sepertinya terbatas.

Pada beberapa kondisi yang tidak kondusif dan suasana hati yang berontak, saya berpikir untuk membuka usaha yang tidak mengekangku sehingga bisa bersamamu tiap saat namun buah pikiranku masih mandek.

“My son my rules” adalah salah satu prinsip yang dianut temanku tetapi nampaknya mustahil untuk kuterapkan padamu pada kondisi seperti saat ini.

Tumbuhlah nak. Maaf ayah sama sekali belum maksimal menemanimu.

Cirebon 18 7 17

Posted in CeritaMudik

“Saya tidak mau puasa karena ternyata kalau puasa, kita tidak boleh makan dan minum.!!!”

bukan, bukan saya yang melebih-lebihkan kalimat di atas. kalimat tersebut terlontar dari mulut manis sepupumu, Meisyara.

semoga Semesta merahmatimu dan kau akan melewati masa seperti itu. masa di mana setiap yang keluar dari ucapanmu adalah kejujuran dan tanpa basa-basi.

Sebelum waktu itu tiba, saya yang harus belajar keras untuk menghadapi setiap kalimat tanyamu yang entah tentang apa saja. Saya harus menyimpan amunisiku untuk kujadikan tameng ketika kau mempertanyakan apa yang kau hadapi bahkan mungkin keberadaan Tuhan sekalipun.

Itu lumrah nak bahkan amat sangat lazim bagi anak yang sedang mengalami masa tumbuh pada otaknya. Tidak ada yang salah dalam setiap pertanyaan hanya saja terkadang para tetuah yang keliru menanggapi.

Begitulah nak kira-kira satu periodik dalam siklus kehidupan seorang manusia.

7 17

Posted in Perbaikan diri

Tentang Gigimu

Mei 2017

sejawatmu sudah tumbuh giginya. dia juga sudah kuat duduk dan beberapa hal yang mungkin belum kau bisa ataupun kau miliki, itu yang saya liat. namun apakah saya khawatir atas perkembanganmu lantas membandingkanmu dengannya?

tidak, sama sekali tidak nak. saya sudah berjanji untuk tidak membandingkan dirimu dengan orang lain. saya sudah pernah merasakan perlakuan seperti itu. kau akan tumbuh seperti adanya dirimu tanpa ada bayang-bayang orang lain, siapapun itu.

toh sampai saat ini, kau tumbuh sehat. tubuh segara, tawa yang selalu merekah dan gerak yang sangat aktif. saya sangat menikmati gerakanmu dan setiap polahmu yang menurutku lucu.

Juli 2017

beberapa paragrap di atas kutulis ketika di guzimu belum tubuh gigi namun menjelang mudik, kuperhatikan ada tanda-tanda akan tumbuh gigimu. benar saja, saat di kampung, saya memperhatikan bahwa gigimu sudah tumbuh.

kau pun mulai merangkak. 3 kali kau dipijit oleh oleh budhe di kampung. konon katanya supaya kakimu kuat dan cepat jalan. saat kembali ke sini, kau sudah merangkak dan tidak lagi ngesot.

Nak, banyak kekhawatiran khas orang tua yang kutepis dari pikiranku. mayoritas kekhawatiran tersebut karena sebagai orang tua, terlalu sering membandingkan pertumbuhan anaknya dengan yang lain sedangkan kita ketahui bahwa tiap anak tumbuh sesuai dengan kodratnya. tidak harus khawatir berlebihan selama masih normal dan tetap sehat.

Tulisan yang tak selesai. Juli 2017

Posted in Uncategorized

Mudik

Cerita mudik kali ini tentang kita, kau, aku dan Ibumu.

Nak, kau sudah merasakan bagaimana euforia di setiap momen menjelang Idul fitri, nikmatnya perjalanan mudik dengan kepadatan kendaraan di jalanan. meski kau belum mampu mengungkapkannya, namun aku yakin kau sudah mampu merasakan sensasinya.

22 Juni 2017. 02:30 WIB

aku, kau dan Ibumu sudah bangun dengan segala persiapan hendak ke Bandara mengejar Pesawat keberangkatan jam 5 pagi. dengan menumpang taxi online yang membawa kita melaju membelah kota ini. kau menikmati subuh dini hari dalam pelukanku.

03:00 WIB

mobil yang membawa kita ke Bandara sudah tiba di terminal 2F. aku dan ibumu berniat untuk tidak langsung masuk di ruang chek in namun melihat antrian penumpang yang membludak, niat kami urungkan dan segera mengantri. Benar saja, kita butuh waktu hampir sejam antri chek in.

