Posted in Uncategorized

Cerita tertinggal

lama tidak bercerita tentang kenanganmu yang akan kau renungi suatu saat. hal-hal mengenai fase perkembangan dirimu yang sampai saat ini membuatku kagum. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak jelas juntrungannya sehingga melupakan cerita untukmu.

oh iya. sebulan terakhir, ibumu dinas di Ciloto sehingga praktis hanya bertemu dirimu di setiap weekend. sebenarnya sih tidak ada soal bagimu karena kau terlanjur sudah sangat dekat dengan nenekmu namun terkadang iba melihat nenekmu yang kerepotan menjagamu. apatahlagi kau sudah sangat aktif bergerak ke mana saja sesuka hatimu.

Nak, beberapa waktu yang lalu, Saya meyakinkan diriku untuk tidak membandingkan semua aspek pada dirimu dengan orang lain. Saya selalu percaya bahwa kau akan tumbuh dengan kataktermu sendiri. Hingga sampai pada hari ini, kau sudah mengalami begitu banyak perkembangan yang sangat pesat. Gigimu sudah tumbuh enam, dua di bagian bawah dan empat di bagian atas. Kau sudah mampu berdiri sekitar satu menit meski belum bisa melangkah namun kurasa itu sudah sangat lumayan sampai pada saat ini.

Diantara semua kelucuanmu, Saya hanya tidak bersepakat dengan kebiasaanmu menggigit meski menurut orang pada umumnya bahwa anak seusiamu akan tumbuh gigi ketika suka menggigit apa saja. Selain kebiasaan menggigit, kebiasaan melempat dot susumu sesaat setelah minum adalah kebiasaan yang masuk dalam daftar yang akan kuajarimu untul dikurangi.

Oh iya, terlepas dari semua itu, senyum dan segala polahmu membuatku merasa sangat bahagia menjadi seorang ayah dari dirimu yang sedang bertumbuh.

14 8 17

Posted in Uncategorized

Cerita Tengah Malam

Ada banyak hal yang mesti direnungi kembali nak, mengingat kembali janji yang pernah diikrarkan, mentafakkuri semua komitmen yang dibuat untuk kemudian menyusun langkah ke depan bukan malah ancang-ancang untuk berlari mundur karena sejatinya, kita sudah berada dalam arena permainan.

Nak, senin kemarin, rumah kita seperti sebuah turning point dimana saat yang bersamaan, saya, kau dan ibumu bergerak ke koordinat yang berbeda. Ironis memang nak namun sampai saat ini, saya belum bisa memutuskan apa yang sebenarnya harus dituju. Kita seperti ayam yang kehilangan induk.

Saya berada di kota lain begitupun kau dan miris mendengar kabarmu semalam bahwa kau tidak bisa memejamkan mata dari jam 11 malam sampai jam 3 dinihari alhasil yang repot adalah nenekmu.

Sebenarnya ada rasa bersalah yang menghinggapi ruang kecil di nuraniku karena harus memasrahkan pengasuhanmu di bawah kendali nenekmu namun apa jua, saya benar-benar belum menemukan jalan yang tepat supaya bisa bersamamu tiap saat.

Memang semula inisiatif pribadi dari nenekmu ingin menjagamu sedari kau belum hadir bahkan jauh sebelum saya memilih ibumu namun hal tersebut bukan pula menjadi pembenaran untuk semua hal yang telah kau jalani.

Mungkin jika ibumu membaca tulisan ini, dia akan berteriak sekeras tenaganya bahwa apa yang kuceritakan padamu hanyalah bulshit karena toh saat saya  di rumah bersamamu, tidak banyak waktu yang kuhabiskan membelaimu bahkan ibumu menghakimiku bahwa saya sering menarik kakimu jika sedang menjagamu.

Saya mau jujur banyak hal padamu atas ketidaksepakatanku terhadap apa yang sudah menjadi kelaziman di rumah kita. Mungkin belum saatnya tetapi tidak apalah untuk beberapa potongan cerita.

