Posted in Keluarga, Waktu

Tumbuh

bulan Juni sudah seminggu berlalu namun belum satupun cerita yang kutinggalkan di lapakmu ini nak. entah karena alasan malas, tidak ada kisah menarik atau apalah. padahal saya sudah berjanji untuk bercerita kepadamu tentang apa saja bahkan untuk hal-hal yang kecil.

oh iya, beberapa hari terakhir, saya mengamati perkembanganmu  nak. kau sudah mulai mengerti ketika seseorang akan berpergian dan kau secara otomatis melambaikan tanganmu, da da. pun demikian ketika saya mendekatkan pipiku ke mukamu kemudian minta dicium, responmu langsung mengarahkan bibirmu ke pipiku. satu hal lagi, kau sudah bisa duduk sendiri meskipun masih terlihat malas-masalan.

hal di atas sudah begitu membahagiakanku nak. kau tumbuh sehat tanpa kurang satupun. kau bermain sepuasmu dan  menikmati harimu.

di Ramadhan kali ini, begitu berbahagia menyadari bahwa saya sudah punya kau di hidupku. berkah yang seringkali kuabaikan. di setiap sahur, kau selalu ikut terbangun sambil teriak-teriak menambah kesyahduan sahur. ada suara mungilmu yang membuatku semangat menjalani hari, suara yang suatu saat akan menjadi kenangan ketika kau sudah mulai tumbuh besar.

oh iya nak. rencana lebaran kali ini kita akan pulang ke kampungku. ini pertama kalinya kau menginjakkan kakimu di tanah kelahiranku. saya bahagia melihat hidupmu yang penuh keberagaman. kau lahir di kampung ibumu kemudian bertumbuh di ibu kota namun kau punya darah dari pulau seberang tempat kelahiranku. banyak cerita yang akan mengisi hidupmu dan semoga saja kenyataan ini membuatmu menjadi orang yang mampu mengerti orang lain yang berbeda denganmu.

3 6 17

 

Posted in Keluarga

11 Bulan

Banyak orang yang menyesali setiap detik yang terlewat dalam hidupnya, Remaja menyesali masa kecilnya, orang tua menyesali masa mudanya bahkan para pensiunan yang seharusnya sudah menikmati masa tua sambil membunuh waktu menunggu ajal, masih saja mengenang masanya yang sudah hilang.

begitulah Nak waktu sebagaimana masanya. dirindukan pada saat sudah hilang namun disia-siakan ketika masih dalam genggaman. tidak semua orang seperti itu namun mayoritas manusia melakukan kesalahan yang sama.

begitupun adanya dirimu di dunia. tidak sadar bahwa tepat sebelas bulan yang lalu, kau hadir dan waktu melesat begitu cepat sampai pada umurmu yang sebulan lagi menginjak 1 tahun.

apa yang kuharapkan darimu? rasa-rasanya tidak ada nak. hanya selalu berdoa untukmu supaya tetap sehat lahir maupun batin.

semakin hari, kau semakin lincah merangkak. menggapai apa saja yang ada di depanmu. setiap kali kamarku tertutup, kau menghampiri dan mengetuknya seakan kau sudah menyadari bahwa saya ada di dalam.

luar biasa merenungkan kembali keberadaanmu meski saya sadari bahwa Ibumu yang berperan banyak dalam pertumbuhanmu.

Mungkin hanya satu hal yang saya sesali selama ini. kau tidak tidur bersamaku di setiap malam namun kau tidak bersama Ibu dan Nenekmu. saya tidak pernah merasakan degup jantungmu di malam hari dan  hal yang saya takuti adalah ikatan emosi kita yang longgar, semoga saja tidak.

26 5 17

Posted in Ibu, Keluarga, Renungan

Sedih

Nak, baru saja saya menanyakan kabarmu ke Nenekmu katanya kau sedang tidur pulas. Semoga kau senantiasa sehat selalu.

Saya mau cerita sesuatu nak. sekarang Saya sedang berada di Lampung dalam rangka dinas kantor. Kau mungkin sudah mengerti bahwa terkadang sebulan sekali, saya dinas keluar kota. Bulan ini saya ditugaskan di Lampung.

Hari ini dan juga hari pertama masuk kantor, begitu melelahkan nak ditambah lagi perasaan sentimental yang menghinggapi kalbuku. meruntuhkan semua idealisme yang mengendap di kepala. ini tentang pertentangan antara perasaan dan regulasi. lebih sulit lagi karena menyangkut seorang ibu yang membanting harga dirinya demi kebaikan anak-anaknya. siapa yang tidak luluh Nak.

