Sedih

Nak, baru saja saya menanyakan kabarmu ke Nenekmu katanya kau sedang tidur pulas. Semoga kau senantiasa sehat selalu.

Saya mau cerita sesuatu nak. sekarang Saya sedang berada di Lampung dalam rangka dinas kantor. Kau mungkin sudah mengerti bahwa terkadang sebulan sekali, saya dinas keluar kota. Bulan ini saya ditugaskan di Lampung.

Hari ini dan juga hari pertama masuk kantor, begitu melelahkan nak ditambah lagi perasaan sentimental yang menghinggapi kalbuku. meruntuhkan semua idealisme yang mengendap di kepala. ini tentang pertentangan antara perasaan dan regulasi. lebih sulit lagi karena menyangkut seorang ibu yang membanting harga dirinya demi kebaikan anak-anaknya. siapa yang tidak luluh Nak.

Jadi begini cerita singkatnya Nak. ada salah seorang Marketing di kantor Lampung yang menggelapkan uang Perusahaan. setelah diketahui oleh Pihak Perusahaan, si Marketing tersebut dipaksa untuk mengembalikan semua dana Perusahaan. singkat cerita, dia sepertinya tidak punya itikad baik untuk mengembalikan uang Perusahaan sehingga pihak Perusahaan mengambil langkah hukum. pada akhirnya, Isteri si Marketing tersebut mengetahui masalah suaminya. sialnya lagi, Marketing minggat dari rumah dan Isterinya yang menjadi sasaran tembak.

uang yang digelapkan oleh si Marketing dalam jumlah besar sehingga untuk menebusnya, si Isteri menggadaikan semua yang dia punya mulai dari rumah dan barang berharga lainnya. karena masih tidak cukup untuk menutupi tanggungan suaminya, Perusahaan tetap berniat melaporkan ke Polisi. si Ibu bersikeras untuk tetap menyanggupi membayar utang suaminya yang penting suaminya tidak dilaporkan ke Polisi. hanya satu alasan si Ibu tidak mau jika Suaminya dipenjara karena si Ibu tidak mau anak-anaknya dicap sebagai anak yang Bapaknya mantan napi.

hari pertama Saya tugas di sini, si Ibu datang ke kantor memohon supaya diberi waktu beberapa hari untuk melunasi utang suaminya. sambil menangis, dia menceritakan semua masalah keluarganya karena ulah suaminya. pada dasarnya, dia sangat sayang kepada ketiga anaknya dan kasihan jika melihat anak-anaknya yang bapaknya pernah dipenjara.

ingatanku berlari ke tahun lalu nak. nenekmu yang sekarang setiap hari berada di sampingmu melakukan hal yang sama meski kasus yang tidak persis. dia kehilangan semua yang dimilikinya bahkan satu-satunya rumah harus melayang demi sayangnya kepada anaknya.

jadi begitulah nak. kau akan mendapati bagaimana cinta seorang Ibu kepada anaknya yang tidak bisa digambarkan dengan apa-apa. bahkan menjurus ke hal yang irrasional namun begitulah cinta.

16 Mei 17

Advertisements

Budaya

Damar lahir dari orang tua dengan suku yang berbeda. Ibunya berasal dari suku Jawa sedangkan Ayahnya berasal dari suku Bugis. banyak perbedaan budaya yang sering ditemui Damar dalam setiap interaksi antar kedua orang tuanya. mulai dari bahasa, intonasi suara bahkan sampai pada kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. namun begitu, Damar tidak pernah mempertanyakan setiap perbedaan tersebut.

Damar sering kaget ketika tiba-tiba Ayahnya bicara dengan nada tinggi. Damar menduga jikalau Ayahnya sedang marah namun pada kenyataannya, Ayahnya baik-baik saja hingga selanjutnya, Damar sudah menganggap hal tersebut lumrah. berbeda dengan Ibunya. meski dalam kondisi marah, nada suara Ibunya sama sekali tidak berubah. Damar hanya mengetahui dari mimik wajah Ibunya jika sedang marah.

Logat bahasa kedua orang tuanya pun berbeda. logat Ayahnya terdengar seperti layaknya orang dari timur. terdengar cepat dalam melafalkan kalimat sedangkan logat Ibunya yang khas Jawa lebih halus dan pelan. Damar seperti sedang berada di lingkungan keraton ketika mendengar logat Jawa yang halus dan pelan.

Ayahnya sering tergesa-gesa dalam setiap hal bahkan sering tidak sabaran sedangkan Ibunya lebih sedikit tenang.

Damar masih bingung, dia mewarisi budaya dari Ayah atau Ibunya? mungkin juga pertautan antara budaya Bugis-Jawa. meski pada dasarnya, Damar lebih familiar dengan budaya Jawa karena tetangganya mayoritas orang Jawa sedangkan dia belum pernah merasakan suasana lingkungan orang Bugis.

Dalam hatinya, Damar ingin mempelajari akar budaya kedua orang tuanya.