Kita bahkan tidak pernah tidur bersama setiap malam nak karena kau tidur bertiga dengan nenek dan ibumu. Saya kurang sepakat jika kau terlalu sering dilarang untuk banyak hal apatahlagi di masa pertumbuhanmu. Untuk setiap detail pendidikan dini yang harus kau terima bahkan saya merasa teoriku tentangmu sudah membusuk karena akses relasiku terhadapmu sepertinya terbatas.

Pada beberapa kondisi yang tidak kondusif dan suasana hati yang berontak, saya berpikir untuk membuka usaha yang tidak mengekangku sehingga bisa bersamamu tiap saat namun buah pikiranku masih mandek.

“My son my rules” adalah salah satu prinsip yang dianut temanku tetapi nampaknya mustahil untuk kuterapkan padamu pada kondisi seperti saat ini.

Tumbuhlah nak. Maaf ayah sama sekali belum maksimal menemanimu.

Cirebon 18 7 17

Posted in Uncategorized

Mudik

Cerita mudik kali ini tentang kita, kau, aku dan Ibumu.

Nak, kau sudah merasakan bagaimana euforia di setiap momen menjelang Idul fitri, nikmatnya perjalanan mudik dengan kepadatan kendaraan di jalanan. meski kau belum mampu mengungkapkannya, namun aku yakin kau sudah mampu merasakan sensasinya.

22 Juni 2017. 02:30 WIB

aku, kau dan Ibumu sudah bangun dengan segala persiapan hendak ke Bandara mengejar Pesawat keberangkatan jam 5 pagi. dengan menumpang taxi online yang membawa kita melaju membelah kota ini. kau menikmati subuh dini hari dalam pelukanku.

03:00 WIB

mobil yang membawa kita ke Bandara sudah tiba di terminal 2F. aku dan ibumu berniat untuk tidak langsung masuk di ruang chek in namun melihat antrian penumpang yang membludak, niat kami urungkan dan segera mengantri. Benar saja, kita butuh waktu hampir sejam antri chek in.

04:00 WIB

kita sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. matamu tak kunjung sayu memaksa aku dan ibumu harus menyisakan waktu dan tenaga mengajakmu bermain. ruang tunggu dipenuhi oleh pemudik sama seperti kita, pun beberapa anak kecil yang seusiamu bahkan beberapa yang masih bayi.

05:00 WIB

kita sudah duduk manis di atas Pesawat. Ibumu berada di dekat jendela sedangkan aku di kursi tengah. kau sudah mulai lelah dan perkiraanku, sebentar lagi matamu tidak sanggup terbuka. beberapa menit setelah Pesawat lepas landas, akhirnya kau menyerah dengan kantuk. kau tertidur di pelukanku dan selama 2 jam perjalanan, kau tidak terbangun.

08:35 WITA

Akhirnya kau menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah Sulawesi, tanah leluhurku. kita sudah ditunggu oleh pamanmu di kedatangan bandara Hasanuddin. atas pertimbangan waktu, kita tidak mampir di kota Makassar. perjalanan dilanjutkan ke kampung halaman.

terik Matahari di pulau Sulawesi seakan menjadi sambutan hangat. dalam perjalanan ke kampung, kau masih sempat bermain di mobil.

12:00 WITA

kita mampir di daerah Bojo dekat kota Pare-pare. sekedar melepas penat dan Ibumu makan siang. rest area tersebut sudah dipadati oleh para pemudik yang sebagian besar berasal dari kota Makassar. Matahari tidak kunjung menyurutkan sinarnya.

15:00 WITA

kita berada di kota Pare-pare dan memutuskan untuk mampir di toko Sejahtera membeli perlengkapanmu selama di kampung sekaligus membeli oleh-oleh untuk handai tauladan. toko ini termasuk salah satu toko yang populer di kota Pare-Pare semenjak dulu dan sampai sekarang masih ramai dikunjungi oleh Masyarakat sekitar.

Perjalanan kita lanjutkan. jika pada umumnya pulang kampung melewati Sidrap, namun kali ini kita lewat kota Pinrang dengan pertimbangan bahwa jalur tersebut tidak terlalu macet.

kau, aku dan ibumu sudah terkuras banyak tenaga sehingga semua pulas di mobil. tak terasa saat bangun, mobil sudah hampir memasuki kota Enrekang. meski jarak dari kota Enrekang ke kampung masih sekitar 2 jam namun setidaknya, ada perasaan senang ketika sudah berada di tanah Massenrenpulu.

