Hal-Hal Yang Merusak Hubungan

My son.

We are living in a modern era. Everything goes faster than before. A million kilometer of distance isn’t a problem to interact with other. We just hang up handphone and calling or even video call. It’s look easier than a few times ago. 

But in fact, it doesn’t running well. Handphone as a tool to make easy in interacting with someone, be a problem when we are meeting up with our mate. Every single people just scroll their handphone and never put it down during together. Handpone being space with them.

My dear,

This isn’t just my imagination. That phenomenon came up to me just now. I met up with my friend but his hand never put it down his handphone. He focused in his handphone while we were talking anything. It was so annoying but I let him because I don’t wanna break our friendship.

My dear.

Respectful. This is the main key what I wanna tell you. When you meet up with someone, never lost your respect to them. I ever read that Cak Nun, one of a figur in our country who I put my full respect to him, he never lost attention anyone who are talking with him and during it, Cak Nun full atention what the people saying even He is talking with insane one. He respect to all human.

My Son,

it should be like that. Do not under estimate anyone who are in touch with you. Do not forget,

your Daddy try to be.

23 9 17

Advertisements

Sehat Dan Kawan

Nak, dua hari ini, Saya diingatkan akan beberapa hal; ambisi, kawan dan sehat.

Nak, Kemarin saat di kantor, Saya mendengar berita yang lumayan membuatku shock. Salah seorang sejawatku saat masih di Kampus kabarnya mengalami buta total. Hal tersebut terjadi saat operasinya gagal. Beberapa tahun yang lalu, Saya mendengar kabar bahwa kawan tersebut mengalami masalah pada penglihatannya namun masih bisa melihat. Lama tak mendengar kabarnya sebelum akhirnya kemarin kabar mengejutkan tersebut sampai di telingaku.

Nak, Saya lumayan akrab dengannya saat masih kuliah dulu. Dia orang pertama yang datang di kosku dan mengajakku ikut berorganisasi. Orangnya cepat akrab dan punya kreativitas untuk ukuran Mahasiswa pada zaman kami. Dia pun lumayan terkenal di kalangan aktivis untuk ukuran Kampus karena kekritisannya. Saya banyak melewati waktu bersamanya dan melihat banyak hal yang sudah dikerjakannya.

Saya harus mengacungi jempol untuk kemampuan menulisnya dan kreativitas lainnya bahkan pengetahuannya tentang ekonomi politik. Idealisme sebagai Mahasiswa yang dipegangnya membuat kuliahnya dihabiskan selama 7 tahun.

Mendengar musibah yang sedang menimpanya membuatku iba karena Saya berpikir bahwa di umurnya yang masih muda, dia setahun lebih tua dariku, masih banyak hal yang bisa dikreasikan oleh pikirannya tanpa menafikan bahwa dengan musibah tersebut, dia masih tetap berkarya. Dia punya banyak mimpi tentang alternatif dunia yang dijalani tanpa dikangkangi oleh kekuatan besar Kapitas, bahkan dia sempat menjalakan usaha jualan cd di Kalimantan.

Musibah sering kali mengingatkan kita bahwa ada tangan Tuhan yang bekerja di hidup ini dan kita akan tunduk pada setiap takdirnya. Semua akan disadari ketika waktu berlalu.

Hal kedua yang membuatku merenungi tentang ambisi dan kesehatan adalah tentang salah seorang kawan yang kutemui tadi sore. Kawan yang satu ini nak juga sangat aktif saat masih kuliah. Dia punya banyak ambisi bahkan sebagian besar dari ambisinya sudah tercapai.

Dia pernah ikut pertukaran pelajar ke USA saat masih kuliah. Pernah menginjakkan kaki di Dubai dalam rangka pekerjaan dan terakhir menyelesaikan studi S2 di Australia.

Tadi sore, Dia mengajakku bertemu di sebuah mall di Jakarta Selatan. Kami mengobral ngalur ngidul namun dari rona mukanya, ada yang berbeda dari yang kukenal dulu. Kali terakhir Saya bertemu dengannya sekitar 5 tahun lalu. Wajahnya sendu tidak seperti masa lampau yang penuh ambisi dan cita. Akhirnya Dia sendiri yang bercerita kepadaku Nak tentang keadaannya.