5 5 17

Children Learn What They Live

rita

Karya Dorothy Law Nolte
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.
Ayah tidak punya ide untuk menuliskanmu cerita hari ini Nak alhasil puisi yang sangat inspiratif jadi pelampiasan untuk mengingatkan diriku bagaimana seharusnya kau kudidik, eh etapi mendidikmu pada hakekatnya mendidik diri Ayah sendiri untuk lebih bertanggung jawab.
ada hikmah lain nak. kebetulan tadi di saat istirahat di kantor, Ayah sempat membaca cerpen Puthut ea “Bunga dari Ibu.”

“Ibuku marah pada sesuatu yang dulu menurutku aneh. Ia pernah marah ketika aku pulang sekolah dan memamerkan hasil tes bahwa aku mendapat nilai terbaik. Lalu, ibuku bertanya, berapa nilai teman-temanku? Aku menjawab dengan nada bangga kalau sebagian besar nilai temanku di bawah lima. Ibu langsung marah dan berkata, “Lain kali jangan pamerkan kehebatanmu jika temanmu tidak mendapatkan nilai yang sama baiknya denganmu!” Aku langsung mengadukan itu ke bapak dan bapak bilang, maksud ibuku lain kali menjadi tugasku untuk membuat teman-teman sekelasku bisa mengerjakan sepertiku atau bahkan memberi contekan. Tentu saja aku kaget.

Aku juga pernah dimarahi ibu ketika suatu saat kami berlibur dan jalan-jalan ke luar kota. Di sebuah trotoar, ada seorang pengemis dan ibu bilang. “Beri dengan uangmu.” Lalu, ibu melenggang pergi. Aku memeriksa sakuku dan tidak kutemukan uang receh, lalu aku menyusul ibu dan mengatakan bahwa aku tidak punya uang receh. Ia langsung menghentikan langkahnya dan bersuara marah, “Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?!” Dengan segera aku balik karena kesal dan memberikan semua uangku pada pengemis itu. Aku berharap nanti ibu akan bertanya dan marah padaku karena aku memberikan semua uangku. Dan aku ingin membalas marah padanya, “Lho katanya tidak boleh uang receh?!” Tapi sayang, ibu tidak pernah menanyakannya.” Puthut Ea, “Bunga dari Ibu”

Ayah terkesan pada puisi Dorothy dan cerpen Puthut. keduanya memberikan hikmah yang luar biasa sebagai salah satu pijakan dalam mendidik anak meski Ayah juga sendiri tidak sepenuhnya menerapkan hal seperti itu kepadamu karena Ayah yakin, semua anak, semua kondisi dan setiap hal punya keunikan masing-masing.

21 4 17

Ibu Liburan

Damar masih saja melongo tanpa mengerti sesaat setelah ibunya pamit dengan barang bawaan yang sepertinya akan bepergian jauh.

“Saya pergi dulu ya nak” ucap ibunya sambil melancarkan ciuman bertubi-tubi di setiap sisi wajah Damar.

tidak ada nada protes dari mulut Damar. dia sudah mulai kebal atas perasaan sentimental setiap kali ditinggal oleh ibu maupun bapaknya. toh Damar sudah mulai betah hanya berdua dengan neneknya di rumah. bagi Damar, yang penting bukan neneknya yang jauh dari sisinya.

Damar suatu waktu pernah mendengar Bapaknya bercerita bahwa sewaktu kecil, bapaknya tidak bisa jauh dari ibunya. pernah suatu waktu ketika ibu Bapaknya-nenek Damar dari garis keturunan Bapak- melahirkan anak bungsu dan harus dirujuk ke kota, bapak Damar mengamuk dan membuat semua isi rumah merajuk untuk diikutkan, alhasil salah seorang pamannya mengajaknya untuk menyusul ibunya yang sedang melahirkan di kota.

Damar tidak memungkiri bahwa dia pun sangat sayang kepada ibunya namun bukan berarti dia harus protes atas setiap aktivitas yang dilakoni ibunya, toh Damar sudah mulai sedikit mengerti bahwa setiap hal yang dijalani ibunya hanya untuk dirinya, untuk setiap kebutuhan hidupnya.

Damar ingin suatu waktu, dia punya banyak waktu senggang bersama kedua orang tuanya, bepergian kemana saja yang mereka suka dan menikmati belaian tangan orang tuanya.

20 4 17

#7

Tentang Ibumu, ikan asin dan kemampuan memasak

Sore mulai gelap dihampiri malam dan syair shalawat di mesjid terdengar merdu sesaat ketika sepeda motorku memasuki gang. Tepat di depan rumah, kumatikan mesin motor lalu bergegas memarkirnya di teras rumah, sejurus kemudian, pintu terbuka lebar oleh Ibumu yang sedari tadi menungguku dari kantor.

“Kak, mau digorengin telur atau tahu?”

“Ikan asin saja, masih ada kan?”