Jadi begini cerita singkatnya Nak. ada salah seorang Marketing di kantor Lampung yang menggelapkan uang Perusahaan. setelah diketahui oleh Pihak Perusahaan, si Marketing tersebut dipaksa untuk mengembalikan semua dana Perusahaan. singkat cerita, dia sepertinya tidak punya itikad baik untuk mengembalikan uang Perusahaan sehingga pihak Perusahaan mengambil langkah hukum. pada akhirnya, Isteri si Marketing tersebut mengetahui masalah suaminya. sialnya lagi, Marketing minggat dari rumah dan Isterinya yang menjadi sasaran tembak.

uang yang digelapkan oleh si Marketing dalam jumlah besar sehingga untuk menebusnya, si Isteri menggadaikan semua yang dia punya mulai dari rumah dan barang berharga lainnya. karena masih tidak cukup untuk menutupi tanggungan suaminya, Perusahaan tetap berniat melaporkan ke Polisi. si Ibu bersikeras untuk tetap menyanggupi membayar utang suaminya yang penting suaminya tidak dilaporkan ke Polisi. hanya satu alasan si Ibu tidak mau jika Suaminya dipenjara karena si Ibu tidak mau anak-anaknya dicap sebagai anak yang Bapaknya mantan napi.

hari pertama Saya tugas di sini, si Ibu datang ke kantor memohon supaya diberi waktu beberapa hari untuk melunasi utang suaminya. sambil menangis, dia menceritakan semua masalah keluarganya karena ulah suaminya. pada dasarnya, dia sangat sayang kepada ketiga anaknya dan kasihan jika melihat anak-anaknya yang bapaknya pernah dipenjara.

ingatanku berlari ke tahun lalu nak. nenekmu yang sekarang setiap hari berada di sampingmu melakukan hal yang sama meski kasus yang tidak persis. dia kehilangan semua yang dimilikinya bahkan satu-satunya rumah harus melayang demi sayangnya kepada anaknya.

jadi begitulah nak. kau akan mendapati bagaimana cinta seorang Ibu kepada anaknya yang tidak bisa digambarkan dengan apa-apa. bahkan menjurus ke hal yang irrasional namun begitulah cinta.

16 Mei 17

Posted in Keluarga, Renungan

Taman

Damar menghabiskan weekend di Taman Suropati bersama kedua orang tuanya. Dia menyenangi air mancur dan aneka ragam manusia yang memenuhi taman tersebut sambil bercengketama dengan keluarga.

Pagi itu, Damar menikmati pemandangan tiga bocah cilik yang sedang asik memainkan gelembung busa. Salah satu anak yang ikut nimbrung berambut pirang dan kulit putih. Damar menerka bahwa anak tersebut dari daratan Eropa.

Selang beberapa saat, salah seorang Ibu yang berjilbab besar mendatangi ketiga anak yang sedang bersenda gurau dengan balon dari busa. Ternyata dia adalah ibu dari salah satu anak yang sedang bermain balon, anak si ibu itu empunya balon busa. Alhasil ketiga akan beranjak pergi sedangkan anak bule masih ingin bermain busa balon, ibu dari si bocah pirang yang mengamati dari jauh beranjak ke arah anaknya dan mengambil mainan yang masih dipegang anaknya dan hendak diserahkan ke empunya.

Ibu dari anak yang punya mainan tersebut menolak dan dengan bahasa isyarat memberikan mainan tersebut ke anak bule. tidak ada yang istimewa sebenarnya namun tetap saja Damar merasa bahagia melihat pemandangan seperti itu. Ibu yang berjilbab besar bisa menunjukkan sikap yang sangat bersahabat terhadap turis.

Damar berpikir sebenarnya tidak ada yang aneh dengan pemandangan yang sedang tersaji di depannya namun isu global yang selama mendiskreditkan orang Islam membuatnya merasa bahagia melihat seorang Ibu yang berjilbab besar dan notabene mencirikan seorang muslimah, menunjukkan sikap islami terhadap turis yang mungkin saja sudah terkontaminasi dengan isu pendiskreditan Islam

10 5 17

Posted in Ibu, Keluarga, Renungan

Budaya

Damar lahir dari orang tua dengan suku yang berbeda. Ibunya berasal dari suku Jawa sedangkan Ayahnya berasal dari suku Bugis. banyak perbedaan budaya yang sering ditemui Damar dalam setiap interaksi antar kedua orang tuanya. mulai dari bahasa, intonasi suara bahkan sampai pada kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. namun begitu, Damar tidak pernah mempertanyakan setiap perbedaan tersebut.

Damar sering kaget ketika tiba-tiba Ayahnya bicara dengan nada tinggi. Damar menduga jikalau Ayahnya sedang marah namun pada kenyataannya, Ayahnya baik-baik saja hingga selanjutnya, Damar sudah menganggap hal tersebut lumrah. berbeda dengan Ibunya. meski dalam kondisi marah, nada suara Ibunya sama sekali tidak berubah. Damar hanya mengetahui dari mimik wajah Ibunya jika sedang marah.