18:00 WITA

mobil sudah memasuki daerah Cakke saat adzan Maghrib berkumandang. Aku dan pamanmu buka di atas mobil dengan menu buah anggur. perjalanan ke rumah masih sekitar setengah jam lagi.

18:40 WITA

Akhirnya kita tiba di rumah. sesaat setelah turun dari mobil, Kakekmu menyambut dan hendak menggendongmu namun kau menolak bahkan menangis sekeras-kerasnya. kau tidak mau digendong oleh orang lain selain aku dan ibumu. aku berpikir bahwa mungkin sehari sampai dua hari di kampung, kau akan lebih bersahabat namun ternyata tidak, kau tetap saja menolak bermesraan dengan handai tauladan di kampung bahkan nenekmu sekalipun.

22 Juni – 1 Juli 2017

kurang lebih 9 hari kita di kampung. tidak banyak cerita yang kutuliskan kepadamu karena liburan kita hanya di rumah selain karena kau sama sekali menolak untuk digendong oleh sanak famili. hanya sekali aku membawamu ke bukit dengan rumah pada pagi dinihari untuk mengabadikan momen di kampung, selain itu, kau lebih banyak berdiam di rumah.

2 Juli 2017 16:00 WITA

kita kembali ke Ibu kota dengan Pesawat Sriwijaya. perjalanan kali ini sedikit lebih berat karena kita sudah terlalu penat bahkan di atas Pesawat, beberapa kali kau merengek bahkan susah didiamkan. mungkin tubuhmu sudah meminta untuk cepat sampai di rumah dan istirahat.

18:00 WIB

kita tiba di Bandara Soetta dengan selamat. Bandara dipenuhi oleh orang-orang yang baru tiba dari kampung masing-masing. setelah menunaikan shalat Maghrib, kita melanjutkan perjalanan ke rumah via taxi online. akhirnya kita sampai di rumah pada pukul 20:00 WIB.

Cerita Ramadhan 1438 H

Posted in Uncategorized

Kangen

Apa kabarmu nak? Sudah 4 hari ini kita tidak bertatap mata. Saya sedang di Yogyakarta dalam menunaikan tugas kantor.

Sahur di sini sepi nak. Makanan di anyar pegawai hotel ke kamar kemudian makan sendiri. Saya merindukan sahur di rumah sambil melihat polahmu yang lucu. Saya kangen saat Saya sudah bangun, kau pun ikut bangun dan seakan niat ikut sahur karena paling sibuk merangkak kemana-mana.

Tetapi tenang saja nak. Sebentar malam Saya rencana pulang. Menemanimu bermain dan mencandaimu setiap kau baru bangun.

Sekarang kau sudah amat fasih membuka pintu kamar. Kau hapal jikalau pintu kamar ditutup, Saya sedang di dalam kamar entah itu hanya berbaring, membaca atau aktivitas apapun yang saya tidak ingin diganggu namun bagimu bodo amat, kau merangkak masuk kamar dan mendatanganiku sambil bergelayut manja.

Nak, Saya ingin berbagi tentang kota ini. Lebih tenang dari ibu kota yanh sedang kita diami. Saya terkadang berpikir alangkah bahagianya jikalau kita menetap di kota ini namun Saya buru-buru menepis pikiran semacam itu nak. Bukankah ketenangan hidup tidak terletak di lingkungan sekitar tetapi ketenangan itu bersumber dari hati. Ya hati dan pikiran nak. Belajarlah mengenali keduanya dan mengajak berdamai dengan hidup.

Yogya 9 6 17

Posted in Uncategorized

Diri Sendiri

Sepupumu yang lebih muda sebulan usianya dari dirimu sudah bisa duduk sendiri sementara kau masih tetap merangkak namun Ayah tidak pernah merasa harus menyemangatimu untuk bisa duduk bahkan jalan karena sudah beberapa kali Ayah berjanji tidak akan membandingkan kau dengan orang lain. Ayah ingin kau tumbuh sebagaimana dirimu. Kalaupun toh memang belum waktunya untuk tumbuh ke tahap berikutnya maka tetaplah menikmati masamu sepanjang masih dalam batas normal.