Dia mengalami gangguan pencernaan dan sedang dalam recovery setelah operasi. Banyak pantangan makanan yang dihindari bahkan saat kuajak ngopi, Dia bercerita bahwa sudah lama tidak minum kopi akibat kondisi kesehatannya.

Dia bercerita bahwa sudah tidak terlalu banyak hal yang diingankan dalam hidupnya. Dia hanya ingin bekerja yang tidak terlalu menguras tenaga dan hidup sederhana bersama Isterinya.

Sakit adalah pengingat paling manjur ketika kita sudah terlalu jauh belok dari jalur Tuhan. Sakit mementalkan semua ambisi-ambisi semu yang kita kejar laiknya bayangan diri sendiri.

Nak, seperti seharusnya Manusia, kita sepatutnya hidup dalam keseimbangan dan sekalipun jangan coba melepaskan Tuhan dari setiap langkah.

Perjalanan hidup kedua teman Saya seperti ceritaku di atas menebalkan keyakinan kita bahwa sekuat apapun daya yang kita kerahkan untuk mewujudkan ambisi akhirnya akan terjungkal juga di depan Tuhan jika Dia menghendaki. Kita mungkin saja gagal namun sepanjang tidak meninggalkan Tuhan hanya sekedar ritual maka kegagalan tidak ada artinya begitupun kita bisa saja meraup untung dunia namun jika pada saat bersamaan usaha kita tidak dilandaskan pada kekuasaan Tuhan maka apalah artinya sukses yang semu seperti itu.

Sekali lagi Nak, jalani hidup dengan seimbang, tidak perlu terlalu ambisi mengejar cita hanya sekedar membuktikan diri kepada lainnya bahwa kita bisa namun pula jangan menjadi fatalis. Hidup seimbang antara apa yang seharusnya dijalani sebagai seorang Manusia.

Sudah dulu ya Nak. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi bincang-bincang yang lebih serius.

23 9 17

Dengki

My son,

I don’t try to be a moralist in order to telling you this story about spite. just being a normal human as usual who dislike something bad. naturally, we never deal with bad character whoever they are, but in the other side, human ocassionally doing bad to others, even visible or invisible thing in their deeply heart like envy to anyone who get pleasure.

My dear Son,

Spite is one of evil in human’s heart. for the simple example that when someone pursuit their succesfull, we are getting not good and hope that all it lost or in a worst condition, we try to stop it.

I ever in that condition until realize this life. for whole my life time, I struggle to throw back all that feeling. human must be happy when others feeling same. this life is to short if just be a selfish, or looking back to ourselves that we will feeling ungood when someone doing it to us.

My Son, this feeling grow up in our heart normally when time go fast and all of us never realize so that when the time come up, that feeling keeping up strong in our deeply heart. it getting heart to erase in a time. that’s way, before the time running so far and be a habit in our life, we have to try to left it time by time. be a good person and useful for the others.

one of the biggest and most common problem with dealing our life is that spite to achievement the other people. we forget to improving our capability to pursuit ours. it’s happen to most of human. we never find a person being success one by keeping envy to anothers.

the main point of it that never keeping up envy to others. just be yourself and thinking how to be a useful person. life will keeping run and never wait for the people who waste their oppurtunity.

My dear Son, You will be what you want.

21 9 17

 

The Expensive Baby Chek up

Anakku, Saya sampai pada detik ini percaya bahwa orang tua, terutama seorang Ibu akan melakukan apa saja untuk kebaikan anaknya. untuk hal-hal yan tak terpikirkan pun akan ditempuh.

Suatu waktu ketika Ibumu sudah menyadari kehadiranmu di perutnya, Dia mulai aktif mencari informasi tentang bagaimana menjaga janin tetap sehat bahkan mencari informasi rumah sakit yang baik untuk mengecek kandungan.

Seingat Saya, atas rekomendasi seorang kawan yang tinggal di daerah Salemba, kami memilih rumah sakit Evasari sebagai alternatif untuk memeriksa kandungan Ibumu secara rutin.