04:00 WIB

kita sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. matamu tak kunjung sayu memaksa aku dan ibumu harus menyisakan waktu dan tenaga mengajakmu bermain. ruang tunggu dipenuhi oleh pemudik sama seperti kita, pun beberapa anak kecil yang seusiamu bahkan beberapa yang masih bayi.

05:00 WIB

kita sudah duduk manis di atas Pesawat. Ibumu berada di dekat jendela sedangkan aku di kursi tengah. kau sudah mulai lelah dan perkiraanku, sebentar lagi matamu tidak sanggup terbuka. beberapa menit setelah Pesawat lepas landas, akhirnya kau menyerah dengan kantuk. kau tertidur di pelukanku dan selama 2 jam perjalanan, kau tidak terbangun.

08:35 WITA

Akhirnya kau menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah Sulawesi, tanah leluhurku. kita sudah ditunggu oleh pamanmu di kedatangan bandara Hasanuddin. atas pertimbangan waktu, kita tidak mampir di kota Makassar. perjalanan dilanjutkan ke kampung halaman.

terik Matahari di pulau Sulawesi seakan menjadi sambutan hangat. dalam perjalanan ke kampung, kau masih sempat bermain di mobil.

12:00 WITA

kita mampir di daerah Bojo dekat kota Pare-pare. sekedar melepas penat dan Ibumu makan siang. rest area tersebut sudah dipadati oleh para pemudik yang sebagian besar berasal dari kota Makassar. Matahari tidak kunjung menyurutkan sinarnya.

15:00 WITA

kita berada di kota Pare-pare dan memutuskan untuk mampir di toko Sejahtera membeli perlengkapanmu selama di kampung sekaligus membeli oleh-oleh untuk handai tauladan. toko ini termasuk salah satu toko yang populer di kota Pare-Pare semenjak dulu dan sampai sekarang masih ramai dikunjungi oleh Masyarakat sekitar.

Perjalanan kita lanjutkan. jika pada umumnya pulang kampung melewati Sidrap, namun kali ini kita lewat kota Pinrang dengan pertimbangan bahwa jalur tersebut tidak terlalu macet.

kau, aku dan ibumu sudah terkuras banyak tenaga sehingga semua pulas di mobil. tak terasa saat bangun, mobil sudah hampir memasuki kota Enrekang. meski jarak dari kota Enrekang ke kampung masih sekitar 2 jam namun setidaknya, ada perasaan senang ketika sudah berada di tanah Massenrenpulu.

18:00 WITA

mobil sudah memasuki daerah Cakke saat adzan Maghrib berkumandang. Aku dan pamanmu buka di atas mobil dengan menu buah anggur. perjalanan ke rumah masih sekitar setengah jam lagi.

18:40 WITA

Akhirnya kita tiba di rumah. sesaat setelah turun dari mobil, Kakekmu menyambut dan hendak menggendongmu namun kau menolak bahkan menangis sekeras-kerasnya. kau tidak mau digendong oleh orang lain selain aku dan ibumu. aku berpikir bahwa mungkin sehari sampai dua hari di kampung, kau akan lebih bersahabat namun ternyata tidak, kau tetap saja menolak bermesraan dengan handai tauladan di kampung bahkan nenekmu sekalipun.

22 Juni – 1 Juli 2017

kurang lebih 9 hari kita di kampung. tidak banyak cerita yang kutuliskan kepadamu karena liburan kita hanya di rumah selain karena kau sama sekali menolak untuk digendong oleh sanak famili. hanya sekali aku membawamu ke bukit dengan rumah pada pagi dinihari untuk mengabadikan momen di kampung, selain itu, kau lebih banyak berdiam di rumah.

2 Juli 2017 16:00 WITA

kita kembali ke Ibu kota dengan Pesawat Sriwijaya. perjalanan kali ini sedikit lebih berat karena kita sudah terlalu penat bahkan di atas Pesawat, beberapa kali kau merengek bahkan susah didiamkan. mungkin tubuhmu sudah meminta untuk cepat sampai di rumah dan istirahat.

18:00 WIB

kita tiba di Bandara Soetta dengan selamat. Bandara dipenuhi oleh orang-orang yang baru tiba dari kampung masing-masing. setelah menunaikan shalat Maghrib, kita melanjutkan perjalanan ke rumah via taxi online. akhirnya kita sampai di rumah pada pukul 20:00 WIB.

Cerita Ramadhan 1438 H

Posted in UlangTahun

Yaumul Milad

rentang waktu dari tanggal 24 Juni ke 3 Juli.