Logat bahasa kedua orang tuanya pun berbeda. logat Ayahnya terdengar seperti layaknya orang dari timur. terdengar cepat dalam melafalkan kalimat sedangkan logat Ibunya yang khas Jawa lebih halus dan pelan. Damar seperti sedang berada di lingkungan keraton ketika mendengar logat Jawa yang halus dan pelan.

Ayahnya sering tergesa-gesa dalam setiap hal bahkan sering tidak sabaran sedangkan Ibunya lebih sedikit tenang.

Damar masih bingung, dia mewarisi budaya dari Ayah atau Ibunya? mungkin juga pertautan antara budaya Bugis-Jawa. meski pada dasarnya, Damar lebih familiar dengan budaya Jawa karena tetangganya mayoritas orang Jawa sedangkan dia belum pernah merasakan suasana lingkungan orang Bugis.

Dalam hatinya, Damar ingin mempelajari akar budaya kedua orang tuanya.

5 5 17

Posted in Keluarga

Momen

ada momen yang tidak bisa saya lupakan sebagai Ayah muda. ketika berangkat kerja dan kau sudah duduk di beranda rumah sambil menatap tajam ke arah saya sampai motorku berangkat dan tetap matamu mengikuti arah motorku sampai hilang pandang di pertigaan.

sesaat memasuki rumah di setiap sore, kau duduk di ruang tengah dan memandangku dengan penuh tanya, mungkin kau ingin bertanya saya kerja apa sampai harus pulang menjelang maghrib. tatapanmu mulai melunak ketika kupeluk dirimu dan kucium pipimu.

setiap kali saya shalat di kamar, kau merangkak masuk dan tengkurang di depanku. menatap setiap gerakanku dalam seribu tanya. saya sedang apa? kau mulai menyunggingkan senyum ketika saya selesai salam dan melempar senyum kepadamu.

Boy, masih banyak momen yang membuatku bahagia menatap tingkah lucumu.

3 5 17

 

Posted in #14harimenulis, Ibu, Keluarga

Children Learn What They Live

rita

Karya Dorothy Law Nolte
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.
Ayah tidak punya ide untuk menuliskanmu cerita hari ini Nak alhasil puisi yang sangat inspiratif jadi pelampiasan untuk mengingatkan diriku bagaimana seharusnya kau kudidik, eh etapi mendidikmu pada hakekatnya mendidik diri Ayah sendiri untuk lebih bertanggung jawab.
ada hikmah lain nak. kebetulan tadi di saat istirahat di kantor, Ayah sempat membaca cerpen Puthut ea “Bunga dari Ibu.”

“Ibuku marah pada sesuatu yang dulu menurutku aneh. Ia pernah marah ketika aku pulang sekolah dan memamerkan hasil tes bahwa aku mendapat nilai terbaik. Lalu, ibuku bertanya, berapa nilai teman-temanku? Aku menjawab dengan nada bangga kalau sebagian besar nilai temanku di bawah lima. Ibu langsung marah dan berkata, “Lain kali jangan pamerkan kehebatanmu jika temanmu tidak mendapatkan nilai yang sama baiknya denganmu!” Aku langsung mengadukan itu ke bapak dan bapak bilang, maksud ibuku lain kali menjadi tugasku untuk membuat teman-teman sekelasku bisa mengerjakan sepertiku atau bahkan memberi contekan. Tentu saja aku kaget.

Aku juga pernah dimarahi ibu ketika suatu saat kami berlibur dan jalan-jalan ke luar kota. Di sebuah trotoar, ada seorang pengemis dan ibu bilang. “Beri dengan uangmu.” Lalu, ibu melenggang pergi. Aku memeriksa sakuku dan tidak kutemukan uang receh, lalu aku menyusul ibu dan mengatakan bahwa aku tidak punya uang receh. Ia langsung menghentikan langkahnya dan bersuara marah, “Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?!” Dengan segera aku balik karena kesal dan memberikan semua uangku pada pengemis itu. Aku berharap nanti ibu akan bertanya dan marah padaku karena aku memberikan semua uangku. Dan aku ingin membalas marah padanya, “Lho katanya tidak boleh uang receh?!” Tapi sayang, ibu tidak pernah menanyakannya.” Puthut Ea, “Bunga dari Ibu”

Ayah terkesan pada puisi Dorothy dan cerpen Puthut. keduanya memberikan hikmah yang luar biasa sebagai salah satu pijakan dalam mendidik anak meski Ayah juga sendiri tidak sepenuhnya menerapkan hal seperti itu kepadamu karena Ayah yakin, semua anak, semua kondisi dan setiap hal punya keunikan masing-masing.

21 4 17