Kau tahu Nak, butuh dana berlebih sekali chek up yang terkadang membuatku berpikir bahwa Saya benar-benar sudah menjadi kaum urban yang menyerahkan waktu untuk bekerja kemudian menghabiskan hasil kerja di seputar sewa rumah, makan, liburan sampai chek up kandungan yang biayanya selangit.

Dulu di kampung, setahu Saya bahwa Ibu hamil hanya memeriksakan kandungannya setiap 2-3 bulan sekali bahkan tanpa biaya sepersenpun dan toh kandungan mereka baik-baik saja. Sedangkan Ibumu dulu diharuskan oleh Dokter chek up kandungan tiap sebulan sekali dengan aneka biaya yang harus dikeluarkan, mulai dari biaya Dokter, biaya USG, obat penguat hamil, vitamin dan macam-macam lainnya yang tak terduga. Kalau ditanya besaran biaya, tidak perlu Saya sebutkan di sini.

Nak, maksud Saya menulis cerita ini bukan untuk membandingkan atau pun menuntut apa-apa darimu namun lebih pada fenomena kaum urban, termasuk kita, yang menghabiskan waktunya bekerja kemudian hasilnya untuk biaya sehari-hari yang bahkan kadang tidak mencukupi. Menengok Masyarakat di kampung yang masih punya banyak waktu luang untuk bercengkerama dengan keluarga dan kebutuhan mereka masih terpenuhi.

Nak, begitulah perjalanan waktumu di Kandungan. Dicekoki dengan aneka obat yang merupakan resep Dokter dan anehnya Saya percaya saja tanpa merenungi bahwa Dokter sekarang bukan sekedar profesi namun lebih pada pekerjaan untuk menghasilkan uang.

21 9 17

 

Liburan

Nak, maafkan Bapakmu ini yang terlalu sering mengajakmu ke swalayan setiap kali weekend. Plesiran ke Mall sudah seperti halnya liburan bagimu meski Bapakmu sendiri tahu bahwa hal tersebut tidak terlalu baik bagi perkembangannmu.

Sekedar tahu aja nak bahwa pernah ada momen ketika Bapakmu ini masih kuliah dan memakruhkan dirinya menginjakkan kaki di Mall. Layaknya Mahasiswa yang sedang gandrung belajar dan mencoba memeluk erat idealismenya.

Ada banyak alasan pada saat itu sehingga Bapakmu berikrar untuk tidak ke mall. Pertama karena mall adalah bentuk kapitalisasi nyata di tengah Masyarakat dan mematikan ekonomi kaum menengah ke bawah. Mall menawarkan kemewahan yang tidak semua orang bisa mengaksesnya bahkan identitas Mall melanggengkan jurang antara borjuasi dan proletar. Di Mall kita akan lupa waktu Nak. Sama sekali tidak bisa dibedakan antara malam dan siang karena suasananya persis sama. Dan seabrek alasan lain yang membuatku tidak mau mengakrabi mall kali itu.

Apa daya Bapakmu yang tidak melanggengkan idealismenya sampai saat ini bahkan lebih parah karena membiasakan dirimu mengakrabi tempat seperti ini.

Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, kita sudah punya alternatif pada saat weekend yaitu menghabiskan waktu di taman namun sialnya taman terlalu jauh dari rumah kontrakan kita Nak.

Kau menyenangi taman Suropati karena ada air mancur tetapi apa daya Nak, sejak pembangunan jalan di sepanjang Mampang menyebabkan akses ke sana terlalu macet bahkan pernah suatu waktu, kita menghabiskan waktu 2 jam lebih dari Taman ke rumah yang pada normalnya hanya ditempuh kurang dari sejam. Benar-benar macetnya tengil sampai ubun-ubun.

Alasan itulah yang mendasari Saya mengalihkan weekend kita ke Mall.

Jangan khawatir Nak, jika kau sudah tumbuh, Saya ingin mengajakmu kemana saja dan tidak perlu ke tempat perbelanjaaan. Kita ke Lapangan main bola, mancing di Empang atau aktivitas apa saja yang akan membuatmu bahagia.

18 9 17

Promise

Nak, ini tentang kisah nyata yang sengaja kuceritakan kepadamu sebagai pembelajaran kita bersama bahwa ikrar yang terucap adalah sebuah keharusan yang mau tidak mau harus dipenuhi jika tidak, maka akan merusak banyak hal.