Ayah mulai belajar untuk tidak menuntutmu apa-apa mulai dari hal terkecil jadi tidak perlu kau berkecil hati nak.

Saya tidak ingin mengulang masa yang Ayah lalui. Semua dinilai dari pandangan orang lain bahkan setiap hal diukur sebagai kompetisi. Pendidikan di sekolah formal sedikitnya telah meracuni akal sehat. Ayah dulu belajar hanya demi mengejar peringkat dan mengungguli teman-teman demi tujuan supaya dianggap pintar. Rasanya Ayah tidak pernah belajar supaya mengetahui apa yang tidak diketahui. Kita adalah produk tatanan yang tidak berjalan baik nak.

Maka dari itu, Ayah ingin melihatmu tumbuh seperti apa dirimu. Ketika sekolah, yang harus kau pikir adalah belajar tentang hal yang belum kau ketahui. Buang jauh-jauh atas tendensi menginginkan ranking. Ingat nak, sekolah bukan arena kompetisi.

Hidup yang dijalani atas dasar ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain adalah hidup yang didak layak dijalani.

6 5 17

Posted in #14harimenulis, Keluarga, Uncategorized

Nenek

Damar memperhatikan dengan seksama Ibunya yang baru saja pulang kantor di hari yang sudah gelap. Dia selalu menyimpan tanya atas rutinitas Ibunya yang harus berangkat pagi dan pulang selarut ini namun tak pernah sekalipun Damar memberanikan diri menanyakan hal tersebut secara langsung ke Ibunya. Dia tidak tega melukai perasaan Ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membeli kebutuhannya. Popok, susu, bubur dan semua kebutuhan hidupnya yang berasal dari keringat Ibunya. Damar hanya bisa menangis ketika haus atau mengantuk dan sesekali tertawa ketika ingin menghibur Ibunya yang keletihan.

Saiki ora iso disambi, dedek e wes kuat guling-guling. Bantal e ditendang.” 

Samar-samar Damar mendengar neneknya bercerita kepada Ibunya. Polahnya yang semakin aktif dan tenaganya yang sudah mulai kuat membuat Damar tidak betah jika hanya berbaring.

Nek shalat dijamak wae lah. Areke ora kenek ditinggal.”

Damar sedih mendengar Neneknya kelelahan menjaganya setiap hari namun nalurinya pun tidak bisa dilawan. Damar akan selalu berusaha tumbuh secara alamiah dan melakukan hal-hal yang lazimnya seorang bayi. Meski demikian, Dia terkadang iba melihat neneknya yang harus menguras tenaga merawatnya mulai dari memandikannya, menyuapinya,menggendong ketika rewel sampai menidurkannya.

Hal itu pula yang menumbuhkan keterikatan perasaan dalam jiwanya. Damar dengan spontan menangis ketika bangun tidur dan tidak melihat neneknya di sampingnya bahkan Damar sama sekali tidak mau tidur jika bukan neneknya yang menidurkannya.

Melihat perjuangan neneknya, diam-diam dalam hatinya, Damar berjanji suatu saat akan membahagiakan neneknya. Dia akan melakukan hal-hal baik yang membuat neneknya bangga kepadanya.

4 4 17

Posted in Uncategorized

“Katanya”

Nak, tanggal tiap tanggal 22 desember dikenal sebagai momen hari Ibu di negeri kita. banyak sekali ucapan selamat hari Ibu yang berteberan. senang rasanya membaca dan mendengar ucapan yang ditujukan kepada para Ibu dan semoga menjadi awal bagi kita berbakti kepada Ibu.

ga papa yah nak, kita ikut-ikutan ucapin hari Ibu. meski toh hakekatnya, hari Ibu harusnya tiap saat.

Ibumu itu nak, meski bekerja lima hari dalam seminggu selama delapan jam namun dia selalu ada untukmu. kau tidak akan pernah kekurangan sedikitpun kasih sayang dari dirinya, tidak sedikitpun nak.

tidak usah saya beberkan bukti empiris tentang betapa sayangnya Ibumu terhadapmu. nanti kau akan menjumpai momen-momen yang meyakinkanmu ucapanku ini.

drat tulisan desember 16