Telat, iya bahkan sangat amat terlambat untuk sekedar menulis tentang setahun perjalananmu menjadi seorang anak dariku.

meski belum bisa memanggilku dengan sebutan Ayah, Bapak, Pace, Papa atau sebutan yang sepadan dengan orang tua laki-laki, namun dari tatapan wajahmu setiap melihatku, Aku yakin bahwa kau sudah mengerti bahwa Aku adalah perantara dari Tuhan yang menghadirkanmu ada di dunia ini.

Minggu lalu, sehari sebelum hari raya idul fitri 1438 H tepatnya tanggal 24 Juni 2017, kau menggenapi satu tahun perjalananmu sebagai manusia. belum banyak hal yang bisa kuceritakan kepadamu atas kebersamaan kita namun juga tidak sedikit momen yang membuatku bahagia bersamamu setahun terakhir. kau benar-benar menjelma menjadi malaikat kecil yang menggelorakan semangat hidupku yang terkadang fluktuatif.

Masih segar dalam ingatanku setahun lalu pada hari Jumat, beberapa jam sebelum kau keluar dari rahim Ibumu. saat itu Aku sedang berada di kantor BKI jakarta Utara dalam rangka tugas kantor. Nenekmu menelepon bahwa Ibumu sudah masuk rumah sakit sesaat setelah pulang jalan pagi dan ada flek darah keluar dari perut Ibumu.

Aku berprasangka baik bahwa sebentar lagi kau akan hadir menemani hari-hari kami. tanpa pikir panjang, Aku memesan tiket kereta dari Gambir ke Madiun. sesaat setelah pamit pulang cepat di kantor, Aku lantas ke Stasiun Gambir menunggu keberangkatan kereta. seingatku kereta Gajayana yang berangkat pukul 17:40 WIB.

Beberapa menit kereta meninggalkan stasiun Gambir, Nenekmu mengabariku bahwa kau sudah keluar dari perut Ibumu. sesuai perkiraan Dokter, kau berjenis kelamin laki-laki.

Aku sudah tidak bisa mengingat bagaimana ekspresi perasaanku saat mengetahui kau sudah lahir satu hal yang ada di benakku ingin secepatnya sampai di Madiun dan mengadzanimu.

Aku tiba di Stasiun Madiun Pukul 04:00 lebih beberapa menit. setelah menuntaskan sahur dengan hidangan nasi pecel di depan Stasiun Madiun, Aku bergegas ke rumah sakit Islam Siti Aisyah Madiun tempat dirimu dilahirkan.

Selangkah memasuki kamar inap, Aku memandangmu dengan kulit yang sudah dibersihkan, mengambil wudhu kemudian mengadzanimu.

Terkesan seperti drama namun begitulah cerita setahun yang lalu pada saat momen kelahiranmu. kemudian tanpa terasa, waktu membawamu ke masa sekarang menggenapi usiamu yang menginjak setahun.

Aku dan Ibumu lumayan terbantu dengan nenekmu yang ikut mengurusi segala tetek bengek tentangmu. meski Aku sendiri seringkali merasa bersalah akan keadaan seperti ini namun bagaimana lagi, kondisi seperti ini adalah kemauan nenekmu.

Selama di Jakarta, kita sudah dua kali pindah kontrakan. awal kedatanganmu di sini, kita mengontrak rumah di daerah Mampang, kemudian pindah ke daerah Cilandak karena pertimbangan kontrakan di Mampang terlalu sempit jika harus ditempati 4 anggota keluarga.

Awal pindah ke Cilandak menjadi cerita tersendiri. kau mengalami demam yang sangat tinggi setelah 2 minggu menempati rumah tersebut. bahkan kau harus dirawat di rumah sakit selama 3 hari. tidak tega rasanya melihatmu harus ditusuk jarum infus beberapa kali namun kami tidak punya alternatif lain ketika panas badan mencapai 40′ C.

Setelah momen tersebut, selanjutnya perkembanganmu sudah membaik. meski sampai sekarang badanmu memerah ketika suhu terlalu panas atau terlalu dingin namun menurutku hal tersebut masih normal.

Dan sekarang setahun telah berlalu. tidak banyak harapanku terhadapmu kecuali hal-hal baik. harapan tentang kesehatan, kebahagiaan dan keselamatanmu. menjadi anak yang baik apapun pilihan hidupmu yang merupakan opsional.

Aku ingin melihatmu tumbuh besar dengan sehat dan bahagia.

Oh iya, minggu lalu kita mudik ke kampungku dan merupakan pertama kalinya kau menghirup udara di kampungku namun cerita ini akan kuceritakan kepadamu di artikel tersendiri.

Yaumul  Milad Nak Damar Kahuripan Semesta,

Sehat dan bahagia selalu.

030717