Semalam Saya janjian dengan seorang teman di salah satu hotel  di daerah Cawang. Salah seorang teman lama sekaligus mantan Supervisor waktu masih bekerja di Surabaya. Dia datang ke Jakarta dalam rangka pelatihan.

Sehari sebelumnya, Dia sudah mengabari Saya bahwa Dia ada di Jakarta dan mengajakku kopdar. Waktu luang belum ada sehingga Jum’at sesaat setelah pulang kantor, Dia langsung mengajakku mengunjunginya di Hotel tempatnya menginap karena esok hari, jadwalnya sangat padat sehingga tidak memungkinkan bertemu.

Sekira pukul 21.00 Wib. saya memaksakan diri kembali melajukan motor ke arah Cawang. Berjuang dengan puncak kemacetan Ibu Kota. Setengah jam perjalanan yang kubutuhkan untuk tiba di depan Hotel. Saya mengiriminya pesan bahwa Saya sudah di depan Hotel. 10 menit berlalu, kukirim lagi pesan namun tak kunjung dibalas, hingga akhirnya sejam menunggu, tidak ada tanda-tanda bahwa Dia akan keluar dari hotel.

Kuputuskan untuk pulang ke rumah setelah kukirimi pesan bahwa Saya pulang saja karena dia tak kunjung datang. 

Saya pulang dengan tanda tanya yang membayangiku. Apa sebenarnya yang membuatnya membatalkan janji. 

Setiba di rumah, Saya membuka hp dan membaca pesannya bahwa dia ketiduran namun tidak ada sama sekali nada sesal. 

Begitulah Nak. Kita terkadang berjanji bahkan untuk hal-hal yang dianggap remeh kemudian diingkari namun kita sama sekali tidak pernah memikirkan bahwa kesan buruk akan selalu ada di kepala ornag yang diingkari janjinya.

Sekali lagi cerita ini bukan gibah Nak atau merasa benar namun lebih pada bagaimana kita mengambil hikmahnya. Jadikan pemenuhan atas janjimu sebagai salah satu prinsip yang harus kau pegang erat. Jangan mudah berjanji jika kau merasa tidak sanggup memenuhinya.

Salah satu hal menurutku termasuk ingkar ketika berjanji bertemu dengan seseorang namun kita datang terlambat.

Penuhilah janjimu Nak dan ingatkan Saya atas semua ikrarku.

17 9 17

Jalanan (Lagi)

I have told you for many times about traffic jam and how the people handle it and deal with that condition.

I ever read a interesting article about traffic. That article elaborated how to be a good man when we are driving or going around the road. It said that we can choose will be a good or bad.

Last night when I went back to home, suddenly there was a motorcycle slipped in front of me. Some driver help him then he can drive again his motorcycle.

In the other case, Its common phenomena in this city when we stuck in traffic jam, mostly of driver ringing their horn more and more but at the same side, they know that its getting crowded thats why cars and motorcycles cant move quickly.

My son, Thats I Mean we can choose what we are in a traffic. Being good or a damn one.

16 9 17

Kerudung

Kita bercerita tentang sesuatu yang sedikit agak membuat kening kita berkerut Nak. Fenomena yang biasa ditemui di tengah Masyarakat.

“Jilbab.” Saya tidak sedang ingin membahasa tentang perdebatan pada wilayah syariah, apakah jilbab itu wajib atau tidak seperti yang masih menjadi perbincangan hangat sampai saat ini. Saya sama sekali tidak punya kapabilitas dalam hal itu.

Mengapa Saya bercerita kepadamu tentang jilbab? Dikarenakan kemarin Saya membaca sebuah status yang secara tersirat “merendahkan” perempuan berjilbab. Sebenarnya dia hanya ingin mengkritisi seorang yang tidak mematuhi norma yang lazim di tengah Masyarakat. Seseorang Perempuan yang kebetulan berjilbab. Tidak salah sih mengkritisi perilaku siapapun sepanjang memang keliru namun penekanannya di Jilbab membuatku risih.