“Masih kok, yasudah”

Beberapa menit kemudian, aroma ikan asin menyebar di seluruh ruangan. Aku menikmatinya sambil membayangkan nikmatnya makan dengan lauk ikan asin bagian atasnya diperciki jeruk nipis kemudian disantap dengan sambel cobekan. Ah ingatanku kembali ke beberapa tahu lalu ketika hidangan seperti itu menjadi makanan istimewa yang disajikan ibuku dan disantap bersama keluargaku yang berjumlah 8 orang.

“Kak, ikannya sudah digoreng. Nanti nasinya diambil sendiri dari ricecooker ya”

“Oke, nanti saja aku makan. Masih kenyang”

Ibumu menyadari bahwa dia tidak pandai memasak namun sejak menikah denganku, dia selalu berusaha memasak apa yang yang menjadi makanan kesukaanku.

30 03 17

Cerita Awal Tahun

Tahun 2017.

seharusnya saya lebih giat lagi menulis tentang Damar. meninggalkan jejak dalam tulisan serupa menjaga ingatan akan hal-hal kecil yang terlewati. otak kita tidak serupa memori yang bisa merekam dengan abadi setiap apa yang didengar. perlu jejak tinta dalam membantu otak menjaga kenangan.

saya panggil saja namamu, Damar.

sebulan ini, Damar ditemani Ibuku di rumah yang datang membesuknya. maklumlah, sejak Damar nongol di dunia enam bulan yang lalu, belum ada keluargaku yang menengoknya karena perkara jarak yang terlampau jauh. Alhasil, Ibuku memaksakan diri datang meski dengan perjuangan yang berat karena tidak terbiasa bepergian dengan kendaraan. ya, Ibuku mabok perjalanan.

sebulan terakhir, rumah lumayan ramai karena ada juga kakakku yang datang menemani Ibuku. Damar nampaknya menikmati keramaian di rumah. dia tidak henti-hentinya melepas tawa setiap kali kakakku menggodanya.

Damar semakin bugar, sehat dan sedang lucu-lucunya.

hanya saja, pasca dirawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu karena demam tinggi akibat infeksi, kulitnya kemungkinan alergi. setiap dirinya terpapar angin maka tidak lama kemudian, akan muncul benjolan merah di sekujur tubuhnya yang terkena angin. namun biasanya, tidak lama setelah diolesi salep, benjolan merah tersebut akan hilang tak berbekas.

dua hari ini, ada benjolan yang nampaknya seperti “bundang” di bagian lehernya. benjolan yang di dalamnya terdapat nanah. saya sering mengalami hal yang sama saat masih bocah. mungkin karena “bundang” tersebut, Damar agak rewel dua hari terakhir. berbagai jurus dilakukan mbahnya untuk menenangkannya namun seringkali gagal. Damar tetap melanjutkan tangisannya.

saat seperti itu, Ibunya pasti ikut-ikutan sedih. alih-alih berusaha menenangkan Damar, dia malah sibuk menyeka tetasan air mata berhamburan dari sudut matanya.

tetap sehat nak. doa kami selalu menyertaimu.

7 1 17

Ibumu

Ibu masih selalu saja menanyakan kapan saya pulang? setiap kali Isteriku sudah tiba di rumah, Ibu tidak henti-hentinya menanyakan jam berapa saya pulang kantor.

kemarin, Isteriku menyarankan supaya saya tidak perlu berlama-lama di kantor jika tidak ada pekerjaan karena dia selalu bingung menjawab apa saat ditanya kapan saya pulang kantor.

Nak, seorang Ibu akan selamanya menjadi Ibu untuk anak-anak mereka, tidak perduli apakah anak mereka sudah berkeluarga atau belum. bahkan mungkin sampai anak-anaknya sudah berumur, Ibu tidak akan pernah lupa menanyakan remeh temeh. apakah sudah makan? apakah sudah mandi? atau bahkan hanya sekedar menyuruh untuk cuci kaki lalu kemudian tidur siang.

beberapa waktu lalu, Ibu bercerita kepada seorang temanku yang juga merantau di kota ini. samar-samar kudengar Ibu berkata kepada temanku bahwa kekhawatiran paling besar di saat saya pertama kalinya berangkat ke kota ini dan entah siapa yang akan kutuju. meski beberapa hari sebelum memutuskan merantau, saya sudah memberitahu Ibu bahwa untuk beberapa saat, saya akan menumpang di kos teman. naluriah seorang Ibu yang selalu merasa khawatir di saat anaknya pergi jauh.

Nak, sulit rasanya untuk menuliskan perasaan seorang Ibu mereka punya hati yang tak terbatas untuk setiap anak-anaknya.

Ibumu pun demikian halnya nak. dulu sebelum menikah, Ibumu tidak terlalu suka dekat sama bocah. entah apa alasannya karena jika ditanya, katanya tidak suka aja sama anak kecil. namun semenjak kehadiranmu yang lahir dari rahimnya, Ibumu tidak bisa lepas dari dirimu. dia akan melakukan apa saja untukmu.

semua hal yang kau butuh ada pada Ibumu.

28 12 16