Sementara di lain waktu, “Mereka” para perempuan yang belum berjilbab selalu mempertahankan pendapatnya bahwa jilbab sama sekali tidak ada hubungannya dengan tingkat kesalehan seorang Perempuan. Mereka sangat meyakini hal tersebut dan menganggap picik orang yang mensejajarkan jilbab dengan derajat kesalehan.

Amat sangat paradoks dengan kritikan mereka terhadap perilaku seorang Perempuan berjilbab yang tindakannya kebetulan tidak sesuai dengan norma di tengah Masyarakat namun kritikan Mereka ditekankan pada jilbab seakan Mereka ingin berkata bahwa yang berjilbab seharusnya sudah tidak melakukan pelanggaran norma. Ironis kan Nak.

Sudah mumet Nak? Kalau belum, mari kuta lanjutkan perbincangan yang sok-sok an ini.

Saya sendiri berpendapat bahwa identitas jilbab tidak harus menjadikan penggunanya berbeda dengan yang belum mengenakannya atau bahkan tidak mengenakannya karena memang agamanya tidak menganjurkan namun jika kau tanya kepada Saya Nak tentang jilbab maka Saya sampai saat ini berpendapat bahwa Jilbab sebaiknya dikenakan oleh Perempuan yang sudah akil baliqh. Jilbab yang menurur Saya pantas dan umum di Negara kita. Bukan jilbab yang menurutku terlalu berlebihan dan bukan pula jilbab yang terlalu minim bahkan tidak lebih hanya seperti kain gorden yang dililitkan di kepala.

Begitulah mungkin perbincangan kita mengenai jilbab. Oh iya, Ibu dan Nenekmu berjilbab namun jilbab mereka seperti pada umumnya perempuan berjilbab di kampung-kampung.

15 9 17

 

HP

Nak, kita sedang berada di zaman yang katanya maju tetapi kalah atas hal-hal picisan. zaman yang terlalu banyak rintangan untuk melakukan hal-hal baik. zaman di mana Saya menjadi bocah, permainan paling menyenangkan adalah berlari dan menendang bola di lapangan sampai adzan maghrib berkumandang atau menarik layangan di sawah ataupun tanah lapang.

Nak, zaman terlalu cepat berputar dan kau ditakdirkan hidup di masa ketika interaksi antara manusia terbatasi oleh dunia digital yang menawarkan mimpi namun miskin kebahagiaan.

Setiap orang sibuk menggerakkan jemarinya di atas benda kecil sehingga lupa sedang berada atau bahkan lupa sedang bersama siapa. jangan tanya ayahmu ini Nak, Saya adalah salah satu dari mereka yang telah menjadi budak benda tersebut. setiap ada waktu luang, tanganku secara otomatis mencari hp dan melihat apa saja yang ditawarkan di dalamnya meski Saya sadari bahwa hal tersebut hanyalah absurditas.

Nak, untuk dirimu yang sedang tumbuh, jangan biarkan dirimu larut dalam pengaruhnya. tapi toh itu tugas Saya untuk membiasakan dirimu tidak terlalu mencandui barang tersebut.

Saya pun sudah beribu kali berjanji untuk membatasi diri atas penggunaannya untuk hal yang tidak berguna namun tetap saja godaannya terlalu kuat.

Nak. kuatkan dirimu untuk menjalani hidup ini,

15 9 17

Kecewa

My son. As a human, it’s normally when we are fail and getting disappointed. You and all the human feel it. We can’t deny that condition.

Depend on the person how to handle theirselves. Whether they do something bad or positif thinking for what they are.

Yesterday, it’s condition was come up in my life. As I told you before that I would take a test and then, I’m getting failed in a test. I felt like a man who are got desperate. Feeling so bad even I rode my motorcycle faster than usual. I came back to our home and blame myself, take a pray in the end of time and thinking more and more why I Couldnt pass the test.

Finally I realize that I cant change the reality. I accept it and try to handle my heart. Maybe It’s not suitible for me. In fact, in every prayer, I beg God to give me something good according to Him. God know me so well. I can’t pass the test because maybe the job have something bad for me.

Indeed, the announcement havent launched but when I have done the test, computer show my grade below the standard of the test result. But who know, maybe any miracle when announcement declared.

The final result of the test will be announched a few weeks ahead. I’m still hope a miracle and hope so I can pass the first test. Ameen.

13 9 17